Menyesap Sejuknya Hutan Pinus sambil Menelusuri Goa Tokek di Ciwangun

RS gen

Piknik, Rileks Sunday, 4th November 2018 11:10:14 PM • 1 month ago


EmitenNews– Ciwangun Indah Camp (CIC) menambah deretan wisata alam di daerah Bandung, Jawa Barat. Bermain dan berpetualang sampai ke Goa Tokek di lokasi plesir bekas perkebunan seluas 22 hektar itu.

CIC berlokasi di Bandung Barat. Goa Tokek hanya lah salah satu spot  yang terdapat di dalamnya dan dianggap sebagai salah satu aset sekaligus daya tarik berwisata di sana.

Kosasih yang meyakini itu sebagai aset pariwisata. Seorang puraniwirawan TNI Angkatan Darat (AD) sekaligus pewaris dan pengelola CIC.

Goa Tokek secara tidak sengaja dia temukan saat melakukan bersih-bersih kawasan CIC. Saat itu, dia mendapat restu dari keluarga besarnya untuk “menyulap” perkebunan warisan ayahnya itu agar menjadi tempat wisata.

Keputusan mengubah perkebunan menjadi tempat pariwisata didasari keinginan untuk lebih memberdayakan masyarakat setempat. Berharap bisa menyejahterakan orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Kosasih bercerita, di tengah aksi bersih-bersih dibantu warga setempat itu kemudian ditemukan sebuah goa yang tidak terawat. Banyak ilalang dan tanaman liar lainnya.

Sambil dibersihkan, cerita tentang goa itu kemudian mengalir dari ungkapan warga sekitar. Tentang cerita seorang pencari tokek yang pernah menemukan binatang melata itu dengan ukuran cukup besar. Lebih dari setengah meter panjangnya.

Dari mulut ke mulut, rekan “seprofesi” pencari tokek kian marak mencari peruntungan yang sama. Harga tokek ukuran besar memang terkenal mahal.

Semakin lama, populasi tokek di goa itu semakin berkurang. Kini, diyakini sudah semakin sulit ditemui.

Meski begitu, Kosasih yang mengakhiri tugas di Kodam Jaya itu tetap mengabadikannya dengan nama Goa Tokek. Menjadi salah satu tujuan saat berwisata ke CIC sambil menghirup segarnya udara hutan pinus dan lingkungan kebun teh setinggi 1.200 meter di atas permukaan laut itu.

CIC sebenarnya perubahan kedua sejak diputuskan tidak lagi menjadi perkebunan. Perubahan pertama adalah sebagai lokasi penyewaan villa.

Setelah menjadi CIC, pembukaan lahan baru untuk kebutuhan perluasan kawasan wisata terus dilakukan. Pembangunan akses jalan yang menghubungkan kawasan wisata alam tersebut dengan jalan raya Kolonel Masturi serta menyediakan berbagai fasilitas wisata seperti flying foxshaking bridge, perkemahan, dan pengembangan tiga air terjun.

Butuh waktu empat tahun bagi Kosasih untuk melengkapi kawasan wisata CIC. Tamu mulai berdatangan sejak 2006, setelah jalan menuju Istana Bunga selesai dibangun.

Pintu masuk kawasan CIC di Bandung Barat. Foto: EN

 

Dampak Sosial

CIC terinspirasi anak-anak putus sekolah. Saat bernostalgia ke lokasi perkebunan warisan ayahnya itu, Kosasih kerap menemukan anak-anak justru bermain di jam belajar.

Sebagian besar orangtua mereka dulunya adalah buruh tani di PT Perkebunan (PTPN) VIII. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran pada 2002.

Pasca PHK, sebagian orangtua anak-anak tersebut bekerja di sebuah perkebunan milik swasta yang membayar upah mereka saat itu hanya sebesar Rp12.000 per hari.

Mengakibatkan sebagian besar keluarga masyarakat di sekitar PTPN VIII bisa makan pagi tetapi tidak bisa makan sore atau sebaliknya.

Keprihatinan mantan perwira menengah TNI itu kian memotivasi Kosasih untuk lebih memberdayakan tanah luas di sana. Bagi Kosasih, pendidikan di sekolah merupakan kebutuhan pokok bagi anak-anak dalam meraih cita-cita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *