Perluasan Penggunaan Biodiesel Hampir 100 Persen dari Target

Pemerintah berharap Pertamina melaksanakan program B20 dengan sungguh-sungguh, agar dapat menekan impor Solar

M Nasir

Ekonomi Update, Makro & Moneter Sunday, 16th September 2018 7:52:37 PM • 1 week ago


EmitenNews – Perluasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis biodiesel (B20) menggembirakan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengklaim pencampuran 20 persen biodiesel dalam BBM jenis Solar (B-20) telah hampir 100 persen dari target.

Dalam pernyataan resmi, Minggu (16/9/2018), Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto, mengungkapkan, perluasan B20 yang dicapai Pertamina sudah 80 persen dari target periode berjalan. Karena itu, ia  optimistis target 100 persen di akhir tahun 2018 takkan sulit tercapai.

Djoko berharap Pertamina bisa melaksanakan program B20 dengan sungguh-sungguh, agar dapat menekan impor Solar, dan pada gilirannya berimbas pada penghematan devisa. Maklum selama ini, impor BBM menguras devisa Negara, sehingga cukup memengaruhi pelemahan rupiah.

Direktur Logistik, Supply Chain & Infrastruktur Pertamina Gandhi Sriwidodo mengatakan, selama periode Januari hingga 14 September 2018, Pertamina telah menggunakan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) untuk campuran Solar sekitar 1,8 juta kiloliter (KL). Itu sudah mencapai 80 persen dari target periode berjalan, yaitu berkisar 2,265 juta KL.

Gandhi memastikan, sudah menjadi kewajiban Pertamina mensukseskan program pemerintah. Momentum ini, kata dia, bisa menjadi trigger untuk badan usaha yang lain agar lebih cepat dalam menjalankan program B20.

Sebelumnya, pemerintah mematikan akan menjatuhkan sanksi denda bagi  produsen biodiesel, jika tidak memenuhi kontrak pencampuran 20 persen biodiesel dalam BBM jenis Solar (B-20). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menyiapkan denda itu, yang diterapkan 1 September 2018.

Ketentuan tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri ESDM sebagai turunan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2018. Kementerian ESDM sudah menetapkan 19 badan usaha yang ditugaskan menyalurkan biodiesel hingga akhir tahun mendatang.

Kalau biodiesel tidak siap, termasuk terlambat datang, Kementerain ESDM memastikan, tetap kena denda. Besaran dendanya, Rp6 ribu per liter atas volume biodiesel yang seharusnya disalurkan ke badan usaha BBM.

Sanksi serupa sebenarnya pernah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2016. Di situ denda Rp6 ribu per liter akan dikenakan kepada badan usaha BBM jika tidak mencampur Solar dengan biodiesel. Denda dijatuhkan atas jumlah biodiesel yang seharusnya dicampur BBM. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *