Begini Respon Menko Ekonomi Soal Data RI Pengimpor Gula Terbesar Dunia

Darmin Nasution memastikan besarnya importasi gula Indonesia untuk kebutuhan industri, bukan konsumsi

M Nasir

Ekonomi Update, Makro & Moneter Wednesday, 9th January 2019 9:08:23 PM • 2 weeks ago


EmitenNews – Begini tanggapan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution merespon data Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di dunia pada 2017-2018, yang mencapai 4,45 juta ton. Ia memastikan, besarnya angka impor RI itu bukanlah gula konsumsi, tetapi gula industri.

Kepada wartawan di Jakarta, Rabu (9/1/2019), Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, Indonesia tidak mengimpor gula konsumsi. Yang ada, gula industri untuk kebutuhan industri. Karena itu, importasinya atas rekomendasi dari Kementerian Perindustrian.

Memasuki tahun 2019, impor gula masih akan berlanjut. Pemerintah akan membuka keran impor Gula Kristal Rafinasi (GKR) sebanyak 2,8 juta ton. Alokasi impor gula ini turun 28,5 persen dari impor GKR tahun 2018, yakni sebanyak 3,6 juta ton.

Ekonom Faisal Basri menyoroti angka impor gula Indonesia sesuai data yang dirilis oleh Statiska itu: Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar dunia pada 2017-2018, yang mencapai 4,45 juta ton. Impor RI lebih besar dari China 4,2 juta ton, Amerika Serikat 3,11 juta ton, hingga Uni Emirat Arab 2,94 persen.

Pertengahan tahun lalu, tepatnya Kamis (7/6/2018), perwakilan petani tebu rakyat yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), mendatangi Istana Negara, Jakarta. Mereka melapor kepada Presiden Joko Widodo atas kondisi yang dihadapi para petani tebu rakyat.

Ketua Dewan Penasehat DPP APTRI, Arum Sabil, ketika itu mengungkapkan, sengaja ke Istana agar Presiden tahu seperti apa kondisi para petani tebu di lapangan. Ada sejumlah poin aspirasi para petani yang disampaikan kepada Presiden, melalui Kepala Staf Presiden RI Moeldoko yang menemui mereka.

Antara lain, kebijakan harga pangan murah agar diterapkan berkeadilan, dengan tetap menjaga dan melindungi petani dengan jaminan kepastian dan memiliki nilai ekonomi memberdayakan. Lalu, Harga Eceran Tertinggi (HET) gula Rp12.500 ditinjauulang. Biaya produksi gula petani sudah Rp9.700-Rp10.500 per kg.

Lainnya, penetapan HET Gula hendaknya berkeadilan dan wajar, untuk menjaga kepentingan petani dan konsumen. Idealnya, Rp15.000 per kilogram. Para petani rakyat juga meminta, agar pembelian gula petani yang melalui Bulog harus dibebaskan dari pungutan PPH.

Mereka juga meminta monopoli istilah penjualan gula curah yang hanya bisa dilakukan Bulog agar dicabut. SNI Gula juga harus dicabut karena penerapannya hanya berdasarkan kualitas warna, bukan tingkat higienitas dan kelayakan dari sisi kesehatan untuk konsumsi manusia.

Yang tidak kalah penting, petani tebu berharap KPK dan Satgas Pangan, agar bersinergi dalam memberantas dan membongkar sindikat mafia gula impor, dengan modus investasi industri gula dalam negeri. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *