#
Ilustrasi, ada kesenjangan antara kebutuhan industri digital dengan lulusan perguruan tinggi atau sekolah kejuruan. (Dok.Vandatone).

Ada Kesenjangan antara Kebutuhan Industri Digital dengan Lulusan Perguruan Tinggi
BPS mencatat, tingkat pengangguran terbuka menurun, tetapi pengangguran lulusan diploma dan sarjana meningkat

EmitenNews.com – Ada kesenjangan antara kebutuhan industri digital dengan lulusan perguruan tinggi atau sekolah kejuruan. Akibatnya, meskipun Badan Pusat Statistik mencatat ada penurunan tingkat pengangguran terbuka, dari 7,04 juta orang, Agustus 2017 jadi 7 juta, Agustus 2018, namun pengangguran lulusan diploma dan Sarjana meningkat.

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Program Prioritas dan Ekonomi Digital, Lis Sutjiati, di Jakarta, Kamis (11/4/2019), memprediksi hingga 2030 mendatang angka kesenjangan mencapai 9 juta tenaga kerja. Jadi, setiap tahun ada sekitar 600.000 gap antara kebutuhan industri dengan tenaga kerja yang tersedia. Karena itu, kata dia Go-Jek nyari tenaga kerja sampai India.

Indonesia masih membutuhkan waktu untuk bisa memenuhi kebutuhan industri digital tersebut. Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah menggandeng 28 universitas dan perusahaan swasta digital internasional menyiapkan tenaga kerja terampil. Pihak perusahaan swasta seperti IBM akan menyiapkan kurikulum, universitas menyediakan tenaga pendidik.

Program Digital Talent Scholarship ini mengajarkan topik mulai dari kecerdasan artifisial hingga mechine learning untuk memenuhi kebutuhan industri digital. Programnya ditujukan kepada 25 ribu lulusan SMA hingga pekerja terpilih. Mereka yang mendapatkan beasiswa selama dua bulan itu, dihubungkan dengan perusahan digital yang sudah bekerja sama dengan Kemenkominfo.

Informasi yang dikumpulkan sampai Jumat (12/4/2019), bekerja di lingkungan start up, salah satu pilihan berkarier untuk anak muda usia 20-an tahun. Karena perkembangan industri digital yang semakin masif, membuat pekerja start up, utamanya yang bergelar unicorn sebuah kebanggaan tersendiri.

Laporan iPrice menyebutkan, secara regional, Lazada memiliki jumlah karyawan terbanyak, 6.659 per Oktober 2018. Shopee, 3.381 orang. Untuk start up dalam negeri, Tokopedia dengan 2003 karyawan, Zalora (1.715), dan Bukalapak (1.887). E-commerce lain, 3.454 karyawan.

Sejak 2016, laporan itu menyebutkan para e-commerce juga berlomba-lomba merekrut karyawan. Shopee dengan presentase perekrutan paling besar,  meningkat 176,8 persen dari 2016. Tokopedia dan Bukalapak masing-masing konsisten merekrut karyawan sejak 2016, dengan peningkatan 126 persen dan 134,7 persen.

Namun, fakta yang ada menunjukkan, kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai kriteria, dan posisi masih kurang juga, meskipun para e-commerce berlomba-lomba merekrut karyawan untuk berbagai posisi. Itulah salah satu tantangan yang membuat penyerapan tenaga kerja pada perekonomian digital belum cukup memberi perubahan masif. ***

 

Check Also

Keseriusan Pemerintah Mendorong Penggunaan Mobil Listrik untuk Ciptakan Udara Bersih Dipertanyakan
Pengenaan bea masuk dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk impor membuat mahal harga mobil listrik

EmitenNews.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Igansius Jonan mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *