#
Armada Lion Air Group. (Dok Detik).

Garuda Indonesia Sudah Kehilangan Kepercayaan Terhadap Boeing 737 Max 8
Pemerintah sudah melarang operasional pesawat Boeing 737 Max 8 di wilayah ruang udara Indonesia, sejak Kamis lalu

EmitenNews – Manajemen Garuda Indonesia sudah kehilangan kepercayaan terhadap produk Boeing seri 737 Max 8. BUMN penerbangan itu sudah menyampaikan opsi pembatalan sisa pesanan pascadua kecelakaan pesawat tipe tersebut dalam kurun waktu lima bulan ini. Garuda sudah memiliki satu Boeing 737 Max 8, dan 49 lainnya direncanakan tiba di Tanah Air sampai 2030.

Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara kepada pers, Kamis (14/3/2019), mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan ke Boeing untuk opsi pembatalan seluruh 49 unit yang seharusnya dikirim hingga 2030 itu. Keputusan pembatalan diambil pascadua kecelakaan pesawat tipe tersebut.

Informasi yang dikumpulkan hingga Jumat (15/3/2019), kecelakaan pertama atas seri Boeing itu, 29 Oktober 2018. Armada milik Lion Air Group itu jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Indonesia. Yang terbaru, Minggu (10/3/2019), armada Ethiopian Airlines nomor penerbangan ET302, jatuh beberapa menit usai lepas landas dari Addis Ababa menuju Nairobi, Kenya.

Pesawat Boeing 737 Max 8 ini seri terbaru. Pesawat jenis ini diklaim berfitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui. Meski terjadi dua kecelakaan dalam kurun waktu berdekatan, pihak Boeing menyatakan produksinya aman-aman saja. Vonis jatuh saat Presiden Donald Trump secara resmi melarang Boeing 737 Max 8 terbang, menunggu hasil penyelidikan.

Meski sudah kehilangan kepercayaan, Ari Askhara tak tegas menyebutkan apakah pemesanan pesawat akan diubah ke seri lain atau benar-benar putus dari Boeing. Ia menyatakan masih terus berdiskusi dengan pihak Boeing, untuk penyelesaian masalah yang ada.

Sementara itu, pemerintah sudah melarang operasional pesawat Boeing 737 Max 8 di wilayah ruang udara Indonesia, sejak Kamis (14/3/2019). Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Polana Banguningsih Pramesti, keputusan itu berlaku sampai ada keterangan lebih lanjut dari Federal Aviation Administration (FAA).

Tetapi, larangan tersebut tidak berlaku untuk penerbangan nonkomersial, tidak membawa penumpang, dan penerbangan tak berjadwal dalam rangka kembali ke lokasi perawatan atau penyimpanan pesawat terbang. Pemerintah memastikan, larangan tersebut diambil dengan pertimbangan utama, keselamatan penumpang, yang tak bisa ditawar. ***

 

Check Also

Keseriusan Pemerintah Mendorong Penggunaan Mobil Listrik untuk Ciptakan Udara Bersih Dipertanyakan
Pengenaan bea masuk dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk impor membuat mahal harga mobil listrik

EmitenNews.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Igansius Jonan mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *