Kita Bangga pada Iwan Sunito

Pengusaha kelahiran Surabaya yang besar di Pangkalan Bun, Kalimanta Tengah ini masuk daftar 20 orang paling berpengaruh di Sydney, Australia

Y.Mansyur

Inspirasi, Sosok Tuesday, 24th July 2018 1:13:10 PM • 5 months ago


EmitenNews – KITA bangga pada Iwan Sunito. Pengusaha asal Indonesia itu, masuk daftar 20 orang paling berpengaruh di Sydney, Australia. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, yang besar di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah itu, berada di posisi 16 daftar Southern Courier. Ini media lokal yang berafiliasi dengan News Corp Agency, salah satu grup media terbesar di Australia.

Iwan Sunito adalah pendiri dan CEO salah satu perusahaan properti terbesar di Australia, Crown Group. Ia dinilai figur sukses, bukan hanya membangun apartemen, tetapi memiliki visi ke depan. Pria kelahiran 1966 itu, menciptakan sebuah kawasan hunian, yang memungkinkan orang bisa hidup dekat atau di atas semua hal yang dibutuhkan, seperti fasilitas kesehatan, supermarket, bahkan bar dan restoran.

Dalam daftar 20 besar tersebut, terdapat nama-nama terkenal. Antara lain, Harry Triguboff (2), orang terkaya kedua di Australia menurut Australian Financial Review dengan total kekayaan Rp120 triliun. Sam Burgees (4), pemain rugby terkemuka, Wali Kota Randwick, Lindsay Shurey (10), Michelle Simmons (7), seorang profesor di UNSW yang memenangkan gelar Australian of The Year berkat dedikasinya di bidang fisika kuantum.

Iwan Sunito satu-satunya orang berdarah Indonesia yang terdaftar di situ. Ia bersama Harry Triguboff (kelahiran Dalian, Tiongkok) berasal dari Asia, sekaligus sama-sama dari industri pengembang. Keduanya dinilai sebagai pionir industri pengembang paling sukses di Australia.

Mendapaat pengakuan bergengsi, di negeri orang pula, Iwan mengaku  terkejut, nyaris tidak percaya. Tentu saja hal ini sangat membanggakan, karena banyak nama hebat dalam daftar tersebut yang telah memberikan kontribusi besar di Kota Sydney.

“Sungguh sebuah kehormatan yang luar biasa. Sangat mengejutkan ketika pertama kali mendengar Southern Courier memasukkan nama saya dalam daftar tersebut,” kata Iwan Sunito kepada pers, Senin (23/7/2018).

Bagi Iwan, penghargaan dari media itu, bukti solid pengakuan publik terhadap apa yang Crown Group telah lakukan dan hasilkan. “Ternyata Wong Jowo bisa juga berkompetisi di dunia luar. Dapat dikatakan ini sebuah bentuk apresiasi atas visi kami dalam melakukan transformasi senilai Rp10 triliun pada town centre di Eastlakes.”

Tinggal kelas

Bisa dibilang Iwan Sunito, salah satu diaspora Indonesia yang sukses membangun bisnis di luar negeri. Berawal dari usaha renovasi rumah, kini lewat Crown Group jaringan bisnis berbasis di Sydney, yang dibangunnya, ayah tiga anak itu, kini jadi raja properti di Australia. Crown adalah perusahaan pengembang spesialis properti mewah untuk kalangan menengah atas.

“Orang Indonesia tak hanya bisa bermain di global, tapi juga banyak yang unggul di luar negeri. Saya berpikir untuk selalu without border (tanpa batas),” kata Iwan saat peluncuran buku biografinya Without Border di Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (18/11/2016).

Mendirikan perusahaan pada 1994 bersama rekannya, Paul Sathio, nama Crown Group mulai dikenal pada 2004 setelah membangun proyek-proyek miliaran dolar yang tersebar di Sydney seperti Parramatta dan Ashfield. Crown kini sudah punya banyak karyawan dan kantor perwakilan di beberapa negara.

Iwan bercerita, awalnya tak berani mematok tarif. Crown pun memilih mempekerjakan mahasiswa agar bayarannya lebih murah. Mereka hanya  mengerjakan apa yang ditawarkan pelanggan. Dari sekadar merenovasi pagar, garasi, atau kamar mandi, sampai membangun satu unit rumah utuh.

“Semua bermula dari hal kecil. You think big in a start really small,” kata Iwan Sunito seperti dikutip CNNIndonesia.

Mendapat proyek kecil, dari teman ke teman, dari saudara ke saudara, pelan tapi pasti, Iwan mulai menancapkan kukunya di dunia properti di Australia. Di negeri Kanguru itulah , tempatnya menuntut ilmu dari sarjana sampai master di bidang arsitektur.

Kinerja Crown mulai diakui. Setelah berkelana dari satu proyek ke proyek lain, Crown meraih proyek-proyek bernilai miliaran dolar Amerika Serikat sejak 2004. Iwan sempat mengalami jatuh bangun, seperti ketika terjadi resesi ekonomi pada 2008. “Terjadi slow down, tapi kami belajar. Positioning produk kami harus jadi best of the best.”

Saat resesi itu, hanya ada dua pilihan: memotong ongkos supaya perusahaan tetap hidup, atau membuat proyek yang terbaik kualitasnya. Crown memilih yang kedua. Ramuan Crown, apartemen terbaik, harus disukai semua orang, desain arsitekturnya bagus, sense of arrival luar biasa, dan taman-taman hijau. Pada masa-masa itu, kata Iwan, hasilnya, bukannya profit berkurang tapi malah berlipat-ganda.

Menilik kesuksesannya saat ini, siapa sangka Iwan Sunito pernah tinggal kelas saat menempuh sekolah dasar di Pangkalan Bun. Pengalaman itu diakui Iwan sebagai titik balik, karena setelah tak naik kelas, dia ditempatkan di kelas yang isinya orang-orang pintar. “Dan saya adalah the worst.”

Hamdhani, anggota Komisi VI DPR RI Dapil Kalimantan Tengah, teman sekelas Iwan Sunito di SD di Pangkalan Bun, mengaku sangat bangga atas prestasi teman masa kecilnya itu. Anggota Fraksi NasDem itu berharap Iwan sukses terus dan bisa berkarya untuk Kalimantan Tengah..

”Saya sempat kehilangan kontak, sampai akhirnya saya mendapatinya jejaknya di sosial media, facebook,” kata Hamdhani.

Hamdhani bercerita, Iwan Sunito memiliki kakak, Nisin Sunito, pengusaha yang tak kalah dengan sang adik. Si kakak, pemilik peternakan sapi seluas dua kali Pulau Bali di Australia. Nisin mulai merintis bisnisnya di Australia dengan mendirikan Oceanic Multitrading Pty Limited pada 1992. Ia terjun ke bisnis peternakan setelah mengakuisisi peternakan Kiana, Juli 2005.

Lokasi peternakannya berada 1.132 km tenggara Kota Darwin Australia. Total luas peternakan Kiana mencapai 331.800 hektare, setara dengan 4,8 kali luas  Singapura. Peternakan Kiana berkapasitas 15.800 sapi, yang mayoritasnya sapi Brahman dan Droughmaster.

Kesuksesan keluarga Nisin, salah satunya tak lepas dari peran orang tua yang bervisi jauh ke depan. Sang ayah sempat kerja serabutan di Pangkalan Bun, setelah gagal di Surabaya. Mulai dari memotong kayu, menyadap karet, sampai menjual karet, lalu mendirikan toko kelontong kecil-kecilan.

Iwan Sunito pernah menceritakan bagaimana nama Iwan diperolehnya. Nama China-nya ada kata Huan, yang berarti gembira. Waktu dalam kandungan, dan dilahirkan, keluarga Nisin dalam keadaan susah. Ayahnya sakit, sedangkan sang ibu tak memiliki sumber income memadai. Itulah yang membuat mereka harus berjuang keras untuk bisa makan, dan sukses.

“Kemudian mereka menyebut nama saya Huan yang diindonesiakan jadi Iwan. Berarti ada gembira di masa susah. Karena ada yang di atas (Tuhan) yang membantu,” kata Iwan Sunito.

Dengan kondisi seperti itu, keluarga ini tetap memerhatikan pendidikan anak-anaknya. Selepas SMA, Sunito bersaudara disekolahkan di luar negeri. Itulah yang membawa Iwan, dan saudaranya ke Australia, Negara tempat Iwan meraih gelar sarjana S1, sampai Master (S2), di bidang Arsitektur. Pilihan pada studi Arsitektur itu, tak lepas dari kegemarannya menggambar, sampai ia sebagai Arsitek menjadi pengusaha sukses di bidang properti. (M.Nasir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *