Begini Perkembangan Transaksi Pinjam Meminjam Saham pasca Tertekan Krisis Finansial 2008

KPEI, Pihak Resmi Penyelenggara Transaksi Pinjam Meminjam Efek

RS gen

Regulator Update, Self Regulatory Organizations (SRO) Wednesday, 25th April 2018 11:58:28 AM • 7 months ago


EmitenNews – PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) mendorong pemanfaatan transaksi Pinjam Meminjam Efek (PME) atau biasa juga disebut Securities Borrowing and Lending (SBL). Fasilitas yang menawarkan keuntungan bagi anggotanya itu mulai bangkit setelah sempat sepi diterpa krisis finansial pada tahun 2008.

Data KPEI mencatat nilai transaksi PME sebesar Rp187,74 miliar sepanjang Januari – Desember 2017. Berkurang dibandingkan Rp279,51 miliar pada periode sama tahun 2016 namun lebih tinggi dibandingkan Rp93,11 miliar pada 2015.

Khusus pada 2017, nilai rata-rata harian transaksi PME mencapai Rp514,36 juta dengan volume 146.475 lembar saham dengan total 365 jumlah hari transaksi. KPEI menjadi penyelenggara transaksi PME sejak 2001. Sejak saat itu, transaksi yang banyak dimanfaatkan Anggota Kliring (AK) dalam rangka mismatch agar tidak terjadi gagal serah pasca transaksi saham, itu mulai ramai.

Saat krisis global tahun 2008, layanan transaksi PME sempat dihentikan. Hal tersebut dilakukan sebagai antisipasi dan melihat tren regulator di pasar modal global yang menghentikan aktivitas transaksi PME saat krisis itu melanda.

Dikhawatirkan PME lebih dominan dilakukan untuk kepentingan transaksi short selling yang bisa membuat market kian tertekan.  ”Saat terjadi penurunan tajam, market pada tahun tersebut memang masih ada yang ingin transaksi tapi kita tidak bisa melayani,” ungkap Kepala Divisi Kliring, Penyelesaian dan PME KPEI Suryadi, saat berbincang dengan EN di kantor KPEI, Jakarta, Selasa (10/04).

Dalam situasi yang kian kondusif, perlahan transaksi PME mulai bangkit. Pada dasarnya karena memang ada kebutuhan (demand) dan keuntungan tambahan bagi pemilik saham yang meminjamkan (supply). ”Daripada sahamnya disimpan, lebih baik dipinjamkan ke KPEI. Menambah supply saham yang dipinjamkan juga,” Suryadi menyarankan.

Dari sisi pemberi peminjam (Lender), keuntungan diraih berupa fee sebesar 12persen pa. Dasar perhitungannya: harga closing saham yang dipinjamkan dikali jumlah saham dipinjamkan dikali 12persen dibagi 360 (jumlah hari dalam setahun). ”Kalau tiga hari ya tiga dikali 12persen (hari libur dihitung),” imbuhnya.

“Saat ini, durasi transaksi PME minimal sehari dan maksimal 90 hari. Kebanyakan AK memanfaatkan durasi yang sehari, begitu pula yang empat hari,” ungkapnya. Investor ritel lebih mendominasi layanan PME dibandingkan institusi.

Ilustrasi PMEI: KPEI

 

KPEI sebagai penyelenggara PME, menjamin kepemilikan dan seluruh hak yang melekat pada pemilik saham sesungguhnya saat saham dalam status dipinjamkan. Mulai dari hak dividen sampai aksi korporasi emiten dari saham yang dipinjamkan seperti stock split.

Dalam hal terjadinya pembagian dividen, pembayaran dividen oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebenarnya diserahkan ke peminjam. Sebab data di KSEI akan mencatat posisi terakhir pemegang saham yang berhak menerimanya (recording date).

”Tapi, di KPEI kan ada catatannya. Nah di situ, ada penggantian dividen karena uangnya kita mintakan dari peminjam (Borrower). Dan dikasihnya juga gross (kotor) supaya tidak terjadi double taxation (pajak ganda),” Kepala Unit Pinjam Meminjam Efek dan REPO KPEI, Rachmadewi Sjahesti, menambahkan.

KPEI telah memiliki sistem yang dilengkapi fitur untuk menangani collateral, dividen, fee, dan lainnya terkait dengan transaksi PME. ”Secara otorisasi, KPEI sebagai salah satu Self-Regulatory Organizations (SRO) mendapatkan mandat untuk itu. Jadi aman,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *