#
Menteri BUMN Erick Thohir meminta Telkom mengubah kinerja. Perubahan perlu jika tak ingin tertinggal akibat disrupsi teknologi yang tak mungkin dihentikan di era bisnis saat ini. Telkom diminta tidak bergantung pada pendapatan PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Selama ini 70 persen pendapatan Telkom dari dividen dan laba Telkomsel. (Dok. Kementerian BUMN).

Menteri BUMN Minta PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Ubah Kinerja
Perubahan perlu agar tak tertinggal akibat disrupsi teknologi yang tak mungkin dihentikan di era bisnis saat ini. Telkom diminta tidak bergantung pada pendapatan PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel)

EmitenNews.com – PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) harus berubah. Menteri BUMN Erick Thohir meminta Telkom mengubah kinerja. Perubahan perlu dilakukan jika tak ingin tertinggal akibat disrupsi teknologi yang tak mungkin dihentikan di era bisnis saat ini. Telkom diminta tidak bergantung pada pendapatan PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Selama ini 70 persen pendapatan Telkom dari dividen dan laba Telkomsel.

Dalam keterangannya yang dikutip Sabtu (15/2/2020), Menteri BUMN Erick Thohir mempertanyakan kinerja PT Telkom yang dinilai bergantung pada keuntungan anak usaha. Bagi pemerintah, atau Kementerian BUMN sebagai pemilik saham merah putih, lebih baik tidak ada Telkom, dan langsung berurusan saja dengan Telkomsel.

Dalam lima tahun terakhir, kinerja keuangan Telkom cenderung melambat. Data yang dikumpulkan sampai Sabtu (15/2/2020), dalam 2015, 2016, dan 2017 pertumbuhan laba dan pendapatan Telkom masih positif, hingga dua digit. Namun, pertumbuhan pendapatan jatuh ke satu digit pada 2018. Laba pun tercatat negatif.

Pada 2015, laba Telkom meningkat dari Rp14,47 triliun pada 2014 menjadi Rp15,48 triliun atau tumbuh 6,97 persen. Laba bersih ini ditopang kenaikan pendapatan. Tercatat pendapatan Telkom naik 14,24 persen dari Rp89,69 triliun 2014 menjadi Rp102,47 triliun tahun 2015.

Bersamaan dengan itu, perseroan juga mencatatkan tambahan utang 23,24 persen dari Rp55,83 triliun menjadi Rp72,74 triliun pada 2015. Arus kas operasional, pada 2015 terjadi kenaikan 15,71 persen dari Rp37,73 triliun menjadi Rp43,66 triliun dengan perbandingan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan juga terjadi pada aset perusahaan 17,16 persen dari Rp141.822 triliun menjadi Rp166,17 triliun.

Pada 2016, pertumbuhan dua digit masih terjadi, meski mulai tak merata. Laba Telkom naik 25 persen dari Rp15,48 triliun di 2015 menjadi Rp19,35 triliun. Perusahaan juga mencatatkan lonjakan pendapatan 13,52 persen dari Rp102,47 triliun di 2015 menjadi Rp116,33.

Perseroan juga mencatat kenaikan utang 1,81 persen dari Rp72,74 triliun ke Rp74,06 sepanjang 2015 hingga 2016. Kenaikan berimbang dengan arus kas operasional 2016 yang menunjukkan perkembangan 8,17 persen dari Rp43,66 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp47,23 triliun.

Aset perusahaan tumbuh melambat pada single digit 8,08 persen dari Rp166,17 triliun per Desember 2015 ke Rp179,61 triliun pada Desember 2016. Perlambatan pertumbuhan kinerja perusahaan kembali terjadi pada 2017.

Bahkan, persentase kenaikan utang menjadi terbesar. Laba perseroan tumbuh pada kisaran 14,41 persen dari Rp19,35 triliun di 2016 menjadi Rp22,14 triliun di 2017. Meski melambat dari tahun sebelumnya, namun pada 2017 Telkom masih mencetak pendapatan 10,24 persen, dari Rp116,33 triliun ke Rp128,25 triliun.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada utang, 16,59 persen menjadi Rp86,35 triliun dari tahun 2016 Rp74,06 triliun. Untuk arus kas operasional, kenaikan terjadi 4,59 persen dari Rp47,23 triliun ke Rp49,4 triliun. Aset perusahaan berhasil tumbuh dua digit di kisaran 10,50 persen dari Rp179.61 triliun di 2016 ke Rp198,48 triliun pada 2017.

Pada 2018, laba perusahaan berkode emiten TLKM tersebut tercatat terjun bebas 18,56 persen dari raupan sebesar Rp22,14 triliun pada 2017 menjadi Rp18,03. Namun pendapatan perusahaan masih menyentuh angka positif.

Porsi pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika 59 persen menopang kinerja perusahaan. Tercatat, pendapatan perusahaan naik dari Rp128,25 triliun ke Rp130,78 triliun atau 1,97 persen. Utang perusahaan naik tipis 2,94 persen dari Rp86,35 triliun di 2017 menjadi Rp88,89 triliun di 2018.

Arus kas operasional turun 7,55 persen dari Rp49.40 triliun pada 2017 menjadi Rp45,67 triliun pada 2018. Pertumbuhan aset turun dari tahun sebelumnya menjadi 3,88 persen dari Rp198,48 triliun pada 2017 menjadi Rp206,19 triliun pada 2018. ***

 

Check Also

Pendapatan Melonjak, Siloam Hospital (SILO) Malah Rugi Rp338 Miliar Di 2019

EmitenNews.com- Kinerja perusahaan pengelola rumah sakit PT Siloam Internasional Hospital Tbk (SILO) pada tahun 2019 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: