#
Ilustrasi kantor KPU Kalimantan Timur. Empat calon kepala daerah di Kaltim terpapar virus corona. Mudah diduga keempat calon peserta Pilkada Serentak 2020 itu, terjangkit covid-19, di tengah aktivitas mereka mengikuti tahapan pemilihan kepala daerah. (Dok. Eksposkaltim).

Pilkada Serentak 2020 di Kalimantan Timur Diwarnai Ganasnya Serangan Virus Corona
Empat calon kepala daerah di Kaltim terpapar covid-19, dua orang di antaranya meninggal dunia. Fakta ini makin menyadarkan kita akan pentingnya menjalankan protokol kesehatan

EmitenNews.com – Pilkada Serentak 2020 di Kalimantan Timur diwarnai dengan mengganasnya serangan virus corona. Empat calon kepala daerah di Kaltim terpapar virus yang dikabarkan berasal dari Wuhan, Hubei, China itu, dua di antaranya meninggal dunia. Fakta yang dikumpulkan sampai Sabtu (3/10/2020) ini, seharusnya makin menyadarkan kita akan pentingnya menjalankan protokol kesehatan dengan baik.

Dari empat calon yang terpapar, dua di antaranya meninggal dunia itu, Bupati Berau Muharram sebagai calon bupati petahana dan calon wali kota Bontang Adi Darma. Dua lagi yang juga terpapar, calon petahana Plt Bupati Kutai Timur Kasmidi Bulang dan calon wakil bupati Kutai Timur Uce Prasetyo.

Mudah diduga keempat calon peserta Pilkada Serentak 2020 itu, terjangkit virus corona penyebab coronavirus disease 2019 atau covid-19, di tengah aktivitas mereka mengikuti tahapan pemilihan kepala daerah. Perhelatan pesta demokrasi itu, sedang berproses di KPU masing-masing kabupaten dan kota. Masing-masing kandidat sedang menyusun strategi kampanye, menuju hari pencoblosan Rabu (9/12/2020).

Kepada pers, Komisioner KPU Kalimantan Timur, Mukhasan Ajib menuturkan, sejak awal pendaftaran, KPU setempat telah menerapkan protokol Covid-19 secara ketat. Semua itu diatur dalam PKPU Nomor 6 tahun 2020 tentang Pelaksaan Pemilihan Gubernur dan Wakil, Bupati dan Wakil, Wali Kota dan Wakil Serentak Dalam Kondisi Pandemi Covid-19.

Fakta di lapangan tidak sepenuhnya bisa dikontrol, sehingga terkadang terjadi pelanggaran. Misalnya, kata Ajib seperti dikutip dari Kompas.com, Jumat (2/10/2020) malam, waktu pendaftaran calon di Kota Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, banyak pendukung ikut ke KPU.

Sebenarnya, sesuai aturan KPU sudah membatasi orang yang masuk areal KPU dalam setiap tahapan dengan standar protokol ketat. Namun, yang terjadi kemudian ada penumpukan massa pendukung pasangan calon di luar areal KPU atau jalanan. Ajib berkilah, di luar areal KPU bukan lagi kewenangan pihaknya.

“KPU memberitahu ke paslon untuk tidak mengumpulkan massa. Paslon dan tim kampanye harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Selain itu, Bawaslu kabupaten dan kota juga berhak mengawasi pelanggaran protokol Covid-19 selain regulasi dan tahapan Pilkada. Pilkada tahun ini Bawaslu mendapat tambahan kewenangan mengawasi penerapan protokol Covid-19. Tetapi, itulah kejadian di lapangan lumayan susah dikontrol.

Kendati demikian, belum ada sanksi tegas bagi paslon atau tim kampanye jika terbukti melanggar protokol Covid-19. Yang ada, masih sebatas teguran administrasi. Tidak sampai ke diskualifikasi peserta pemilihan kepala daerah, karena belum ada aturan hukumnya. ***

 

Check Also

Meski Bertambah di Bawah 4 Ribuan Penderita Selasa Ini, Kasus Covid-19 di Indonesia Tetap Tinggi
Selasa, 20 Oktober 2020 kasus infeksi virus corona bertambah 3.602 orang. Alhasil total penderita covid-19 di Tanah Air saat ini mencapai 368.842 orang

EmitenNews.com – Masih terjadi penularan virus corona penyebab coronavirus disease 2019 (covid-19) di tengah-tengah masyarakat. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: