#
Suasana trading floor yang kini menjadi main hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta. Foto: EN

Saham Malah Tertekan Saat Rupiah Terus Menguat

Emitennews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) awal pekan tertahan di zona merah, meninggalkan level psikologis 5.600. Pada penutupan perdagangan hari ini (17/04) indeks acuan pasar saham Indonesia turun 39,058 poin (0,695 persen) ke level 5.577,487.

Aktivitas transaksi saham dalam negeri pada awal pekan ini terbilang lesu. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 238.206 kali dengan volume sebanyak 9,475 miliar saham atau sebesar Rp 5,595 triliun. Nilai kapitalisasi pasar saham (market cap) juga turun menjadi Rp 6.070 triliun.

Meski begitu investor asing masih dalam posisi aksi beli. Pembelian bersih oleh investor asing (foreign net buy) hari ini sebesar Rp 884,4 miliar sehingga total capital inflow yang terjadi secara year to date sejak awal tahun hingga hari ini sebesar Rp 15,786 triliun.

Aliran dana masuk investor asing ke pasar saham seiring terus menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS (USD). Data kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat Rupiah ditutup di 13.255 per USD hari ini dibandingkan 13.264 pada Kamis (13/04).

Penurunan IHSG terjadi di tengah beragamnya pergerakan bursa saham unggulan di Asia pada hari ini. Indeks Composite Shanghai di Tiongkok ditutup turun 0,74 persen dan indeks Straits Times Singapura turun 0,98 persen. Sebaliknya indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,11 persen dan indeks Kospi di Korea Selatan naik 0,51 persen.

Pemerintah merilis data neraca perdagangan kembali surplus pada Maret 2017. Untuk periode Maret 2017 mencapai USD 1,23 miliar. Sementara secara kumulatif kuartal I-2017 (Januari-Maret), surplus tercatat mencapai USD 3,93 miliar.

Dalam tiga tahun terakhir, suplus untuk kuartal I-2017 menjadi paling tinggi. Pada 2014 tercatat surplus USD 1,41 miliar, 2015 sebesar USD 2,23 miliar, dan 2016 surplus sebesar USD 1,65 miliar.

Ekspor Indonesia pada Maret 2017 tercatat sebesar USD 14,59 miliar. Dibandingkan bulan sebelumnya, ekspor naik 15,68 persen. Sementara dibandingkan Maret 2016, ada kenaikan ekspor 23,53 persen.

Dari porsinya, ekspor non migas mendominasi sebesar 90 persen. Kenaikan ekspor dari sisi nilai memang tidak setinggi volumenya. Ini dikarenakan penurunan harga komoditas kelapa sawit.

Ekspor Migas (minyak dan gas bumi) dengan porsi 10 persen memiliki nilai USD 1,48 miliar. Faktor pendorongnya adalah harga minyak mentah dan gas.

Untuk pangsa ekspor non migas, Januari-Maret 2017, ekspor terbesar tetap ke Tiongkok dengan kontribusi mencapai 12,79 persen atau USD 4,69 miliar. Selanjutnya Amerika Serikat (AS) sebesar USD 4,29 miliar dengan porsi setara 11,70 persen, dan India USD 3,41 miliar dengan porsi 9,29 persen.

Sedangkan nilai impor Indonesia pada Maret 2017 mencapai USD 13,3 miliar atau naik USD 2 miliar setara 17,65 persen dibanding Februari 2017. Hal tersebut disebabkan oleh naiknya nilai impor nonmigas senilai USD 2,2 miliar atau 24,94 persen. Impor migas turun 8,54 persen.

Sementara itu jika dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, nilai impor Indonesia pada Maret 2017 mengalami peningkatan USD 2,05 miliar atau 18,19 persen. Peningkatan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing USD 709,5 juta atau 45,7 persen.

Peningkatan impor migas disebabkan oleh naiknya impor minyak mentah sebesar USD 27,2 juta (4,37 persen), hasil minyak USD 546,1 juta (69,51 persen), dan gas USD 136,2 juta (94,26 persen).

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Maret 2017 ditempati oleh Tiongkok senilai USD 7,75 miliar (25,75 persen), Jepang USD 3,42 miliar (11,34 persen), dan Thailand USD 2,15 miliar (7,15 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 20,87 persen, sementara dari Uni Eropa 9,45 persen.

Ekonom Mandiri Sekuritas, Leo Rinaldy, menyebut ada perkiraan volume ekspor akan melemah disebabkan Purchasing Manager Index (PMI) yang menjadi partner utama trading seperti AS, Eropa dan Jepang menurun. Selain itu, Indonesia melakukan ekspor ke Tiongkok-berdasarkan database Tiongkok-penurunan sebesar 31 persen year on year (YoY) dari 73 persen YoY di Februari 2017.

”Bebebrapa indikator menyatakan kegiatan domestik perekonomian khususnya investasi telah jelas. Indeks PMI Indonesia naik menjadi 50,5 di Maret 2017 dimana konsumsi semen meningkat menjadi 3,5 persen YoY dari 0,5 persen YoY di Februari 2017,” tuturnya, hari ini (17/04).

Tim Riset Reliance Securities menyebut, dari global, uji coba misil oleh Korea Utara dilaporkan gagal, namun AS dan Tiongkok telah menyatakan komitmennya untuk bekerja bersama mengatasi ancaman baru ini. Wakil Presiden AS Mike Pence menyatakan komitmennya untuk turut menjaga keamanan Korea Selatan dalam kunjungannya ke negara tersebut.

Presiden AS, Donald Trump sendiri menegaskan kembali bahwa Tiongkok tidak memanipulasi mata uangnya walaupun tetap mengharapkan apresiasi Yuan.

Sedangkan dari Tiongkok, dalam pekan ini investor sedang menanti rilis data PDB kuartal pertama negara itu yang diperkirakan tetap stabil di 6,8 persen.

Check Also

Pemerintah Pangkas Libur Akhir Tahun dan Cuti Bersama, 28-30 Desember 2020 Hari Kerja
"Tetapi tetap akan ada dua libur yakni Libur Natal dan Libur Tahun Baru. Kemudian ditambah satu pengganti libur Idul Fitri," kata Menko PMK Muhadjir Effendi

EmitenNews.com – Pemerintah memangkas libur akhir tahun dan cuti bersama Desember 2020. Ada tiga hari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: