#
Kadin Indonesia memprediksi kuartal II tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkontraksi hingga minus (-) 6 persen. Itu berarti merosot tajam jika dibanding realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya, 2,97 persen. Karena itu, seluruh pihak diharapkan memacu produktivitas, agresif mengundang investasi, menyalurkan stimulus untuk selamatkan ekonomi. (Dok. TIMES Indonesia).

Ini Kondisi Darurat, Pemerintah Diharapkan Salurkan Stimulus untuk Selamatkan Ekonomi
Wakil Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani meminta pemerintah memperlancar logistik pendukung perdagangan dalam dan luar negeri, serta memastikan kelancaran pasokan barang

EmitenNews.com – Ini kondisi darurat. Kadin Indonesia memprediksi kuartal II tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkontraksi hingga minus (-) 6 persen. Itu berarti merosot tajam jika dibanding realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya, 2,97 persen. Karena itu, seluruh pihak diharapkan memacu produktivitas, agresif mengundang investasi, menyalurkan stimulus untuk selamatkan ekonomi.

Dalam keterangannya yang dikutip Senin (6/7/2020), Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani juga meminta pemerintah memperlancar logistik pendukung perdagangan dalam dan luar negeri, memastikan kelancaran pasokan barang ke seluruh Indonesia. Lainnya, memastikan penurunan penyebaran virus corona dengan meningkatkan efektivitas upaya-upaya pengendalian di tingkat daerah dan nasional.

Shinta mengatakan, pertumbuhan ekonomi negatif adalah risiko yang harus hadapi semua negara di dunia. Karena itu, ia berharap semua pihak semakin bermangat mengupayakan segala hal agar negative growth itu tidak terjadi di sepanjang 2020. Sebisa mungkin dibatasi hanya di satu kuartal saja, misalnya Kuartal II yang saat ini berisiko tinggi mengalami pertumbuhan negatif.

Dalam pandangan Shinta, pertumbuhan ekonomi negatif akan memengaruhi semua pelaku ekonomi. Bukan hanya pelaku usaha tapi juga masyarakat luas. Ia memastikan, semua pihak bakal terdampak. Bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang selama ini digembar-gemborkan bakal kuat menghadapi krisis, justru bakal kepayahan.

Menurut Shinta, masyarakat kelas menengah bawah dan sektor informal akan lebih tertekan, karena kapabilitas mereka dalam menciptakan likuiditas untuk bertahan, sangat terbatas. Ia menyebutkan, hal itu sudah terlihat pada laporan Kuartal I/2020; empat sektor ekonomi penyumbang GDP terbesar Indonesia (manufaktur, perdagangan, agrikultur dan konstruksi) semuanya mengalami kontraksi kinerja secara signifikan.

Jika menginginkan kontraksi ini tidak berlanjut, pemerintah harus aktif memperlancar distribusi stimulus kepada pelaku usaha, khususnya UMKM dan sektor padat karya. Dengan begitu, bisa mengurangi tingkat PHK, perusahaan bisa terus bergerak, dan kegiatan ekonomi tidak stagnan.

Pemerintah juga harus mengubah iklim usaha dan investasi nasional menjadi lebih efisien, lebih mudah dan ramah investasi serta memiliki level business certainty atau kepastian bisnis yang lebih tinggi. Dengan begitu, kata Shinta, perusahaan-perusahaan yang sudah kesulitan modal tidak terbebani, dengan regulasi dan perusahaan-perusahaan asing juga tertarik berinvestasi. ***

Check Also

Terdampak Pandemi Covid-19, AirAsia Pertimbangkan PHK Ratusan Karyawan
PHK AirAsia Malaysia kemungkinan akan selesai pada akhir September, sementara staf AirAsia X yang terkena dampak akan diberhentikan pada akhir Oktober 2020

EmitenNews.com – Terdampak pandemi virus corona penyebab coronavirus disease 2019 (covid-19), AirAsia Grup Bhd sedang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: