#
Sjamsul Nursalim. (Dok Poskota news).

Ini Cara KPK Maksimalkan Uang Korupsi Kembali Melalui Mekanisme Keuangan Negara
KPK menetapkan pengusaha Sjamsul Nursalim dan istri Itjih Nursalim sebagai tersangka kasus BLBI dengan kerugian negara Rp4,58 triliun

EmitenNews.com – Ini cara KPK memaksimalkan asset recovery agar uang yang diembat koruptor kembali kepada masyarakat melalui mekanisme keuangan negara. Lembaga antirasuah itu, menetapkan pengusaha Sjamsul Nursalim dan istri Itjih Nursalim sebagai tersangka kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Mereka dituding merugikan keuangan negara sampai Rp4,58 triliun.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Kuningan Persada, kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (10/6/2019), mengungkapkan, tersangka Sjamsul Nursalim diduga sebagai pihak yang diperkaya Rp4,58 triliun dalam kasus korupsi BLBI itu.

KPK menetapkan Sjamsul Nursalim dan Itjih S. Nursalim sebagai tersangka kasus korupsi pemenuhan kewajiban obligor BLBI pada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Tindakan hukum terhadap pemegang kendali saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) itu merupakan pengembangan dari kasus tersebut.

“Sebelumnya KPK telah memproses satu orang, yaitu Syafruddin Arsyad Tumenggung, hingga putusan di tingkat banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta,” kata Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif, Senin (10/6/2019).

Data yang dikumpulkan Selasa (11/6/2019), menyebutkan kasus BLBI adalah kasus korupsi berkaitan dengan dana talangan dari pemerintah saat krisis keuangan pada 1997. Sedikitnya ada 48 bank komersil bermasalah akibat krisis yang akhirnya mendapat bantuan talangan lewat skema BLBI itu. Total dana talangan BLBI yang dikeluarkan Rp144,5 triliun. Tetapi, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memperkirakan sekitar 95 persen diselewengkan.

KPK di bawah kepemimpinan Ketua Agus Raharjo, telah mengusut kasus ini. Tetapi, baru menetapkan mantan Ketua BPPN Syarifuddin Arsyad Tumenggung sebagai tersangka, April 2017. September 2018, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menghukum Syarifuddin 13 tahun penjara.

Dalam vonis itu majelis hakim menyatakan Syafruddin melakukan perbuatan korupsi bersama Sjamsul dan Itjih, sehingga merugikan negara Rp4,58 triliun. Februari 2019, KPK mengirim surat pemanggilan pemeriksaan kepada suami-istri itu. Karena sejak Mei 2002, Sjamsul dan keluarga tinggal di Singapura, KPK mengirimkan surat di tiga lokasi di Singapura, dan satu di Jakarta.

Kepada wartawan, Senin (10/6/2019), Maqdir Ismail, pengacara Sjamsul Nursalim dan Itjih Sjamsul Nursalim menganggap penetapan tersangka terhadap kliennya itu sangat janggal, tidak masuk akal. Ia menyatakan, Sjamsul sudah tidak berkaitan dengan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.

Dalam versi sang pengacara, Sjamsul telah bebas dari segala tindakan hukum terkait kasus BLBI. Menurut dia, Sjamsul telah menyelesaikan kewajibannya sebagai pemegang saham pengendali BDNI sejak 1998. “Seluruh kewajiban Sjamsul telah terselesaikan, serta membebaskan dan melepaskannya dan afiliasinya dari segala tindakan hukum yang mungkin ada sehubungan dengan BLBI dan hal terkait lainnya.” ***

 

 

Check Also

BTN Siap Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

EmitenNews.com – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) siap mendorong pertumbuhan ekonomi di Bengkulu agar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *