#
Dirut KSEI Friderica Widyasari Dewi (kerudung orange) bercengkrama dengan para anak yatim ditemani direksi KSEI lainnya pada Bukber di Main Hall BEI, Jumat (12 Juni 2017). Foto: EN

Cerita Kentut Setan di Bukber KSEI Bersama Anak Yatim

EmitenNews – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) buka puasa bersama (bukber) anak yatim sekaligus berbagi makna terkait Islam dan Pancasila. Hadir ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengisi tausiyah di acara yang bertempat di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), hari ini (12/06).

Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi mengatakan Ramadhan adalah bulan baik. Momen tepat untuk saling berbagi kebaikan dan menjadi lebih baik. Atas dasar itu acara tersebut terselenggara.

Adapun tema tausiyah yaitu “Perspektif Islam Terhadap Kebangsaan, Keberagaman, dan Pancasila” dipilih seiring perkembangan terjadi di masyarakat belakangan ini. ”Maka kami meminta pak KH Ma’ruf Amin yang selain ketua MUI beliau juga Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila,” ucap perempuan akrab disapa Kiki itu.

Ma’ruf Amin mengatakan belakangan memang banyak pihak seolah mengarahkan pilihan dan memisahkan antara Islam dengan Pancasila. ”Padahal Islam dan Pancasila tidak saling bertentangan. Kita memilih Islam karena landasan agama. Kita milih Pancasila karena kita orang Indonesia,” ungkapnya.

Yang terpenting, kata Ma’ruf, dan memang sudah semestinya bahwa semua sila dalam Pancasila itu harus dijiwai oleh akal. Maka memang harus berlandaskan agama. ”Misalnya, yang dimaksud musyawarah di sila empat. Kalau landasannya tidak baik maka bermusyawarah untuk halalkan yang haram dan haramkan yang halal,” jelasnya.

Supaya Pancasila menjadi landasan untuk cara berpikir, bertutur, dan bersikap. Terlebih berlandaskan Islam yang memang mengajarkan untuk santun. ”Islam itu toleran. Secara teologis, Islam memang agama yang toleran. Dalam kehidupan kita bermasyarakat, Islam itu sangat toleran,” paparnya.

Soal Islam di Indonesia yang toleran, menurut Ma’ruf, sudah membuat banyak orang dari negara lain penasaran, memelajari, dan ingin meniru. Maka jangan sampai ada yang menodai atas nama agama dan atas nama jihad.

”Dalam suasana damai, jihad itu adalah perbaikan. Nah Indonesia itu wilayah damai. Negara damai. Jadi, jihadnya bukan dengan berperan. Teror itu bukan jihad dan jihad itu bukan teror,” tegas.

Maka bom bunuh diri dan sejenisnya yang terjadi di Indonesia, menurutnya, bukan termasuk jihad. Sebaliknya merupakan bagian yang sangat dilarang yaitu terorisme. ”Itu bagian dari radikalisme,” terusnya.

Dia juga menekankan agar hati-hati terhadap penggunaan media sosial (medsos). Banyak hal positif dari kemajuan teknologi itu tapi banyak juga negatifnya. Banyak pesan tak bertanggungjawab yang berpotensi menjadi fitnah dan memecahbelah.

”Dulu ada cerita ketut setan di pesantren. Ada tiga santri solat tapi terlalu kuat untuk digoda. Akhirnya setan kentut. Satu sama lain kemudian saling menduga siapa yang kentut sehingga makmum mengira dia punya imam kentut tapi tidak mengaku dan begitu juga sebaliknya. Nah sekarang ada medsos kentut setan. Hehehe…hati-hati ada yang memprovokasi,” sarannya.

Check Also

IHSG Naik 0,41 Persen Meski Net Sell Rp1 Triliun. Saham BBCA dan HMSP Yang Terbesar Dijual Asing Pada Perdagangan Jumat (27/11)

EmitenNews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI hingga penutupan perdagangan saham Jumat (27/11) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: