#
Penyalur BBM satu harga sudah tersebar di 131 lokasi kecamatan, pada 90 kabupaten, dan 26 provinsi hingga akhir 2018. (Dok. Pertamina).

Ini Sentilan Kementerian ESDM atas Kelambanan Kerja Orang Pertamina
Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto gregetan Pertamian dinilai lama mengambil keputusan penggunaan atas teknologi lifting minyak

EmitenNews.com – Ini sentilan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terhadap PT Pertamina (Persero). Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto gregetan lantaran BUMN Migas itu dinilai lama mengambil keputusan terkait penggunaan teknologi lifting minyak. Sebelumnya Menteri ESDM Ignasius Jonan meminta Pertamina lebih gesit mengambil keputusan.

Kepada pers, Jumat (16/8/2019), Plt Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Djoko Siswanto menyinggung perusahaan minyak negara itu, karena lama mengambil keputusan terkait penggunaan teknologi lifting minyak. Teknologi yang dia maksud adalah metode perolehan minyak tahap lanjut atau Enhance Oil Recovery (EOR).

“Saya gregetan sama Pertamina. Silahkan cari di sumber manapun minyak, sejak zaman Belanda, dengan teknologi saat ini hanya mampu maksimum diangkat cuma 50 persen,” tuturnya.

EOR adalah metode meningkatkan cadangan minyak pada suatu sumur dengan cara mengangkat volume minyak yang sebelumnya tidak dapat diproduksi sumur minyak agar produksinya yang kental bisa diangkat ke permukaan. Teknologi tersebut bisa membantu meningkatkan lifting minyak.

“Orang di lapangan ini lambat mengambil keputusan untuk teknologi EOR. Kalau itu segera diterapkan pasti naik, kalau tidak naik iris nih Plt Dirjen lehernya. Loh serius catat, fakta kok,” kata Djoko Siswanto.

Sejauh ini, Pertamina baru mengimplementasikan teknologi itu pada beberapa sumur, salah satunya Tanjung Field, Tabalong, Kalimantan Selatan. Selama ini, teknologi yang digunakan Pertamina hanya mampu mengangkat produksi minyak sebesar 50 persen. Itu berarti, setengah dari potensi produksi minyak masih tersimpan di perut bumi.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memaparkan 6 dari 10 kontraktor minyak terbesar belum mencapai target lifting minyak pada semester I 2019. Lima dari KKKS tersebut milik Pertamina, yaitu Pertamina EP, PHM, PHE OSES, PH ONWJ dan PKHT.

Catatan SKK Migas menunjukkan, realisasi lifting migas hingga akhir semester I tahun 2019 mencapai 1,81 juta barel per hari (bph) atau 86 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Jika dirinci, realisasi lifting minyak sepanjang paruh pertama ini 752 ribu bph atau 97 persen.

Realisasi penyaluran dan lifting gas selama enam bulan pertama tahun ini tercatat 5.913 mmscfd atau setara 1.056 ribu bph. Artinya, realisasi lifting gas baru mencapai 86 persen dari target APBN 2019. ***

 

Check Also

Kementerian BUMN: Holding BUMN Farmasi Rampung Oktober 2019

EmitenNews.com – Deputi Bidang Usaha Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro mengatakan, proses pembentukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *