#
Ilustrasi petani panen: Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta petani bekerja lebih keras lagi. Kalau perlu bekerja 24 jam penuh sehari untuk mengejar produksi pangan senilai Rp14 triliun tahun 2019 dan Rp30 triliun tahun depan, 2020. (Dok. Mitalom).

Ini Pengakuan untuk Menteri Pertanian Amran Sulaiman dari Pengamat
Swasembada beras di era Mentan Amran Sulaiman relatif lebih stabil dan lebih fenomenal. Kebijakan-kebijalannya lebih memihak pada para petani

EmitenNews.com – Ini pengakuan untuk Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Pengamat Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi mengatakan swasembada beras di era Mentan Amran Sulaiman relatif lebih stabil dan lebih fenomenal. Pasalnya, kebijakan-kebijakannya lebih memihak pada para petani.

Dalam keterangannya kemarin, Prima Gandhi mengatakan, upaya Kementerian Pertanian mengupayakan peningkatan produksi melalui mekanisasi patut diapresiasi. Mentan Amran terus berupaya meningkatkan produksi dalam negeri dan kesejahteraan petani Indonesia dengan mekanisasi dan lain-lain.

Sebagaimana upaya Kementan untuk mewujudkan swasembada pangan, kata Gandhi, hal tersebut juga relevan dengan berbagai kebijakan yang diterapkan Menteri Amran. Karena itu, ia menganggap kebijakan swasembada di era Mentan Amran sudah on the right track.

Gandhi membandingkan swasembada beras di era Mentan Amran dan swasembada pada era 1984. Dulu benar-benar swasembada murni, kalau sekarang harga juga harus stabil. Jadi, harus diakui Mentan Amran juga banyak berperan dalam stabilitas harga pangan.

Belum lagi, dari aspek jumlah penduduk yang lebih besar dari 1984, jumlah stok beras saat ini lewat skema Upaya Khusus (Upsus) Pajale dan pertanamanan tumpang sari dengan komiditas perkebunan juga menjadi kunci keberhasilan Mentan Amran.

Swasembada era pemerintahan Presiden Soeharto, 1984, berhasil memproduksi beras secara nasional sebanyak 25,8 juta ton. Sementara itu konsumsi beras nasional 27 juta ton per tahun dan masih ada impor beras 414.000 ton untuk konsumsi penduduk 164 juta jiwa.

Bandingkan dengan saat ini. Jumlah penduduk Indonesia mencapai 267 juta jiwa dan konsumsi beras secara nasional 32,4 juta ton per tahun, pemerintah mampu produksi beras nasional 34,9 juta ton dan tidak ada impor sepanjang 2019. Selain itu, cadangan stok beras di Bulog saat ini mencapai 2,5 juta ton dan masih akan terus bertambah.

Memasuki triwulan terakhir tahun 2019, kondisi harga beras nasional tercatat tetap stabil. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi, Kamis (3/9/2019), menegaskan keyakinannya harga beras nasional aman dan terkendali.

“Mencermati kondisi perberasan nasional saat ini, pemerintah optimistis harga dan pasokan beras sampai akhir 2019 bahkan sampai awal 2020 dapat terjaga stabil dan aman,” urai Sekretaris Dewan Ketahanan Pangan itu. ***

Check Also

Masyarakat Kini Punya Kesempatan Sama Akses Teknologi Digital Konektivitas Sangat Cepat
Presiden resmikan pengoperasian Palapa Ring, Senin (14/10/2019). Tol langit ini menghubungkan seluruh ibu kota di 514 kabupaten dan kota di Indonesia

EmitenNews.com – Masyarakat kini memunyai kesempatan sama mengakses teknologi digital dengan konektivitas sangat cepat. Presiden …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *