Ilustrasi pekerja di perkebunan kelapa sawit. (Dok. Satu Harapan).

Ini Bentuk Perlawanan Indonesia atas Diskriminasi Kelapa Sawit Oleh UE
Negara produsen kelapa sawit menentang keputusan Uni Eropa yang melarang penggunaan CPO untuk biodiesel

EmitenNews.com – Ini bentuk perlawanan Indonesia terhadap diskriminasi kelapa sawit andai Uni Eropa mengadopsi Delegated Act. Indonesia dan negara produsen kelapa sawit lainnya menentang keputusan pelarangan penggunaan Crude Palm Oil (CPO) untuk biodiesel. Apalagi karena UE memasukkan kelapa sawit sebagai komoditas berisiko tinggi penyebab deforestasi.

“Kita sudah sampaikan secara jelas akan mereview hubungan ekonomi dengan Uni Eropa,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution di kantornya, Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Indonesia mengancam mengkaji ulang kerja sama ekonomi dengan Uni Eropa. Ancaman itu disampaikan Menko Perekonomian saat menyambangi Parlemen UE, di Brussel, Belgia. Sejak pekan lalu, Indonesia, Malaysia, dan Kolombia membentuk misi diplomasi menentang diskriminasi kelapa sawit oleh Uni Eropa.

Indonesia berkomitmen kuat melawan diskriminasi kepala sawit oleh Eropa. Indonesia bersama produsen kelapa sawit lainnya bertekad melawan pelarangan penggunaan CPO untuk biodisel dan menentang isu deforestrasi komoditas kelapa sawit.

Berdasarkan studi International Union for Conservation of Nature (IUCN), kelapa sawit jauh lebih efisien, 9 kali lebih efisien dari sisi penggunaan lahan, dibandingkan komoditas penghasil minyak nabati lainnya. Jadi, tidak benar kalau UE terus mengangkat isu deforestasi, dan melarang minyak kelapa sawit untuk bahan biodiesel. UE dinilai takut bersaing, dan hanya melindungi produk minyak nabati dari bunga matahari dan lainnya.

“Kami pasti mengambil langkah tegas, begitu Delegated Act itu diadopsi oleh Parlemen Eropa dua bulan dari sekarang,” kata Darmin Nasution.

Staf Khusus Menteri Luar Negeri Peter F Gontha mengatakan, pihaknya langsung ditelepon dan dikunjungi Duta Besar Uni Eropa pasca-misi gabungan diplomasi kelapa sawit ke Eropa. Duta Besar Uni Eropa kata Peter, ingin mengkonfirmasi info pasca-misi diplomasi kelapa sawit tersebut.

Peter menjelaskan banyaknya petani, atau tenaga kerja yang bergantung pada perkebunan, dan industri kelapa sawit. Petani Indonesia lebih besar dari penduduk Belanda yang 17 juta. Petani Indonesia yang akan terkena dampak diskriminasi kelapa sawit itu, 19 juta orang. “Penduduk Belgia itu cuma 11 juta. Jadi permasalahan kita jauh lebih besar dari itu.”

Peter F Gontha mengatakan, delegasi sudah menyampaikan rencana Indonesia membawa persoalan kelapa sawit ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Rencana itu kian mantap untuk dilakukan Indonesia bila Uni Eropa mengadopsi Delegated Act. ***

 

Check Also

KPK Tetapkan Direktur Utama PLN Tersangka Kasus Suap Proyek PLTU Riau-1
Sofyan Basir beberapa kali membantah menerima janji fee dari proyek PLTU Riau-1, yang dikerjakan pengusaha Johanes Kotjo

EmitenNews.com – KPK menetapkan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir sebagai tersangka kasus suap Proyek …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login to chat with other users!
WhatsApp chat