Tumpukan Sampah di Perairan Berpotensi Merusak Ekosistem Indonesia

Indonesia nomor dua di dunia yang paling banyak membuang sampah ke laut, setahun sekitar 3,2 juta ton limbah plastik

M Nasir

Ekonomi Update, Sektor Riil Sunday, 25th November 2018 5:56:00 PM • 2 weeks ago


EmitenNews – Laut di Indonesia terancam. Pasalnya, banyak tumpukan sampah di perairan Indonesia yang berpotensi merusak ekosistem laut. Indonesia penyumbang sampah terbanyak kedua di laut. Tahun 2030 kalau sampah tidak dikurangi, akan lebih banyak sampah dari pada ikan. Jadi, jangan lagi membuang sampah sembarangan, dan kurangi pemakaian kantong plastik.

“Sekarang sampah mengancam laut kita. Kesejahteraan hidup terganggu karena sampah. Bukan karena kita kurang uang, kurang kerja, bukan, tapi karena sampah,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, di Jakarta, Minggu (25/11/2018).

Menteri Susi tak bisa melupakan kesedihan melihat terdamparnya seekor paus yang tewas di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Dalam perut ikan itu, ditemukan sampah plastik seberat 5,9 kilogram. Peristiwa pilu itu tak akan terjadi jika masyarakat tidak membuang sampah ke laut. “Saya mentweet ada kura-kura mati keselek sedotan. Paus mati di dalamnya ada sandal. Kasian makhluk ini mati karena keteledoran kita.”

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan bisa mengeliminasi sampah di laut sebesar 70 persen pada 2025. Beragam strategi disiapkan guna merealisasikan target besar tersebut. Salah satunya, memastikan kegiatan pembersihan pantai selama satu bulan sekali.

Kepada pers, di Jakarta, Senin (13/8/2018), Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Brahmantya Satyamurti menyatakan, ada tiga hal utama fokus KKP dalam upaya pembersihan pantai. Pertama, menjaga agar sampah plastik di daratan tidak berakhir di laut. Kedua, menekankan upaya daur ulang sampah plastik dan ketiga, mengubah pola pikir masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.

Kementerian yang dipimpin Susi Pudjiastuti, KKP, telah menganggarkan Rp10 miliar, tahun lalu. Sebanyak Rp2,5 miliar untuk membeli 11 mesin pencacah plastik yang ditempatkan di 11 titik dan membeli mesin kompos organik dari air untuk ditempatkan di enam titik. Sisanya Rp7,5 miliar, untuk gerakan Gita Laut berupa pelatihan, sekolah bahari, dan pembersihan pantai, serta peletakan tempat sampah di beberapa destinasi wisata.

“Tahun ini, KKP masih menyediakan anggaran sekitar Rp 10 miliar. Itu juga untuk kapal pengumpul sampah, fokusnya di Labuan Bajo,” ucap Brahmantya.

Persoalan sampah di laut masih menjadi momok di Indonesia. Mengutip penelitian University of Georgia, Brahmantya menyebutkan, Indonesia termasuk 10 besar negara penyumbang sampah plastik terbanyak ke laut, dengan perkiraan 0,48-1,29 juta metrik ton per tahun.

Direktur Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia, Tiza Mafira, menyatakan, Indonesia, negara terbesar nomor dua dunia yang paling banyak membuang sampah ke laut. Berdasarkan data BPS dan Asosiasi Industri Plastik Indonesia, dalam setahun, sekitar 3,2 juta ton limbah plastik, berakhir di laut. Kata dia, solusinya, mencegah penggunaan plastik sekali pakai. ***

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *