BI: Depresiasi Nilai Tukar Ringgit, Baht, dan Dolar Singapura Lebih Dalam Dibandingkan Rupiah

Faktor Fundamental Dalam Negeri Positif

RS gen

Ekonomi Update, Makro & Moneter Thursday, 26th April 2018 8:18:28 PM • 3 weeks ago


EmitenNews – Bank Indonesia (BI) menilai depresiasi terhadap nilai tukar Rupiah hingga mendekati 14.000 per dolar Amerika Serikat (USD) bukan karena faktor internal. Penyebabnya adalah penguatan USD terhadap hampir semua mata uang dunia (broad based).

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam keterangan resmi hari ini (26/04) mengungkapkan penguatan USD itu merupakan dampak dari berlanjutnya kenaikan yield UST (suku bunga obligasi negara AS) hingga mencapai 3,03 persen. Tertinggi sejak 2013.

Selain itu, depresiasi rupiah juga terkait faktor musiman permintan valas yang meningkat pada triwulan II. Antara lain untuk keperluan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) dan pembiayaan impor dan dividen.

Sebaliknya dari dalam negeri beberapa faktor penting masih positif. Fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang kuat:

  • Inflasi masih sesuai dengan kisaran 3,5+1 persen.
  • Deficit transaksi berjalan lebih rendah dari batas aman 3 persen PDB.
  • Momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut diikuti oleh struktur pertumbuhan yang lebih baik.
  • Stabilitas sistem keuangan yang tetap kuat.
  • Kepercayaan asing juga terus membaik yang tercermin pada upgrade rating Indonesia oleh Moody’s, JCRA, dan R&I serta dimasukkannya obligasi negara ke dalam Bloomberg Global Bond Index.
  • Sampai dengan hari Rabu (25/04), menurut Perry, tekanan masih berlanjut. Rupiah pada tanggal 25 April 2018 terdepresiasi sebesar -0,23 persen atau turun -1,09 persen (month to date/mtd).

Depresiasi rupiah itu masih lebih rendah dibandingkan dengan depresiasi mata uang negara Asia lain termasuk Thailand THB (-1,14 persen, mtd), Malaysia MYR (-1,23 persen, mtd), Singapore SGD (-1,24 persen, mtd), Korea Selatan KRW (-1,58 persen, mtd), dan India INR (-2,57 persen, mtd).

”Dengan memerhatikan perkembangan tersebut, Bank Indonesia telah melakukan langkah-langkah stabilisasi baik di pasar valas maupun pasar SBN (dual intervention) untuk meminimalkan depresiasi yang terlalu cepat dan berlebihan,” ungkapnya.

Ke depan, untuk memerkuat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dengan tetap mendorong mekanisme pasar, BI akan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :

  • Senantiasa berada di pasar untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valas maupun rupiah;
  • Memantau dengan seksama perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik;
  • Mempersiapkan 2nd line of defense bersama dengan institusi eksternal terkait;
  • Apabila tekanan terhadap nilai tukar terus berlanjut serta berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan menganggu stabilitas sistem keuangan, yang merupakan mandat BI, BI tidak menutup ruang bagi penyesuaian suku bunga kebijakan BI7DRR.
  • ”Kebijakan ini tentunya akan dilakukan secara berhati-hati, terukur, dan bersifat data dependence, mengacu pada perkembangan data terkini maupun perkiraan ke depan,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *