Ini Penjelasan Kementerian Perhubungan Soal Masih Mahalnya Tiket Pesawat

Penyebabnya, salah satunya, siklus tahunan, fase musim sepi atau low season, biasanya Januari dan Februari

M Nasir

Ekonomi Update, Makro & Moneter Sunday, 10th February 2019 11:22:15 PM • 1 week ago


EmitenNews – Ini penjelasan Kementerian Perhubungan soal masih mahalnya harga tiket pesawat, meski pihak maskapai mengaku sudah menurunkannya. Salah satunya, karena siklus tahunan, fase musim sepi atau low season sedang terjadi, biasanya dari Januari dan Februari. Banyak maskapai penerbangan memanfaatkan dan memaksimalkan tarif tiket sesuai batas atas.

Kepada pers, di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Tangerang, Banten, Minggu (10/2/2019), Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Polana B Pramesti mengatakan, situasinya masih wajar. Karena airline, kata dia, juga butuh hidup dan itu salah satu sebabnya kenapa harga tiket masih mahal.

Menurut Pramesti, meskipun harga tiket pesawat masih mahal, besarannya tetap sesuai peraturan pemerintah. Yakni, berdasarkan ketentuan PM 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Perhitungan Formula Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkut Udara Niaga Berjadwal dalam Negeri.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Harga tiket selama ini tidak melanggar, masih sesuai PM 14 Tahun 2016,” ujarnya.

Soal kondisi sepinya penumpang pesawat, Pramesti juga menganggapnya hal biasa. Kondisi seperti ini berlangsung setiap tahun di Tanah Air dan negara lain. Secara perlahan, kondisinya akan berubah dan membaik. Penurunan itu hampir setiap tahun, terutama di Indonesia. Januari dan Februari memang low season. Itu hampir siklus tahunan, nanti Maret mulai meningkat.

Anehnya, penerbangan internasional dipastikan lebih murah. Setidaknya, seperti dilaporkan, warga Aceh yang ke Jakarta memilih penerbangan internasional, transit di Malaysia, lalu meneruskan perjalanan ke Jakarta. Pasalnya, harganya tiketnya lebih murah, nyaris 50 persen.

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah membeberkan alasan kenapa itu terjadi. Pada penerbangan internasional, kata dia, maskapai melakukan strategi marketing berbeda. Pada internasional, maskapai menggunakan bauran produk dan harga yang sangat dalam.

“Penerbangan memberikan gimmick tarif murah, bisa satu rupiah atau satu dollar, tapi dalam jumlah seat terbatas,” ujarnya kepada pers, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (29/1/2019) malam.

Contohnya, Garuda Indonesia memunyai kapasitas 30 kursi kelas bisnis untuk penerbangan Jakarta-Amsterdam. Untuk kelas bisnis itu, tarifnya USD3.000. Jika tingkat keterisian kelas bisnis tersebut mencapai 80 persen, maskapai mendapatkan penghasilan USD75.000.

Lalu, dari total 300 kursi untuk kelas ekonomi, perusahaan menjual 100 di antaranya seharga USD1.500. Jika 100 kursi itu terisi penuh, pendapatannya USD150.000. Nantinya, 50 kursi lagi bisa digunakan menerapkan strategi marketing. Caranya, harga tiketnya di bawah rata-rata.

Dengan strategi begitu, Pikri menjelaskan, setelah ditotal, maskapai masih punya 50 seat, yang bisa digunakan untuk marketing gimmick. Misalnya, tiket ke Eropa Rp4 juta, atau Rp3 juta. Tetapi, jumlah seat terbatas. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *