YLKI: Tol Trans Jawa Terancam tak jadi Instrumen untuk Menurunkan Biaya Logistik

Terlalu mahal bagi pengusaha truk logistik untuk menanggung tarif tol Trans Jawa yang mencapai Rp1,5 juta

M Nasir

Ekonomi Update, Makro & Moneter Friday, 8th February 2019 1:58:09 PM • 1 week ago


EmitenNews – Tol Trans Jawa terancam tidak menjadi instrumen untuk menurunkan biaya logistik, dan pengurai kemacetan. Pasalnya, tarif tol dinilai mahal baik untuk kendaraan pribadi, maupun angkutan truk logistik. Akibatnya, sejak diresmikan, tol trans Jawa tergolong sepi. Bappenas usul ada tarif khusus untuk truk angkutan logistik.

Demikian benang merah dari keterangan Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, yang dirangkum, Jumat (8/2/2019).

YLKI menyoroti tarif tol Trans Jawa yang dinilai masih mahal, baik untuk kendaraan pribadi maupun angkutan barang atau truk. Akibatnya, kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, di Jakarta, Kamis (7/2/2019), volume trafik di jalan tol Trans Jawa, masih tampak sepi, lengang, terutama selepas ruas Pejagan. Ia melihatnya seperti bukan jalan tol, yang senantiasa ramai.

Karena itu, usulan agar tarif tol Trans Jawa dievaluasi atau diturunkan, cukup rasional. Tulus mengklaim, masih sepinya jalan tol Trans Jawa, jelas dipicu oleh tarif tol yang mahal. Jika kondisinya tak berubah, Tol Trans Jawa terancam tidak akan menjadi instrumen untuk menurunkan biaya logistik, dikarenakan mayoritas angkutan truk tidak mau masuk jalan tol.

Ketua Aptrindo, Gemilang Tarigan, menyatakan sopir tidak dibekali biaya untuk masuk tol. Kecuali untuk tol Cikampek. Truk akan masuk tol Trans Jawa, jika biaya tol ditanggung oleh penerima barang. Terlalu mahal bagi pengusaha truk untuk menanggung tarif tol Trans Jawa yang mencapai Rp1,5 juta.

Harga makanan dan minuman di tempat peristirahatan (rest area) juga dirasa masih mahal. Pengelola tol diminta menurunkan biaya sewa lahan bagi para tenant, yang berimbas pada tingginya harga makanan dan minuman. Tulus juga meminta para penyewa ruang atau tempat berjualan di rest area, agar mencantumkan daftar harga makanan/minuman, dan barang jualannya.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengusulkan ada tarif khusus bagi truk pengangkut logistik yang melintasi Tol Trans Jawa. Kepada pers, di kantornya, Jakarta, Jumat (8/2/2019), ia mengatakan, yang paling penting ada hitung-hitungan antara operator tol dengan potential user.

‚ÄúDari situ ditentukan harga yang bisa atau mungkin ada harga khusus yang bisa diberikan kepada angkutan truk,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, Tol Trans Jawa dibangun sebenarnya untuk memudahkan angkutan barang. Dengan adanya tol tersebut, diharapkan dapat memangkas biaya logistik. Ia melihat jalan tol sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Karena, adanya jalan tol kelancaran transportasi menjadi lebih baik, biaya logistik bisa turun.”

Seperti diketahui, pengusaha logistik mengeluhkan mahalnya tarif Tol Trans Jawa hingga kargo pesawat. Tingginya tarif tol jadi salah satu permasalahan yang harus dihadapi oleh para pengusaha logistik. Pengusaha harus mengeluarkan ongkos lebih besar untuk menunjang usahanya. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *