#
Susanna Main Hall BEI, Jakarta. Foto : EN

Bursa Saham Indonesia Kejar Market Cap Perbankan dan Bursa Singapura

EmitenNews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pertengahan pekan ini menembus level tertinggi sepanjang masa. Pada penutupan perdagangan hari ini (21/06) indeks saham acuan itu ditutup menguat 26,648 poin (0,460 persen) ke level 5.818,552.

Nilai kapitalisasi pasar saham (market cap) juga ditutup menembus Rp 6.357 triliun dan merupakan rekor tertinggi. Pada hari ini, volume saham ditransaksikan mencapai 17,518 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 269.171 kali atau senilai Rp 10,385 triliun.

Investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 194,7 miliar hari ini. Secara year to date pembelian bersih oleh investor asing tercatat sebesar Rp 19,393 triliun penutupan hari ini.

Penguatan IHSG hari ini terjadi di tengah merahnya mayoritas indeks saham unggulan di Asia. Indeks Straits Times turun 0,89 persen, indeks Nikkei 225 turun 0,45 persen, dan indeks Hang Seng turun 0,57 persen. Sebaliknya indeks Composite Shanghai naik 0,52 persen.

Secara year to date IHSG sudah membukukan kenaikan sebesar 9,85 persen. “Impian saya yang belum tercapai adalah mempunyai kapitalisasi pasar yang lebih besar dari total aset perbankan. Total aset perbankan itu Rp 6.750 triliun, itu yang pengen kita capai,” ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio, di gedung BEI, hari ini.

Saat ini, menurutnya, dengan nilai market cap sebesar Rp 6.500 triliun pada asumsi kurs seperti sekarang maka pasar saham Indonesia kedua terbesar di bawah Singapura di Asean. “Singapura itu USD 600 miliar. Kenapa? Karena ada 250 perusahaan Tiongkok yang listing di sana. Lokalnya saja sebetulnya nggak besar,”ungkapnya.

Kenapa perusahaan Tiongkok masih enggan listing di Indonesia? Kata Tito, karena ada dua hal. Pertama, Perusahaan yang boleh listing di Indonesia adalah Perseroan Terbatas (PT). Harus berbadan hukum Indonesia.

Harmonisasi peraturan terkait faktor pertama itu sudah panjang. “Kalau perusahan Indonesia mau ke Singapura bisa, karena ada perbedaan sistem hukum. Mereka ke kita nggak bisa karena sudah disebut yang bisa listing itu PT, perseroan terbatas, di Undang Undang (UU)nya,”terusnya.

Jika kebijakan UU terkait PT itu mau diganti maka rentetannya panjang. UU pasar modal akan kena, UU Tenaga Kerja kena. “Kalau orang asing ke Indonesia, kami sudah punya yang namanya IDR (Indonesian Depository Receipt). Bagaimana caranya? Sahamnya itu dimasukkan satu PT Indonesia kemudian PT Indonesia itu yang listed. Sudah ada, tapi nggak ada yang mau, karena sulit,” tuturnya.

Faktor kedua, market di Indonesia masih relatif kecil. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, kata dia, market lebih besar sehingga jadi pilihan perusahaan multinasional. “Jadi kita harus perbesar pasar kita dulu di sini,” tegasnya.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat, mengatakan terkait dengan kenaikan IHSG belakangan ini tidak terlepas dari fundamental emiten yang terus membaik. “Fundamental emiten positif tidak terlepas dari ekonomi dalam negeri yang juga positif,” terangnya.

Samsul melihat tidak ada hal negatif dari fundamental ekonomi Indonesia saat ini. Rating sudah membaik dan yang terbaru, Fitch Ratings juga berpotensi menaikkan peringkat kredit Indonesia. “Momentum itu yang dimanfaatkan investor,”ucapnya.

Check Also

Jangan Ragukan Penunjukan Ulin Yusron Sebagai Komisaris Independen ITDC
"Ulin ini kan berpengalaman di media ya. Mungkin kamu nggak pernah tau juga kalau dia itu adalah pendiri Berita Satu. Berita Satu itu yang buat dia, sebelum dibeli oleh Lippo," ujar Arya Sinulingga

EmitenNews.com – Jangan ragukan penunjukan Ulin Ni’am Yusron sebagai Komisaris Independen PT Pengembangan Pariwisata Indonesia …

%d bloggers like this: