#
Main Hall BEI, Jakarta. Foto : EN

Ikut Regional, IHSG Balik Arah Pasca Rekor Tertinggi

EmitenNews – Pasca tembus rekor tertinggi pada awal pekan kemarin Indeks harga saham gabungan (IHSG) balik arah. Terjadi koreksi sebesar 44,873 poin (0,759 persen) ke level 5.865,364 pada penutupan perdagangan hari ini (04/07).

Frekuensi transaksi perdagangan saham hari ini relatif rendah mencapai 248.463 kali untuk volume sebanyak 5,915 miliar saham. Nilai transaksi sebesar Rp 6,554 triliun. Sempat melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 1 triliun, investor asing akhirnya malah mencatatkan penjualan bersih (foreign net sell) sebesar Rp 1,155 triliun.

Penurunan IHSG sejalan dengan koreksi yang terjadi di bursa saham Asia lainnya. Indeks Hang Seng tergerus 1,53 persen, Indeks Composite Shanghai turun 0,41 persen, Indeks Straits Times turun 0,38 persen, dan indeks Nikkei 225 berkurang 0,12 persen.

Sentimen negatif dari uji coba misil lintas benua oleh Korea Utara yang jatuh di Zona Ekonomi Eksklusif Jepang disebut-sebut sebagai salah satu faktor merahnya bursa saham di Asia. Uji coba itu berlangsung hari ini.

Analis Reliance Sekuritas Indonesia, Rio Adrianus, memaparkan sentimen yang ada sebelumnya relatif positif. Di Jepang, survei manufacturing confidence menunjukkan tingkat tertinggi sejak 2014 dan menandakan pemulihan ekonomi negeri Sakura. ”Walaupun belum direspon oleh investor saham,” ungkapnya, hari ini.

Selain itu, harga minyak juga positif setelah harga minyak rebound pasca Oil Rig di Amerika Serikat (AS) dikabarkan berkurang.

Di dalam negeri, sentimen relatif positif menindaklanjuti data sebelumnya terutama tekait penanganan inflasi. ”Seperti saya sebutkan inflasi selama ini, sumber-sumbernya yang diwakilkan adalah dari harga pangan kemudian dari harga-harga yang diatur pemerintah. Lalu ada inflasi inti. Kalau kita lihat dari harga pangan, alhamdulillah sampai sekarang stabil dan diharapkan stabil sampai akhir tahun,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, di gedung BEI, hari ini.

Untuk harga-harga yang diatur pemerintah administer price, pemerintah sudah memutuskan melalui presiden bahwa untuk listrik 900 VA mengalami penyesuaian namun BBM dan LPG tidak melakukan perubahan. ”Jadi kita harapkan bahwa itu akan memberikan stabilitas terhadap apa yang disebut faktor inflasi yang berasal dari harga-harga yang diatur oleh pemerintah,” ucapnya.

Untuk faktor inflasi yang berasal dari inflasi inti (core inflation), kata dia, Bank Indonesia (BI) melalukan kebijakan moneternya agar bisa menjaga supaya keseimbangan dan stabilitas harga bisa tercapai dan termasuk dalam hal ini adalah dari nilai tukar. ”Bisa saja berasal dari imported inflation. Dengan koordinasi kebijakan ini kita harap inflasi akan tetap terjaga sampai akhir tahun,” harapnya.

Check Also

Kuartal III 2020, Penjualan PT Saraswanti Anugerah Makmur (SAMF) Capai Rp994 Miliar

EmitenNews.com- PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF) menyatakan Kondisi pandemi Covid-19 turut mempengaruhi banyak sektor …

%d bloggers like this: