#
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. (Dok. Tribunnews).

Ini Keprihatinan Mendikbud atas Banyaknya Persoalan Selama Penerapan PJJ di Tengah Pandemi Covid-19
Menteri Nadiem Makarim memastikan dampak negatif pada anak itu suatu hal nyata terlihat selama pembelajaran jarak jauh. Kalau itu terus dilaksanakan, bisa menjadi suatu risiko permanen

EmitenNews.com – Ini pengakuan keprihatinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Makarim atas banyaknya persoalan selama penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi Covid-19. Ia bahkan menyadari semakin lama kebijakan itu telah berdampak negatif terhadap anak, para peserta didik.

Saat memaparkan penyelenggaraan pembelajaran semester genap tahun ajaran 2020/2021 yang disiarkan secara daring, Jumat (20/11/2020), Mendikbud Nadiem Makarim menyampaikan dampak negatif itu meliputi ancaman putus sekolah. Lainnya, terhambatnya tumbuh kembang anak, tekanan psikososial hingga terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang dialami anak.

Mendikbud memastikan dampak negatif yang terjadi pada anak itu suatu hal nyata terlihat selama penyebaran virus corona penyebab coronavirus disease 2019 (covid-19). Karena itu, kalau pembelajaran jarak jauh itu terus dilaksanakan, Nadiem menyebutkan, bisa menjadi suatu risiko permanen.

Di lapangan banyak anak terpaksa bekerja membantu keuangan keluarga akibat terdampak pandemi. Di sisi lain, banyak orang tua tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar apabila pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka. Kondisi itu menyebabkan anak berpotensi terancam putus sekolah.

Menurut Menteri Nadiem, proses tumbuh kembang anak menjadi terhambat. Perbedaan akses dan kualitas daerah yang semakin sulit melakukan PJJ menyebabkan kesenjangan capaian belajar. Mantan CEO Gojek Indonesia itu menyodorkan fakta, tren keikusertaan dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) sejak penerapan PJJ semakin menurun drastis. Ini bisa menyebabkan dampak permanen terhadap tumbuh kembang anak yang tidak optimal.

Selain itu, hilangnya pembelajaran tatap muka yang berisiko panjang, baik terhadap kemampuan kognitif maupun karakter anak. Persoalan itu berisiko menyebabkan adanya pembelajaran yang hilang (learning loss).

Lebih ironisnya lagi, tekanan psikososial karena minimnya interaksi antara guru dengan murid dan lingkungan luar serta tekanan akibat PJJ menyebabkan anak mudah stres. Bahkan, kondisi itu juga dialami orang tua karena harus membagi waktu antara bekerja dan mendampingi anak yang belajar dari rumah.

Bahayanya lagi, persoalan tersebut tidak dimungkiri ikut memicu terjadinya insiden kekerasan di rumah tangga. Bahkan, tindakan itu dialami anak-anak selama PJJ di rumah.

Karena itulah semua Mendibud Nadiem bersama Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri menyepakati surat keputusan bersama (SKB) yang memberikan kelonggaran sekolah dibolehkan kembali melakukan belajar secara tatap muka. Pelaksanaannya dimulai pada Januari 2021 yaitu awal semester genap tahun ajaran 2020/2021.

Dengan kebijakan baru ini, pihak daerah dan sekolah diharapkan meningkatkan kesiapannya dari sekarang. Kalau benar-benar siap, dipersilakan melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka, mulau Januari 2021. ***

 

Check Also

Pelan Tetapi Pasti Penderita Infeksi Virus Corona di Indonesia Mendekati Setengah Juta Orang
Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat, Minggu (22/11/2020), ada penambahan 4.360 kasus. Alhasil total kasus covid-19 di Tanah Air kini mencapai 497.668 orang

EmitenNews.com – Pelan tetapi pasti, penderita infeksi virus corona di Indonesia kini mendekati setengah juta …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: