BBKP Target Efisiensi Biaya Rutin sebesar 10 Persen pada 2018

Efisiensi Biaya Operasional Terealisasi sebesar 5 Persen per April 2018

RS gen

Berita Emiten, Emiten Update Tuesday, 15th May 2018 1:12:59 PM • 6 days ago


EmitenNews– PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) melakukan efisiensi. Biaya operasional bank terafiliasi dengan grup Bosowa itu turun sebesar 5 persen dalam empat bulan di awal tahun 2018.

Sepanjang empat bulan pertama 2018, biaya operasional BBKP sebesar Rp859 miliar dibandingkan Rp907 miliar pada periode sama tahun 2017.

Sejumlah inisiatif diakui telah dilakukan untuk meningkatkan efisiensi di antaranya melalui digitalisasi Core Banking System yang berdampak pada efisiensi proses bisnis produk.

”Dengan penerapan digitalisasi Core Banking, telah terjadi migrasi transaksi dari outlet (kantor) ke electronic channel lainnya sebesar 30 persen,” ujar Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi BBKP, Adhi Brahmantya, dalam keterangan resminya, hari ini (15/05).

Selain itu, melalui peluncuran produk digital Wokee, Bank Bukopin juga melakukan simplifikasi proses bisnis dan operasional. Antara lain dengan efisiensi dalam pembukaan tabungan, transaksi tanpa buku, dan kartu ATM (cardless).

Wokee merupakan produk perbankan tabungan digital BBKP. Layanan tersebut menyediakan sejumlah fitur berbasis digital, mulai dari pembukaan rekening hingga transaksi perbankan secara online.

Langkah efisiensi juga dilakukan Perseroan melalui evaluasi atas sejumlah biaya rutin perusahaan. ”Melalui langkah tersebut, selama empat bulan pertama tahun ini Perseroan berhasil menekan biaya rutin. Kami menargetkan penurunan biaya rutin sebesar 10 persen hingga akhir tahun 2018,” tekadnya.

Selain melakukan efisiensi, BBKP juga telah melakukan diversifikasi pendapatan secara bertahap melalui peningkatan fee based income.

Upaya untuk memacu pendapatan non bunga dilakukan melalui peluncuran produk Flexy Bill, peningkatan volume bank garansi, transaksi public service, wealth management, serta program peningkatan usage kartu kredit.

Serangkaian langkah tersebut diklaim berdampak pada peningkatan fee based income Perseroan sebesar 41 persen dari Rp252 miliar per April 2017 menjadi Rp354 miliar pada April 2018.

”Saat ini Bank Bukopin melayani lebih dari 12 juta pelanggan ritel setiap bulannya melalui 20.000 titik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk transaksi public service,” ucapnya.

Khusus untuk Flexy Bill yang baru diluncurkan Maret 2018 untuk melayani kebutuhan nasabah dari kalangan usaha produktif, Adhi mengungkapkan sejauh ini layanan tersebut telah mendapat respon positif dari nasabah.

Flexy Bill merupakan produk dana talangan pembayaran tagihanpublic serviceuntuk segmen kalangan usaha produktif, di antaranya pada sektor manufaktur dan jasa.

Sebagai dampak dari penurunan biaya operasional dan peningkatan fee based income, hingga April 2018 telah terjadi peningkatan laba sebelum CKPN Perseroan sebesar 33 persen (year-on-year), yaitu dari Rp268 miliar pada April 2017 menjadi Rp355 miliar per April 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *