#
Foto: EN

Sebanyak 52 Perusahaan Potensial Tambah Market Cap Rp400 Triliun

EmitenNews – Terdapat setidaknya 52 pihak mendapat sindiran dari presiden Joko Widodo (Jokowi) dan regulator pasar modal Indonesia. Mereka adalah perusahaan-perusahaan tercatat di bursa saham lain yang semestinya mencatatkan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan memiliki potensi tambahan kapitalisasi pasar saham (market cap) sekitar Rp 400 triliun.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan data yang dimilikinya mencatat ada 52 perusahaan yang pendapatannya lebih dari 50 persen dari Republik Indonesia tetapi memilih berbagi keuntungan dengan negara dan masyarakat di negara lain karena tidak listing di Indonesia. Mereka terdiri atas perusahaan dari berbagai sektor mulai dari perdagangan, properti, perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan lainnya.

”Kalau revenue atau asetnya 50 persen ada di Indonesia, ini kok listed-nya di luar. Jadi saya laporkan (ke Presiden) saya bilang itu wajib di sini. Presiden bilang ‘saya minta daftarnya’. Saya kasih ke beliau,” ungkap Tito usai menerima kunjungan kerja Presiden Jokowi di gedung BEI, hari ini (04/07).

Tito mengatakan pihaknya sudah mulai mengimbau kepada perusahaan dimaksud. Contoh PT Freeport McMoran Indonesia yang pendapatan terbesarnya dari Indonesia. ”Pantas dong Freeport listed di sini. Itu yang kayak begitu ada 52 tuh. Mereka listed di Malaysia, Singapura, China, Australia, kami mau datangi mereka untuk menghimbau mereka listing di Indonesia juga,” paparnya.

Jika memang hendak dual listing, artinya tetap tercatat di bursa negara lain sekaligus ingin tercatat di BEI, Indonesia memiliki Civil Law dan Common Law. Memang itu pun masih ada tantangannya karena regulasi belum harmonis.

”Kalau perusahaan Indonesia listed di luar itu biasanya pakai ADR (American Depository Receipt). Itu ada harmonisasi dari peraturan yang susah, karena di Indonesia kan badan hukumnya harus PT, mereka kan limited liability,” terusnya.

Tapi terkait kesulitan itu sedang diupayakan agar tetap bisa terealisasi. ”Pada dasarnya kami sudah berbicara dengan OJK akan membuat peraturan jika mereka sudah listing di luar negeri, mungkin ada relaksasi. Kalau sudah disetujui listing di luar negeri kayak di sana peraturan audit report-nya, mungkin akan lebih cepat di sini, mungkin semacam itu,” Tito menggambarkan.

Semestinya para calon emiten itu tertarik untuk masuk pasar saham Indonesia. Sebab ada dua indikator yang mulai mendukung yaitu likuiditas dan aktivitas. ”Likuiditas kita naik 24 persen dibanding tahun lalu. Kita sudah  kali empat lebih tinggi dari Singapura dan kali dua dari Malaysia dalam hal likuiditas. Infrastruktur, komputer kami naik ke Tier 3, bulan depan pindah ke satu tempat, saya tidak boleh bilang di mana, tapi transaksi nanti akan bisa 15 juta per hari dari 5 juta order per hari,” paparnya.

Tito mengatakan market cap dari 52 perusahaan itu adalah di atas Rp 400 triliun. ”Saya sudah datangi ada beberapa dan prinsipnya mereka setuju. Newmont sudah berbicara katanya mau listing,” ucapnya.

Market Cap di BEI pada penutupan perdagangan Senin (03/07) tercatat sebesar Rp 6.459 triliun. ”IHSG kan tembus level 5.900. IHSG bisa naik bisa turun. Artinya apa? pasar menilai negara kita Indonesia ini memiliki prospek yang bagus untuk berinvestasi,” ucap Presiden Jokowi di gedung BEI, hari ini (04/07).

Maka Jokowi mengajak perusahaan-perusahaan yang memang mengambil untung dari Indonesia seperti 52 perusahaan dimaksud untuk berkontribusi ke pasar modal Indonesia. ”Ya kita ingin mengajak. Kita nggak memaksa, tapi mengajak. Akan kita undanglah, kita ajak baik-baik. Produksinya saja di dalam negeri, Indonesia, berkebun di Indonesia, masa listed di luar,” sindirnya.

Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK, Nurhaida, mengatakan terkait dengan relaksasi peraturan, pihaknya akan melakukan beberapa kemudahan. ”Nanti kita akan lihat ada nggak peraturan-peraturan yang menghambat peraturan lain yang membuat mereka merasa berat untuk listing di Indonesia,” terangnya.

OJK akan melakukan sejumlah perbaikan terkait agar tercipta kemudahan bagi perusahaan disasar listing di Indonesia. ”Jangan sempai kemudahan itu membuat investor tidak mendapatkan haknya dan lain-lain,” terusnya.

Ke depan, Nurhaida menargetkan segala peraturan di pasar modal akan lebih akomodatif agar kemudian perusahaan itu bisa masuk ke Indonesia. ”Kemudian kita tahu dengan semakin besar atau banyaknya emiten yang ada di Indonesia itu akan membuat likuiditas di market juga akan meningkat kemudian pasar modal kita juga lebih likuid,” harapnya.

Check Also

Masih ada Waktu bagi Pelaku UMKM Terdampak Covid-19 untuk Peroleh BLT Rp2,4 Juta
Bagi pelaku UMKM yang berminat, dipersilakan mendaftar melalui Dinas Koperasi dan UMKM daerah sesuai domisili. Di beberapa wilayah, ada juga yang membuka pendaftaran online

EmitenNews.com – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bergembiralah. Pemerintah memperpanjang program Bantuan Langsung …

%d bloggers like this: