Mochtar Riady Tentang IT Geser Migas dan Dinamisnya Sektor Telekomunikasi

Jos Klueniy

Inspirasi, Sosok Wednesday, 3rd May 2017 11:57:19 AM • 2 years ago


Emitennews – Pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, mengingatkan bahwa dunia telah berubah. Terutama seiring kemajuan teknologi dan mulai dominannya kiprah perusahaan berbasis teknologi informasi (Information Technology/IT).

Hal tersebut dia ungkapkan saat membuka perdagangan saham sekaligus Stadium Generale Ikatan Alumni Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH), di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), hari ini (03/05).

”Saya bicara di BEI maka saya mengingat bahwa pasar modal paling besar di dunia adalah Amerika Serikat (AS). Mungkin pada 10 thn lalu top ten (10 besar) daripada perusahaan listed di bursa AS adalah oil company atau petrochemical company,” kenang pria kelahiran Malang, 12 Mei 1929, itu.

Namun, dia menegaskan, itu dulu, pada masa lalu. Sekarang sudah berbeda. ”Top ten bukan perusahaan yang tadi saya sebut tapi adalah perusahaan information technology,” terus suami dari Suryawati Lidya, itu.

Kondisi itu, menurut Mochtar, memberi suatu tanda bahwa dunia telah mengalami suatu perubahan. ”Seperti kita ketahui, sejarah manusia mulai tenaga manusia. Lantas masuk ke tenaga sapi, kuda, angin, air, dan tenaga uap, dan setelah itu tenaga listrik,” kisahnya.

Pada 1946, manusia masuk ke tenaga mikro elektronik. Mikro elektronik bercabang ke analog dan digital. Analog berkembang menjadi sistem telekomunikasi dan digital masuk ke teknologi komputer. ”Dan di situlah teknologi analog dan digital bisa menyatu dan timbulnya yang dinamakan internet,” ungkapnya.

Ayah dari Rosy Riady, Andrew Taufan Riady, Stephen Tjondro Riady, dan James Tjahaja Riady, itu mengungkapkan dengan adanya internet maka dimulai lah negara AS masuk ke masyarakat information society. ”Dengan demikian sehingga labour industri tidak bisa dipertahan kan di AS dan pindah ke barat ke Jerman dan dunia timur ke Jepang,” ulasnya.

Sekitar 15 tahun baik Jerman dan Jepang kemudian juga masuk information society dan mereka harus memindahkan labour industri ke luar negeri. Sebagai contoh, kata dia, Jepang memindahkan labour industry ke Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.

Dan 15 tahun setelah itu giliran Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura masuk ke zaman yang dia sebut Empat Macan Asia. ”Mereka harus memindahkan labour industry ke Tiongkok dan south east asia termasuk Indonesia,” imbuhnya.

Dari berbagai fakta itu maka menurutnya kita bisa tahu bahwa pada saat ini kita masuk information society atau dinamakan digital economic.

Mochtar Riady saat diwawancara awak media di main hall gedung BEI, Rabu (3 Mei 2017). Foto: EN

Cerita tentang industri IT, dia menilai, ada empat bidang di dalamnya yaitu IT software, hardware telecommunication network, dan konten. ”Konten terbagi tiga bidang berbeda; data flow, money flow, dan marchandise flow,” terangnya.

”Seperti kita ketahui kalau cerita tentang hardware maka sekarang  handphone baik Samsung atau Apple atau yang lainnya semua diproduksi di Tiongkok. Beberapa bulan lalu saya kunjungi pabrik mesin tentang alat kedokteran dan di situ saya agak kaget saya melihat ternyata city scan diassembling diproduksi di Tiongkok,” Mochtar bercerita.

Lalu jika bercerita tentang software, yang terpenting adalah chip. Kebanyakan dibuat dari bahan Silicon yang dibuat Intel. Setiap orang menggunakan harus memberi royalty kepada Intel.

Tetapi saat ini chip sudah berubah cara pembuatannya tidak menggunakan Silicon tapi Gravin. ”Gravin ini bisa menahan panas sehingga komputer selanjutnya  lebih hemat. Dan gravin bisa membuat baterai maka kemudian hari, mobil tidak menggunak petro (bensin dan solar) tapi semuanya akan baterai. Akan membuat ekonomi dunia mengalami perubahan drastis,” dia bercerita lebih detil lagi.

Lalu terkait software lagi, kita akan mengetahui bahwa Huawei sudah jauh lebih hebat dari perushaan AS. ”Kita tahu kalau cerita infrastruktur maka Tiongkok baru muncul satu satelit yang dinamakan content satelit. Kalau sudah masuk komersialisasi maka BTS (menara pemancar) sekarang akan mengalami perubahan drastis. Dengan demikian maka biaya komunikasi akan mengalami perubahan sangat besar,” terusnya lagi.

Secara ringkas, era 1980-an kita mengalami perubahan sektor telekomunikasi dengan teknologi 1G. sekitar 10 tahun kemudian menjadi 2G, sekitar 10 tahun kemudian menjadi 3G, dan baru-baru ini sudah 4G.

”Ada satu perusahaan pada 1990-an mendapat izin 2G mereka investasi kira-kira lebih dari USD 1 miliar. Belum mulai operasi sudah ganti 3G. Maka perusahaan kerugian masih USD 900 juta dolar, tidak bisa membayar perusahaan Tiongkok ZTE,” paparnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *