#
Hari ini, Senin (12/10/2020), empat terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya akan menghadapi sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat. (Dok. Detiknews).

Ini Hari yang Menentukan, Empat Terdakwa Kasus Korupsi Jiwasraya Hadapi Sidang Putusan
JPU mengungkapkan, seluruhnya enam terdakwa, telah menyebabkan kerugian negara Rp16,8 triliun terkait pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya periode 2008-2018

EmitenNews.com – Ini hari yang menentukan. Hari ini, Senin (12/10/2020), empat terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya akan menghadapi sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat. Mereka, mantan Direktur Utama Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo, eks Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, serta Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Agung Bima Suprayoga, Senin pagi, memastikan adanya agenda sidang putuan untuk para terdakwa tersebut. Dalam perkara ini, Hary dan Joko dituntut hukuman penjara seumur hidup dan denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan oleh JPU Kejagung. Hendrisman dituntut hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan penjara. Syahmirwan dituntut 18 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Dalam tuntutannya jaksa menilai keempat terdakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Karena itu, Jaksa Bima berharap, Majelis Hakim mengabulkan tuntutan itu.

Selain keempat terdakwa itu, ada dua terdakwa lain dalam kasus ini. Yaitu, Komisaris PT Hanson International Benny Tjokrosaputro dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat. Namun, Benny dan Heru belum menjalani sidang tuntutan. Pasalnya, Benny terkonfirmasi positif Covid-19 dan Heru sedang dirawat.

Yang jelas, JPU mengungkapkan, para terdakwa, telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rp16,8 triliun terkait pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya periode 2008-2018. Menurut jaksa, ada tujuh perbuatan para terdakwa dalam perkara ini.

Pertama, membuat kesepakatan dengan terdakwa Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo, dan Syahmirwan dalam pengelolaan investasi saham dan reksadana Jiwasraya yang tidak transparan dan tidak akuntabel. Kedua, pengelolaan saham dan reksadana itu tanpa analisis yang didasarkan pada data objektif dan profesional dalam Nota Intern Kantor Pusat (NIKP), tetapi analisis hanya dibuat formalitas bersama.

Ketiga, pembelian saham BJBR, PPRO, dan SMBR telah melampaui ketentuan yang diatur dalam pedoman investasi, yaitu maksimal 2,5 persen dari saham beredar. Keempat, melakukan transaksi pembelian dan/atau penjualan saham BJBR, PPRO, SMBR, dan SMRU dengan tujuan mengintervensi harga yang akhirnya tidak memberikan keuntungan investasi dan tidak dapat memenuhi kebutuhan likuiditas guna menunjang kegiatan operasional.

Kelima, mengendalikan 13 manajer investasi dengan membentuk produk reksadana khusus untuk PT AJS agar pengelolaan instrumen keuangan “underlying” reksadana PT AJS dapat dikendalikan oleh Joko Hartono Tirto.

Keenam, menyetujui transaksi pembelian/penjualan instrumen keuangan “underlying” 21 produk reksadana yang dikelola 13 manajer investasi, pihak terafiliasi Heru Hidayat dan Benny Tjokro. Walaupun, pada akhirnya transaksi tidak memberikan keuntungan investasi dan tidak dapat memenuhi kebutuhan likuiditas guna menunjang kegiatan operasional perusahaan.

Ketujuh, memberikan uang, saham dan fasilitas kepada Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo dan Syahmirwan terkait kerja sama pengelolaan investasi saham dan reksa dana PT AJS tahun 2008-2018.

Sementara itu pemerintah tengah menyiapkan Indonesia Finansial Group (IFG) Life sebagai pengganti PT Asuransi Jiwasraya, akhir tahun 2020. Tim khusus Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersama manajemen PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tengah menyiapkan skema restrukturisasi perusahaan untuk nasabah polis tradisional dan JS Saving Plan itu.

“Perusahaan ini diharapkan Desember sudah dapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kami sudah buatkan tim khusus untuk pendirian itu,” kata Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero), Robertus Bilitea dalam video conference di Jakarta, Minggu (4/10/2020).

Lewat asuransi baru tersebut nantinya BPUI akan mengalihkan seluruh kasus gagal bayar polis Jiwasraya kepada IFG Life. Dalam program penyelamatan polis, pemerintah akan menyuntikkan modal (Penyertaan Modal Negara/PMN) sebesar Rp22 triliun kepada PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI). Sebanyak Rp12 triliun pada 2021 dan Rp20 triliun tahun berikutnya. ***

 

Check Also

Komisaris PT Hanson International Benny Tjokrosaputro Terserang Virus Corona, Sidang Tuntutan Ditunda
Menurut Ketua Majelis Hakim Rosmina Penundaan sidang dengan terdakwa yang karib disapa Bentjok itu, belum tahu bakal dilakukan hingga kapan

EmitenNews.com – Komisaris PT Hanson International Benny Tjokrosaputro terserang virus corona. Karena itu, sidang lanjutan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: