#
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menjalankan rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK); putuskan hubungan dengan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata). (Dok GenPI.co).

Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Jalankan Rekomendasi BPK, Putuskan Hubungan dengan Mahata
Kerja sama dengan Mahata, membuat Garuda terkena kasus pemolesan laporan keuangan tahun 2018 dan kuartal I tahun 2019

EmitenNews.com – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menjalankan rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK); putuskan hubungan dengan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata). BUMN penerbangan itu, membatalkan kontrak kerja sama pemasangan wifi di pesawat dengan Mahata.

“Terkait putusan BPK tentang kerja sama Mahata Aero Teknologi, Citilink Indonesia selaku pihak yang berkontrak telah mengirimkan surat kepada pihak Mahata Aero Teknologi mengenai pembatalan kerja sama tersebut,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Fuad Rizal dalam keterangan resminya, di Jakarta, Jumat (26/7/2019).

Langkah tegas tersebut diambil karena kerja sama dengan Mahata, membuat perseroan terkena kasus pemolesan laporan keuangan tahun 2018 dan kuartal I 2019. Garuda Indonesia pun terkena sanksi dari Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk kembali menyajikan laporan keuangan perseroan.

Garuda sudah melakukan penyajian ulang (restatement) laporan keuangan taheun 2018 dan kuartal I 2019. Dengan penyajian ulang laporan keuangan ini tidak ada rasio-rasio yang dilanggar, dan penyajian ulang ini memperoleh pendapat  Wajar Tanpa Modifikasian.

Fuad mengungkapkan, restatement laporan laba rugi periode buku 2018 dan LK Q1 2019 ini, tindak lanjut perusahaan atas hasil putusan regulator terkait laporan kinerja keuangan perseroan. Dalam proses penyajian laporan baru itu, Garuda melaksanakan korespondensi dengan OJK dan stakeholder lainnya. Tujuannya memastikan kesesuaikan aturan dan prinsip compliance dalam penyajian laporan restatement tersebut.

Garuda- Mahata

Dari informasi yang dikumpulkan Sabtu (27/7/2019), diketahui, dalam catatan keuangan itu dinyatakan pada 31 Oktober 2018, Garuda Indonesia dan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) mengadakan perjanjian kerja sama yang telah diamandemen, terakhir amandemen II tanggal 26 Desember 2018, mengenai penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan dan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten.

Mahata akan melakukan dan menanggung seluruh biaya penyediaan, pelaksanaan, pemasangan, pengoperasian, perawatan dan pembongkaran dan pemeliharaan. Termasuk dalam hal terdapat kerusakan, mengganti dan/atau memperbaiki peralatan layanan konektivitas dalam penerbangan dan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten.

Dari catatan keuangan yang dikeluarkan Garuda itu, dinyatakan Mahata –startup penyedia jasa wi-fi pesawat gratis pertama di Indonesia– menyetujui membayar biaya kompensasi atas hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dalam penerbangan. Antara lain untuk 50 pesawat A320, 20 pesawat A330, 73 pesawat Boeing 737-800 NG dan 10 pesawat Boeing 777. Nilainya USD131.940.000 dan biaya kompensasi atas hak pengelolaan layanan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten untuk 18 pesawat A330, 70 pesawat Boeing 737-800NG, 1 pesawat Boeing 737-800 MAX dan 10 pesawat Boeing 777 sebesar USD80.000.000 kepada Garuda setelah ditandatangani perjanjian kerja sama.

Garuda akan mengevaluasi setiap 2 bulan pelaksanaan perjanjian kerja sama. Jika hasilnya menunjukkan, perjanjian kerja sama tidak menguntungkan Garuda, atau dalam hal Mahata tidak melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya, Garuda berhak mengakhiri perjanjian kerja sama. Semua hak dan kewajiban yang belum diselesaikan dan/atau telah timbul sebagai akibat penerapan perjanjian kerja sama dan harus diselesaikan selambat-lambatnya 14 hari setelah perjanjian kerja sama berakhir.

Pendapatan atas kompensasi hak pemasangan peralatan layanan konektivitas kompensasi dan kompensasi hak pengelolaan layanan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten sebesar USD211.940.000 diakui saat penyerahan hak kepada Mahata pada 2018.

Mahata juga wajib membayar alokasi slot kepada Garuda, secara tahunan sejak penerbangan perdana, atas pendapatan aktual yang diperoleh atas upaya Mahata sebesar 5 persen dari total pendapatan aktual pada tahun ke-1, 6 persen dari total pendapatan aktual pada tahun ke-2, 7,5 persen dari total pendapatan aktual pada tahun ke-3 sampai tahun ke-10 untuk setiap iklan yang didapatkan oleh Garuda.

Sedangkan untuk iklan yang didapatkan Mahata, Mahata wajib membayar alokasi slot kepada Grup tahunan sejak penerbangan perdana, atas pendapatan aktual yang diperoleh atas upaya Grup 95 persen dari total pendapatan aktual pada tahun ke-1, 94 persen dari total pendapatan aktual pada tahun ke-2, 92,5 persen dari total pendapatan aktual pada tahun ke-3 sampai dengan tahun ke-10.

Perjanjian kerja sama antara Garuda Grup dengan startup ini berlaku selama 15 tahun. Saat ini, pola alokasi slot untuk tahun ke-11 sampai dengan tahun ke-15 belum ditentukan. Garuda juga memiliki perjanjian kerja sama atas pemasangan dan pengelolaan wifi on board di maskapai milik PT Sriwijaya Air.

PT Sriwijaya Air (Sriwijaya) setuju untuk turut serta dalam perjanjian layanan konektivitas dalam penerbangan yang diadakan oleh Garuda Grup dengan Mahata dengan kompensasi sebesar USD30 juta. ***

Check Also

Presiden Sepakat Naikkan Tarif Cukai Rokok 23 Persen Tahun 2020
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati: Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen

EmitenNews.com – Hampir pasti para perokok bakal menikmati harga rokok lebih mahal. Presiden Joko Widodo …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *