#
Main Hall BEI, Jakarta. Foto : EN

BEI: Kepercayaan Diri Pemerintah Meningkat Jadi Sentimen Positif

EmitenNews – Bursa Efek Indonesia (BEI) memandang positif keputusan Bank Indonesia (BI) menahan level suku bunga acuan. Kebijakan bank sentral dan pemerintah belakangan dinilai sebagai cerminan confidence (kepercayaan) dan diharapkan berdampak positif ke pasar modal.

Hasil Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan menahan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate di level 4,75 persen hari ini (15/06) dan akan berlaku efektif pada Jumat (16/06). ”Prinsipnya memerlihatkan confidence pemerintah. Lagipula kalau kita lihat dari yang berbentuk angka saja ya; Rupiah, Loan to Deposit Ratio, inflasi, secara umum bagus,” ungkap Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, saat buka puasa bersama BEI dengan media di gedung BEI, hari ini.

Memang, secara historis, jelang lebaran biasanya impor naik. Tapi dengan potensi itu saja BI masih memutuskan menahan level suku bunga acuan maka menurut Tito memerlihatkan sebuah kepercayaan diri yang besar.

Terkait dengan nilai tukar Rupiah, Tito sependapat dengan pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dan BI bahwa mata uang dalam negeri masih bisa dijaga dalam posisi stabil. Kurs tengah BI hari ini mencatat Rupiah menguat ke level 13.282 per dolar Amerika Serikat (USD) dibandingkan 13.286 per USD pada hari sebelumnya.

Tito melihat pasar saham juga menunjukkan hal sama. Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih mampu bergerak di atas level psikologis 5.700 dengan nilai transaksi secara rata-rata di atas Rp 7 triliun. ”Itu masih bagus,” tegasnya.

Pada penutupan perdagangan hari ini (15/06) IHSG turun 16,614 poin (0,287 persen) ke level 5.776,283. Investor asing melakukan penjualan bersih sebesar Rp 269,8 miliar hari ini sehingga pembelian bersih oleh investor asing secara year to date sejak awal tahun berkurang menjadi Rp 19,530 triliun.

Dari sisi ekonomi, hal yang masih menjadi pertanyaan dalam jangka pendek ini adalah terkait distribusi pangan jelang lebaran. Dari aspek sosial dan politik adalah terkait stabilitas politik. Termasuk juga dampak pemilu langsung kelak karena untuk kali pertama baru digelar secara serempak antara Pilpres dan Pileg pada 2019.

”Proses menuju pemilu sudah mulai tapi biasanya pasar modal tidak terpengaruh. Tapi sekarang kan rencananya akan serempak nah kita tidak tahu dampaknya akan seperti apa karena belum ada historisnya. Belum ada pengalaman. Kita lihat apakah ada dampak atau tidak karena kebutuhan dana pemilu serempak mungkin lebih besar,” Tito memerkirakan.

Dulu, masih mungkin banyak dana yang dipergunakan untuk gelaran politik berasal dari dana simpanan di luar lembaga keuangan. Istilahnya uang dari bawah bantal. Tapi pasca program amnesti pajak, semua harta sudah terdeklarasi sehingga tidak ada lagi yang disembunyikan. ”Nah itu kita mesti lihat apakah ada dana yang akan ketarik dari pasar modal atau tidak,” terusnya.

Check Also

Penjualan Naik Tipis Namun Laba Unilever Indonesia (UNVR) Turun 1,29 Persen di Kuartal III-2020

EmitenNews.com- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada akhir September tahun 2020 mencatatkan laba tahun berjalan …

%d bloggers like this: