Pangsa Pasar Negara-negara Afrika Termasuk Target yang Disasar PTDI

Pesawat PT Dirgantara Indonesia jenis CN 235 dan N 219 cocok untuk kondisi geografis negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Latin

M Nasir

Ekonomi Update, Makro & Moneter Thursday, 11th October 2018 7:05:42 AM • 2 weeks ago


EmitenNews – Pangsa pasar negara-negara Afrika termasuk target yang disasar PT Dirgantara Indonesia untuk pesawat jenis CN 235 dan N 219. Pasalnya, kedua jenis pesawat tersebut cocok untuk kondisi geografis mereka. Pesanan untuk produk PT DI terus berdatangan, termasuk dari Australia untuk operasional di Antartika.

Direktur Utama PTDI, Elfien Goentoro, kepada wartawan, di Nusa Dua, Rabu (10/10/2018), mengungkapkan, sejumlah negara Afrika tertarik dengan pesawat CN 235 dan N 219 produksi PT Dirgantara Indonesia yang dipamerkan di Paviliun Indonesia di Nusa Dua, Bali. Setidaknya sudah ada Madagaskar, Kongo dan Sudan yang menyatakan tertarik dan dalam tahap penjajakan.

PT Dirgantara Indonesia turut berpameran di Paviliun Indonesia dalam penyelenggaraan Annual Meetings International Monetary Fund-World Bank  Group 2018, di Nusa Dua, Bali, 8-14 Oktober 2018. Keikutsertaan BUMN kedirgantaraan Indonesia dalam ajang pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia itu, bukan bertujuan menjual produk, namun lebih menunjukkan karya anak bangsa kepada para delegasi dari seluruh dunia.

Area Paviliun Indonesia yang menjadi bagian dalam ajang internasional itu, terbagi dari beberapa ruangan tematik. Antara lain, BUMN Hall, Area Workshop, Area Pameran, VIP Lounge, Investment Lounge, dan Stage pavilion/Coffee Shop. Para tamu dipersilahkan menelusuri setiap ruangan dengan keunikan masing-masing.

Sejumlah kementerian dan lembaga terlibat di dalamnya. Selain Kementerian BUMN, Indonesian Pavilion juga didukung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Kominfo dan Kementerian Keuangan.

Dari pameran itulah diketahui sejumlah Negara Afrika antusias terhadap produk pesawat PTDI. Kalau dari Eropa, kata Elfien Goentoro, baru ada Norwegia yang nanya-nanya. Produk CN 235 dan N 219, dua pesawat yang khusus untuk daerah dengan short take off dan landing sehingga mudah dioperasikan di daerah terpencil.

Sejauh ini, PTDI mampu memproduksi rata-rata 10 pesawat setahun. Tahun depan, sedikitnya empat pesawat sudah dipesan oleh Senegal, Nepal. dan Thailand. Senegal memesan pesawat CN 235 seharga USD25 juta, Nepal menginginkan pesawat CN 235 dengan konfigurasi pesawat maritime patrol seharga USD30 juta. Thailand dua pesawat N 219 seharga USD13 juta.

“Pesawat maritime patrol lebih mahal karena memerlukan kelengkapan seperti komputer, radar dan lain-lain, sedangkan kalau pesawat transportasi biasa kan cuma butuh kursi,” kata Elfien Goentoro.

Sampai saat ini PTDI sudah memproduksi 431 pesawat, 48 di antaranya diekspor ke Korea, Malaysia, Thailand, Turki, Brunei Darusalam, Filipina, Vietnam dan lain-lain. Pesawat PTDI pasarnya cocok untuk negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Latin, karena sesuai untuk medannya.

Direktur Niaga PTDI, Irzal Rinaldi, di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (7/9/2018), mengungkapkan, dalam tahun 2018, PT Dirgantara Indonesia mengekspor pesawat untuk empat Negara, Nepal, Senegal, Australia dan Pantai Gading. Untuk Australia, pesawat PTDI digunakan untuk operasional di kutub selatan atau Antartika. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *