Tambah Jumlah Investor, KSEI Siapkan E-Proxy dan E-Voting Di 2018

andi baco

Regulator Update Wednesday, 27th December 2017 6:03:32 PM • 11 months ago


Emitennews –Memasuki dua dasawarsa, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengembangkan e-proxy dan e-voting, kedua aplikasi ini diharapkan dapat mengembangkan pasar modal Indonesia. KSEI mencatat per 20 Desember 2017 jumlah investor pasar modal Indonesia sebesar 1,12 juta investor meningkat 24,25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 894 ribu investor.

Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi mengatakan, untuk lebih meningkatkan jumlah investor di tahun depan, pihaknya mengagendakan implementasi electronic proxy (e-proxy) platform untuk memudahkan investor berpartisipasi dalam kegiatan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Untuk itu KSEI telah menunjuk Merkezi Kayit Kurusulu selaku lembaga Kostodian Sentral dari Turki sebagai lembaga yang mengembangkan platform tersebut. E-proxy tahap awal dari pengembangan electronic voting (e-voting) platform.

“e-proxy dan e-voting perlu diterapkan di Indonesia karena kondisi geografis yang terbentuk kepulauan dengan domisili investor yang tersebar diberbagai tempat, baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga diharapkan platform ini menjadi solusi bagi investor yang harus menghadiri RUPS diwaktu bersamaan. Dengan e-proxy, investor dapat memberikan kuasa secara elektronik kepada perwakilan yang akan hadir di RUPS,” ucap Friderica Widyasari Dewi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Beberapa terobosan yang dilakukan KSEI dua dasawarsa terakhir yakni bersinergi dengan Bank Indonesia terkait penatausahaan dan penyelesaian transaksi sertifikat deposito yang ditransaksikan di pasar uang melalui penandatanganan kerjasama pada tanggal 20 Desember 2017.

Dengan ditunjukknya KSEI sebagai lembaga penyimpimpanan penyelesaian sertifikat deposito di pasar uang serta dukungan sinergi antara Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia.

Kerjasama juga dilaksanakan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan KSEI terkait kewajiban penggunaan layanan pengelolaan sistem informasi terpadu (S-Invest) untuk kegiatan transaksi dasar.

“untuk memperluas jaringan pasar modal, KSEI telah menambah jumlha bank rekening dana nasabah (RDN) dari 12 Bank RDN menjadi 14 Bank RDN yakni Bank BTN dan Bank OCBC NISP, penambahan Bank RDN ini akan memudahkan calon investor ke pasar modal,”tambah Friderica Widyasari Dewi.

KSEI mencatat jumlah investor per 20 Desembr 2017 jumlah investor di pasar modal Indonesia tercatat sebanyak 1.118.913 investor meningkat 25,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama sebesar 894.116 investor.

Jumlah tersebut merupakan Single Investor Identification (SID) terkonsolidasi yang terdiri dari investor saham, surat utang, Reksa Dana, Surat Berharga Negara (SBN) dan efek lain yang tercatat di KSEI.

Sementara itu C-Best mengalami pertumbuhan sebesar 19,33 persen menjadi Rp 4.269,04 Triliun. Total asset yang tercatat di C-Best selama 2012 hingga Desember 2017 meningkat 54,5 persen dari Rp 2.762,22 Triliun menjadi Rp 4.269.04 Triliun. Kenaikan tersebut seiring meningkatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal.

Total aset di C-Best per 20 Desember 2017 didominasi kepemilikan investor lokal sebesar 54,59 persen. Persentasi tersebut meningkat dari tahun sebelumnya dimana kepemilikan lokal mencapai 51,77 persen  Adapun demografi investor didominasi investor pria (59,3%), usia 21-3- tahun (26,24%) dengan status pegawai swasta dan pendidikan sarjana (52,21%).

Friderica menambahkan untuk tahun depan, KSEI mempersiapkan langkah strategis salah satunya implementasi C-Best Next Generation (C-Best Next-G) dan pembaharuan Fasilitas AKSes KSEI bagi investor, pengawasan integrasi, simplikasi pembukaan rekening serta infrastruktur Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).