#
Susanna Main Hall BEI, Jakarta. Foto : EN

Saham BUMN Dorong Kenaikan IHSG

EmitenNews – Setelah lesu sehari sebelumnya, transaksi perdagangan saham berlangsung ramai hari ini (31/05). Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 44,764 poin (0,786 persen) ke level 5.738,155 dan indeks LQ45 naik 8,19 poin (0,86 persen) ke level 957,70.

Volume perdagangan saham hari ini mencapai 13,680 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 383.341 kali atau senilai Rp 14,166 triliun. Sebanyak 189 saham naik, sebanyak 156 saham turun, dan sebanyak 202 saham tidak mengalami perubahan harga.

Nilai kapitalisasi pasar saham (market cap) naik menjadi Rp 6.250 triliun hari ini. Meski begitu, investor asing justru melakukan aksi jual dengan penjualan bersih sebesar Rp 476,6 miliar pada perdagangan hari ini.

Di antara daftar 10 saham penggerak IHSG hari ini, saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dominan. Antara lain saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang naik 1,9 persen, saham PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) yang naik 13,9 persen, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,4 persen, saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) naik 24,3 persen, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (KRAS) naik 0,5 persen, dan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) naik 2,7 persen.

Ramai disebut bahwa saham-saham BUMN terutama yang berpotensi berkaitan dengan proyek infrastruktur direspon positif pasar. Hal tersebut seiring pernyataan Menkeu Sri Mulyani bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi mencapai 5,3 persen tahun ini dan akan ada tambahan pajak sekitar Rp 15 triliun. Asupan dana itu akan dialokasikan untuk belanja Negara terutama untuk infrastruktur.

Bursa unggulan di Asia ditutup beragam hari ini; indeks Composite Shanghai naik 0,23 persen dan indeks Straits Times naik 0,19 persen. Sebaliknya indeks Nikkei 225 turun 0,14 persen dan indeks Hang Seng melemah 0,16 persen.

Data positif perekonomian Indonesia memang cukup menjadi sentiment positif hari ini. ”Kami memerediksi indeks harga konsumen (IHK-CPI) dapat naik 0,34 persen Month on Month/MoM (secara bulanan) pada Mei 2017 (vs prediksi konsensus 0,38 persen MoM), sehingga membuat angka inflasi tahunan 4,3 persen Year on Year (masih sejalan dengan prediksi akhir 2017-Year End 2017 4,2 persen),” ungkap ekonom Mandiri Sekuritas, Leo Rinaldy, dalam risetnya, hari ini.

Data itu secara resmi akan diumumkan BPS pada Jumat, 2 Juni 2017. ”Secara umum, penyebab utama inflasi kami prediksi akan disebabkan oleh kenaikan tarif listrik tahap terakhir dan juga kenaikan harga non-makanan,” terusnya.

Yang menarik, kata dia, harga makanan relatif stabil setelah periode musim panen dan sebelum bulan Puasa. Pihaknya memerediksi inflasi inti dapat naik menjadi 3,4 persen YoY dari 3,3 persen pada April 2017.

”Kami meyakini bahwa stabilnya harga makanan merupakan dampak dari operasi pasar pemerintah, yang termasuk membuka jendela impor,” yakinnya.

Sebaliknya pendorong inflasi Mei 2017 diprediksi akan disebabkan oleh penaikan tarif listrik 900VA. Serupa dengan kenaikan tarif tahap satu dan kedua, penaikan tarif terakhir tersebut akan berdampak langsung pada 40 persen konsumen prabayar pada Mei 2017, dan sisanya akan menyusul pada Juni 2017.

 

Check Also

Pendapatan Turun, Laba Diamond Food Indonesia (DMND) Susut 36,9 Persen di Kuartal III-2020

EmitenNews.com – PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND) mencatat total pendapatan sebesar Rp4,44 triliun di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: