Benny Tjokro di Bisnis Properti: Warisan Batik Keris dan Menunggang Kuda Ciputra

Terinspirasi James Riyadi Kembangkan Lippo Karawaci

RS gen

Inspirasi, Sosok Thursday, 8th March 2018 9:33:16 AM • 4 months ago


EmitenNews – Nama Benny Tjokrosaputro (Tjokro) cukup beken sebagai investor dan trader di pasar saham Indonesia. Kini, salah satu pewaris bisnis Batik Keris asal Solo itu berkomitmen menjadi pebisnis properti secara jangka panjang “berkendara” PT Hanson International Tbk (MYRX).

Keputusan Benny Tjokro terjun langsung dan serius di bidang pengembang kawasan dan perumahan memang terkesan baru. Namun cikal bakalnya sebenarnya sudah sejak lama, saat keluarganya tengah membesarkan usaha batik.

Sekitar 30 tahun lalu, saat Batik Keris mulai giat ekspansi produksi dan penjualan, Kasom Tjokrosaputro, sang pendiri Batik Keris yang merupakan ayah dari Benny Tjokro sering dipusingkan dengan ketersediaan lahan. Terutama untuk pabrik tekstilnya.

”Setiap mau buka pabrik atau tempat produksi baru itu kan butuh lahan cukup besar. Setiap mau beli tanah, harganya terus naik. Ya sudah akhirnya tiap ada peluang beli tanah dan tempatnya layak ayah saya beli,” kisah Benny pada acara Hanson Quantum Leap “Fundamental Step for Better Future” di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (07/03).

Seiring berjalan waktu, tanpa terasa, kepemilikan tanahnya semakin banyak. Dimulai di Solo. Lahan itu kemudian dinilai cukup untuk menjadi real estate dan kemudian dibangun. ”Real Estate pertama di Solo. Solo Baru. Kira-kira umurnya setua kawasan perumahan Pluit kalau di Jakarta,” ucapnya.

Dari situ, pikir Benny seperti juga dirasakan orangtuanya, jualan perumahan ternyata lebih menguntungkan dibandingkan jualan kain. Tapi bukan lantas bisnis batik ditinggalkan.

Sejalan dengan ekspansi Batik Keris, pembelian lahan kemudian dilakukan di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Termasuk di Serpong dan Maja di Tangerang, Banten, yang kini menjadi landbank terbesar MYRX.

Dari situ juga Benny muda melihat dan belajar bagaimana James Riyadi melalui Lippo group mengembangkan Karawaci menjadi kawasan mandiri seperti saat ini. ”Dulu saya diajak ayah saya ke sana, yang terlihat itu hanya kerbau dan tanah becek,” kenangnya.

Di situ lah justru poin utama dari bisnis properti. Mampu melihat dan menganalisa prospek secara jangka panjang di saat orang lain belum tentu menyadarinya. Harga tanah masih murah sehingga berpeluang memiliki dalam ukuran besar dan prospektif.

Dimulai dari Karawaci, kawasan itu ternyata kini didukung pengembangan kawasan lainnya mulai dari Bintaro, BSD, dan Serpong sehingga terhubung. Dibantu pula dengan akses tol dan jalur kereta.

Benny semakin mantap menatap bisnis pengembang itu dengan melancarkan aksi korporasi penerbitan saham baru (right issue) oleh MYRX sebesar Rp4,5 triliun pada 2013 dan memulai dengan 3.000 hektar lahan di Serpong dan Maja. Kini bertambah landbanknya menjadi sekitar 4.000 hektar.

Awalnya sempat dipertanyakan banyak pihak. Sebab belasan tahun developer di Maja rata-rata bangkrut. Sulit menjual produk properti di sana.

”Tapi saya pikir dulu mungkin di sana belum economic scale. Apalagi yang dekat saja harga propertinya masih murah. Lha sekarang di BSD atau Serpong saja sudah mahal. Masyarakat menengah ke bawah sulit beli rumah di sana. Pilihannya ya ke Maja,” pikirnya.

Tapi tetap saja Benny tidak mau gegabah dan tidak boleh terlalu percaya diri. Maka diputuskan lah menggandeng Ciputra untuk proyek perumahan di Maja itu.

Reputasi dan nama besar Ciputra penting untuk MYRX melangkah lebih jauh. ”Kita sadar betul membangun brand itu bukan simsalabim. Butuh puluhan tahun. Dedikasi seumur hidup. Cara tercepat ya menunggang kuda (kebetulan simbol di rata-rata perumahan Ciputra adalah kuda berlari) kira-kira begitu,” Benny mengakui.

Foto: Armidian Karyatama (ARMY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *