#

PT Mark Dynamics Indonesia (MARK) Bidik Pasar Sarung Tangan Karet

EmitenNews.com – Permintaan sarung tangan karet global tumbuh konsisten dalam 15 tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan permintaan tahunan antara 8 – 10 persen. Sementara saat ini pasokan yang tersedia belum dapat memenuhi seluruh permintaan global.

Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK), Ridwan Goh dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/4) mengatakan, bahwa kapasitas produksi empat produsen utama sarung tangan karet di Malaysia mencapai 169 miliar unit sementara kebutuhan dunia pada tahun 2018 mencapai 268 miliar unit.

Menurutnya, sarung tangan karet merupakan produk yang hanya sekali pakai (disposable) dan banyak digunakan pada industri kesehatan, farmasi, makanan dan minuman, elektronik, industri, rumah tangga dan medis. Luasnya bidang pemakaian sarung tangan karet mendorong industri pendukung utamanya, yaitu produsen cetakan sarung tangan memperoleh kesempatan besar untuk tumbuh dan berkembang secara pesat.

“Kami merupakan produsen cetakan sarung tangan terkemuka di dunia dan merupakan pemasok utama bagi produsen-produsen sarung tangan di dunia,” kata Ridwan.

Ditambahkan Ridwan pada tahun 2019, diperkirakan konsumsi sarung tangan karet dunia akan mencapai 300 miliar unit, dengan nilai pasar mencapai 4,8 miliar US Dollar atau setara dengan Rp 67,871 triliun (dengan kurs Rp 14.100/US Dollar). Malaysia sebagai pemasok utama akan memberikan kontribusi sebesar 63%, diikuti oleh Thailand sebesar 18%, China sebesar 10% dan Indonesia sebesar 3%.

Pasar sarung tangan karet dunia sangat menjanjikan mengingat konsumsi terbesar masih berasal dari negara-negara maju di Eropa dan Amerika, serta Jepang. Negara-negara Asia memiliki tingkat konsumsi yang relatif rendah, dari 30 negara pengguna terbesar Tiongkok yang berpenduduk terbesar di dunia berada di posisi ke 28, Indonesia di posisi ke 29 dan India di posisi 30. Sehingga dengan semakin banyaknya negara yang berkembang disertai perhatian besar terhadap kesehatan akan mendorong peningkatan permintaan sarung tangan karet.

Permintaan cetakan sarung tangan pun tidak akan mengalami penurunan mengingat untuk setiap cetakan masa pakai maksimum hanya satu tahun. Penggunaan cetakan dalam jangka panjang akan merusak kualitas sarung tangan yang diproduksi. Perseroan menurut Ridwan, mengambil keuntungan dari kondisi ini dengan menggunakan bahan sisa cetakan sarung tangan untuk didaur ulang sebagai salah satu bahan baku produk sanitary ke depannya.

Ridwan menyatakan Perseroan akan mengambil peran penting dalam pertumbuhan pasar yang menjanjikan pada produk sarung tangan karet. Sebagai pemasok utama bagi produsen sarung tangan, dengan porsi terbesar ekspor ke Malaysia, kontribusi pertumbuhan pasar ini sudah dirasakan Perseroan. Jumlah produksi cetakan sarung tangan Perseroan pada tahun 2018 mencapai 6,4 juta unit atau meningkat sebesar 28 persen dibandingkan dengan 5 juta unit pada tahun 2017.

Peningkatan produksi ini diikuti dengan peningkatan nilai penjualan sebesar 35,7 persen pada tahun 2018 menjadi Rp 325,47 miliar dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar Rp 239,79 miliar. Pasar ekspor mencapai Rp 303,33 miliar atau sebesar 93,20 persen dari total penjualan Perseroan. Diiringi dengan tingkat biaya yang lebih rendah pada tahun 2018 Perseroan berhasil mencatat kenaikan laba komprehensif sebesar 67,09 persen menjadi Rp 82,29 miliar, dibandingkan tahun 2017 sebesar Rp 49,25 miliar, dengan rasio margin laba komprehensif yang juga meningkat menjadi 25,28 persen dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 20,54 persen.

Check Also

BNI Syariah Catat Realisasi Pembiayaan Rp 225 Miliar di HUT RI-74

EmitenNews.com – Dalam rangka menyambut HUT RI ke-74 pada 17 Agustus 2019, BNI Syariah menyelenggarakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *