#
Terawan Agus Putranto. (Dok. Suara).

Gagas Vaksin Nusantara, Dokter Terawan dapat Dukungan Parpol Pemerintah
Politikus PDI Perjuangan Aria Bima tegas mengatakan, pemerintah membuka ruang bagi akademisi dan kaum medis terkait pencarian dan pengembangan vaksin Covid-19

EmitenNews.com – Vaksin Nusantara yang digagas mantan Menkes Terawan Agus Putranto mendapat dukungan partai politik pengusung pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wapres Ma’ruf Amin. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengapresiasi dan menyambut baik proses pengembangan vaksin untuk kekebalan terhadap virus corona itu. Dukungan yang sama disuarakan politikus senior PDI Perjuangan Aria Bima.

Menurut Sufmi Dasco Ahmad, proses pengembangan Vaksin Nusantara sebuah terobosan dan inovasi yang ditawarkan anak bangsa, di tengah persoalan vaksinasi dan masih tingginya angka penularan virus covid-19. Kepada pers, di Jakarta, akhir pekan lalu, Wakil Ketua DPR itu, menyebut, vaksin covid-19 yang diprakarsai dokter Terawan ini dapat diproduksi masal dalam waktu singkat.

Dasco mengatakan, DPR RI mendorong adanya pengembangan vaksin yang dibuat dan dikembangkan anak-anak bangsa. Karena itu, dia meminta semua pihak mendukung penuh pembuatan Vaksin Nusantara, yang kini menunggu izin BPOM untuk uji klinis Fase II, hingga betul-betul teruji secara  klinis.

“Kemudian secara efektif dapat menekan penyebaran virus corona, aman untuk masyarakat dan juga teruji kehalalannya,” katanya.

Sementara itu anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) V Jawa Tengah, Aria Bima, tegas mendukung pengembangan Vaksin Nusantara. Menurut politikus PDI Perjuangan itu, pemerintah membuka ruang bagi akademisi dan kaum medis terkait pencarian dan pengembangan vaksin Covid-19.

“Dalam keputusan DPR dan Presiden masih membuka ruang kepada seluruh masyarakat, baik dunia akademis atau medis, untuk terus mencari temuan-temuan, agar mengatasi virus, penularannya, seperti ada rapid antigen yang cepat itu. Ayo semua berlomba-lomba, mari kita jor-joran untuk mikir rakyat,” kata Aria Bima kepada wartawan di sela kegiatan penyerahan bantuan untuk penghuni Rusunawa Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (20/2/2021).

Untuk itu dibutuhkan peran semua anak bangsa agar membantu pemerintah dalam mengatasi pandemi virus corona penyebab coronavirus disease 2019 atau Covid-19, memperkecil dampak penularan, dan dampak sosial ekonominya. Ruang kontribusi atau partisipasi anak bangsa harus dibuka. Jangan malah ditutup. Apalagi, pemerintah sudah mengizinkan vaksinasi mandiri, yang menghendaki partisipasi semua kalangan.

Orientasi keuntungan

Namun, Aria mengingatkan dibukanya ruang tersebut jangan sampai membuat orientasi kepada keuntungan semata. “Jangan sampai profit oriented. Jangan kompetisi tidak fair. Semua diberi ruang. BUMN tak boleh monopoli. Private tak boleh monopoli. Harus ada kesempatan sama agar semua bisa akses vaksin.”

Tetapi, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mempertanyakan klaim vaksin Nusantara dapat menciptakan antibodi seumur hidup. Dia mengungkapkan, para ahli dunia pun belum bisa menjawab ketahanan vaksin antibodi Moderna, Sinovac, atau Pfizer, yang kini sudah digunakan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

“Data uji klinis fase keduanya saja belum ada, apalagi fase tiga. Jadi, jika mau bicara klaim, tentu harus dengan data. Harus dengan evidence based medicine. Jangan membuat publik bingung,” tulis @ProfesorZubairi, 18 Februari 2021.

Ahli epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, bahkan meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menghentikan vaksin Nusantara dengan alasan kepentingan kesehatan masyarakat Indonesia. Ia menyodorkan dua catatan. Pertama, teknologi sel dendritik yang digunakan pada vaksin Nusantara merupakan terapi bersifat personal, yang biasanya digunakan pada pasien kanker.

Kedua, dalam pembuatannya, vaksin Nusantara membutuhkan berbagai peralatan canggih, ruang steril, dan inkubator CO2. Belum lagi adanya risiko vaksin terkontaminasi mikroba penyebab infeksi, karena dibuat secara personal yang bisa saja pembuatannya tidak memenuhi terstandar.

“Jadi, sebenarnya sel dendritik untuk terapi bersifat individual. Dikembangkan untuk terapi kanker, sehingga tidak layak untuk vaksinasi massal,” kata Pandu Riono dalam siaran persnya, Sabtu (20/02/2021).

Dalam paparannya di RSUP dr Kariadi Semarang, Rabu (17/2/2021), salah satu peneliti, Dr Yetty Movieta Nency SPAK, mengungkapkan, vaksin Nusantara sedang menunggu izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), untuk memasuki uji klinis Fase II. “Uji klinis Fase II yang melibatkan 180 relawan akan berlangsung jika telah mendapatkan persetujuan BPOM.”

Uji klinis fase I dengan 27 relawan sudah terlewati. Yetty mengatakan proses awal pengembangan vaksin untuk menciptakan kekebalan terhadap pandemi covid-19 ini, sudah dimulai Oktober 2020. Pada 23 Desember 2020, hingga 6 Januari 2021 dilakukan penyuntikan pada subyek untuk uji klinis I. Ini selesai di akhir Januari 2021.

Hasilnya, dari 27 subyek, ada 20 keluhan ringan. Ada keluhan sustemik dan lokal. Hanya 20 keluhan. Ringan dan membaik tanpa obat. Seperti pada vaksin lain, efektivitasnya ada peningkatan antibodi pada minggu keempat.

Fase selanjutnya, juga masih soal keamanan Vaksin Nusantara tapi dengan subjek lebih banyak yaitu 180 orang. Kemudian fase III ada juga penentuan dosis dan dilakukan terhadap 1.600 orang. Relawan vaksin nantinya datang dari berbagai kalangan dengan rentang umur 18-59 tahun. ***

Check Also

Rangsang Peneliti Covid-19, Kalbe Farma (KLBF) Siapkan Rp 1,5 Miliar

EmitenNews.com – PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) dan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: