#
Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Hendi Prio Santoso. (Dok. Indonews.id).

Ini Soal Lama, Pelaku Industri Semen Keluhkan Kelebihan Pasokan Karena Izin Pembukaan Pabrik Tetap Ada
"Di Vietnam, rezim komunis saja sudah punya aturan tidak buka izin pabrik baru, selama kondisi nasionalnya masih over capacity,” kata Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), Hendi Prio Santoso

EmitenNews.com – Ini soal lama yang melingkupi industri semen di Tanah Air, tetapi tak kunjung diselesaikan. Sejak 2016, pengusaha mengadukan masalah kelebihan pasokan karena izin pembukaan pabrik baru oleh investor asing tetap ada. Karenanya, meski sudah over supply, tetap ada tambahan kapasitas 9 juta ton. Pelaku industri semen meminta moratorium atas izin pabrik baru.

Saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/2/2020), Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), Hendi Prio Santoso, membandingkan iklim usaha industri semen di Vietnam. Dalam menghadapi kelebihan pasokan, pemerintah Vietnam tidak membuka pabrik baru.

“Di Vietnam, rezim komunis saja sudah punya aturan tidak buka izin pabrik baru, selama kondisi nasionalnya masih over capacity. Mereka buka pasarnya kalau over capacity-nya tinggal 5 persen,” kata Prio Santoso.

Di Indonesia, dengan kelebihan pasokan di atas 45 persen, belum ada aturan pembatasan untuk menutup izin pembukaan pabrik baru. Ia mencontohkan, adanya tambahan kapasitas sebesar 9 juta ton pabrik baru oleh investor asing, meski di dalam negeri terjadi kelebihan pasokan.

Dengan dasar itu, Hendi meminta pemerintah dan DPR membuat moratorium atas izin pabrik baru dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan pemerintah daerah. Jika tidak dimoratorium, akan mempersulit dan makin membuat persaingan tidak sehat dalam industri semen.

Hendi juga meminta revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Impor Semen. Aturan tersebut dinilai dapat menambah kapasitas semen yang sudah melebihi kebutuhan masyarakat.

Rekomendasi lainnya, perbaikan kualitas aturan mengenai izin galian C alias pertambangan untuk bahan baku, seperti tanah liat atau batu kapur. Menurut Hendi, izin Galian C yang selama ini hanya dilakukan melalui Pemda harus turut dikaji oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sehingga tidak memberatkan pasokan.

“Strategi yang dipakai kompetitor baru yang menginvasi pasar Indonesia adalah go direct ke Pemda,” katanya.

Direktur Utama Semen Baturaja, Jobi Triananda menambahkan, kelebihan pasokan semen nasional telah berdampak, khususnya di wilayah Sumatera Selatan. Kelebihan suplai tersebut cukup besar dan mengganggu pasar, sehingga menekan harga penjualan di daerah tersebut.

“Kami harus menjual dengan sangat-sangat tipis sekali untuk menciptakan keuntungan, mengingat sangat kerasnya persaingan di tingkat retail,” keluhnya.

Mengutip Vivanews.com, Rabu, 17 Juli 2019, kondisi pasar semen domestik mengalami kelebihan pasokan karena gencarnya pasokan semen asal Tiongkok. Harganya jauh di bawah pasaran harga semen Indonesia. Wakil Presiden (ketika itu) Jusuf Kalla sudah menyampaikan kondisi ini. JK menyebutkan, pabrik semen dalam negeri sudah kalah bersaing. Semen Indonesia Rp40 ribu per sak, sedangkan pabrik China, Rp30 ribu. ***

 

Check Also

Pendapatan Melonjak, Siloam Hospital (SILO) Malah Rugi Rp338 Miliar Di 2019

EmitenNews.com- Kinerja perusahaan pengelola rumah sakit PT Siloam Internasional Hospital Tbk (SILO) pada tahun 2019 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: