Wagub Sumsel Akui Pembangunan LRT Palembang Memiliki Sejumlah Kelemahan

Light Rail Transit di Sumsel itu belum mampu mendorong sebagian besar masyarakat beralih ke angkutan masal itu

M Nasir

Ekonomi Update, Makro & Moneter Thursday, 7th February 2019 10:06:35 PM • 2 weeks ago


EmitenNews – Wakil Gubernur Sumatera Selatan Mawardi Yahya mengakui pembangunan sarana dan prasarana Light Rail Transit (LRT) Palembang memiliki sejumlah kelemahan. Selain kurangnya kajian mendalam, proyek tersebut dinilai terkesan asal jadi, karena harus selesai sebelum pembukaan Asian Games, 18 Agustus 2018.

“Akibatnya, LRT tersebut belum mampu mendorong sebagian besar masyarakat beralih ke angkutan masal itu. Mungkin pengkajiannya agak kurang dan terburu-buru karena ada Asian Games 2018,” kata Wagub Sumsel Mawardi Yahya kepada pers, Kamis (7/2/2019).

Karena masih minimnya orang yang menggunakan LRT, pendapatan dari penjualan tiket belum bisa menutupi biaya operasional. Sialnya, subsidi dari pemerintah pusat terancam dicabut karena membebani anggaran. Karena tak mungkin mensubsidi LRT, Pemprov Sumsel dan Kementerian Perhubungan akan mencari solusi agar LRT tetap beroperasi. Pemerintah daerah berkeberatan mensubsidi operasional LRT itu.

Sebelum resmi digunakan dalam penyelenggaraan Asian Games 2018, Presiden Joko Widodo, Juli 2018, sempat menjajal kereta ringan Light Rail Transit pertama di Indonesia itu. Jalur LRT Palembang sepanjang 22,3 kilometer itu memiliki 13 stasiun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Menurut Ketua DPRD Sumatera Selatan, Aliandra Gantada, Pemprov Sumsel,  dan Pemerintah Kota Palembang berkewajiban mengajak masyarakat mengoptimalkan penggunaan LRT. Selain itu, PT. KAI selaku operator diminta meningkatkan sosialisasi agar LRT bisa jadi solusi transportasi massal.

Pembangunan infrastruktur yang tak efisien di era Pemerintahan Joko Widodo dikritik Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Suhendra Ratu Prawiranegara. Ia mencontohkan pembangunan Light Rail Transit di Palembang yang malah membebani keuangan negara.

Kepada pers di Media Center BPN, Rabu (5/2/2019), Suhendra menyebutkan, pemasukan LRT Palembang tidak memenuhi target. Pasalnya, pemerintah masih harus mengeluarkan anggaran Rp10 miliar per bulan untuk operasional, karena pemasukannya hanya Rp1 miliar. “Ada gap Rp9 miliar yang harus disubsidi dan ini sampai kapan?”

Tidak heran kalau Suhendra mempertanyakan fungsi pembangunan LRT di Palembang terkait Asian Games 2018. Prioritas AG 2018, pembangunan venue-venue perlombaan. Ia heran karena seolah-olah LRT yang menjadi proyek utama untuk mensukseskan Asian Games 2018 di Palembang. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *