OJK Optimistis Perbankan Indonesia Masih bisa Bertahan di Tengah Pelemahan Rupiah

Otoritas Jasa Keuangan mencatat adanya kelebihan likuditas di sektor perbankan nasional mencapai Rp500 triliun

M Nasir

OJK, Regulator Update Friday, 5th October 2018 9:04:12 AM • 3 weeks ago


EmitenNews – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis perbankan Indonesia masih bisa bertahan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sampai penutupan perdagangan spot Kamis (4/10/2018) sore, rupiah berada pada posisi Rp15.179 per dolar AS. OJK mencatat likuiditas perbankan nasional masih kuat. Malah, ada kelebihan likuiditas Rp500 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan, Kamis (4/10/2018).

Wimboh memberikan sejumlah argumen atas pandangannya. Antara lain, perbankan mendapatkan tenaga dari kenaikan harga komoditas yang akhirnya mengerek pertumbuhan kredit. Menurut dia, bangkitnya harga komoditas menggerakkan kredit pengolahan batu bara, kelapa sawit, hingga konsumsi.

Yang tak kalah menariknya, likuiditas perbankan masih kuat. Bahkan, OJK mencatat adanya kelebihan likuditas di sektor perbankan sampai mencapai Rp500 triliun. Karena itu, perbankan tidak terlalu khawatir akan melemahnya nilai tukar rupiah itu. Secara agregat atau individual tidak ada masalah.

Satu lagi, kondisi perbankan makin dikuatkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah untuk menggenjot ekspor serta mengurangi impor. Kebijakan itu dinilai akan menguntungkan industri perbankan karena untuk menggerakkan perekonomian dalam negeri, masyarakat pasti membutuhkan modal yang salah satunya bisa diperoleh dari bank.

Selain itu, kebijakan-kebijakan tersebut dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi, sehingga masyarakat optimistis meraih pendanaan dari perbankan. Pasalnya, ekonomi tumbuh orang tidak mau kehilangan momentum.

Kenaikan harga komoditas membawa berkah bagi penyaluran kredit perbankan. Hingga Agustus 2018, OJK mencatat pertumbuhan kredit mencapai 12,12 persen. Dengan capaian itu, Wimboh yakin capaian kredit akhir tahun bisa melampaui target awal yaitu 10-12 persen. Malah, ia melihat di akhir tahun, bisa 13 persen.

Wimboh mengaku tidak mengkhawatirkan efek lanjutan dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan mengganggu penyaluran kredit. Sebab, Indonesia memiliki pengalaman dengan suku bunga kredit tinggi hingga di atas 12 persen pada 2010. Saat itu, terbukti pertumbuhan ekonomi terjaga, justru pertumbuhan kredit bisa tembus di atas 20 persen.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, di Jakarta, Kamis (4/10/2018) menilai pelemahan rupiah tak dapat dilepaskan dari struktural perekonomian Indonesia. Yaitu defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Sampai kuartal II 2018, CAD sudah mencapai USD8 miliar atau sekitar 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dalam catatan Mirza, pada periode 2000-2010, CAD pernah mencatatkan surplus. Itu terjadi ketika harga komoditas berupa kelapa sawit, nikel, hingga timah, begitu tinggi. Tapi sekarang, sejak 2011, kita alami lagi seperti 1998. Ini yang buat kenapa suplai valuta asing selalu kurang.

Mirza mengungkapkan, kekurangan valas bisa ditutupi dari penanaman modal asing (PMA) yang masuk. Namun, yang paling dibutuhkan PMA berorientasi ekspor. Selama ini, kata mantan Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk itu, tahun defisit valas itu ditutup portofolio masuk.

Tetapi, tahun ini, portofolio yang masuk belum menggembirakan. Masalahnya, masih terjadi outflow dengan kisaran USD2 miliar sampai USD3 miliar. Kondisi itu terjadi, karena suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) terus naik, ditambah fakta ekonomi AS berjaya dengan berbagai indikatornya. Di sisi lain, ekonomi Eropa melambat sehingga portofolio kembali ke AS. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *