#
Institute for Development of Economics Finance (Indef) membeberkan modus korupsi lewat BUMN. Ekonom Senior Indef Faisal Basri menyebutkan, modus yang bisa dijalankan BUMN, antara lain memberikan utang kepada proyek gagal. (Dok. Kumparan).

Ini Lima Modus Mudahnya Menggarong Uang Negara Melalui BUMN
Kreditur mampu membayar cicilan dan bunga dengan lancar dari uang hasil korupsi yang dibawa lari ke luar negeri, dicuci dalam bentuk bayar cicilan

EmitenNews.com – Ini lima modus mudahnya menggarong uang negara melalui badan usaha milik negara (BUMN). Institute for Development of Economics Finance (Indef) membeberkan ada peluang modus korupsi lewat BUMN. Ekonom Senior Indef Faisal Basri menyebutkan, modus yang bisa dijalankan BUMN, antara lain memberikan utang kepada proyek gagal.

Kalau proyeknya gagal atau tidak mendapatkan penghasilan sama sekali, berbahaya. Meski proyek gagal, tetap harus membayar cicilan dan bunga sesuai prosedur. Proses membayar cicilannya biasanya diadakan di luar negeri dan biasanya mencatat pembayaran lancar. Karena tercatat lancar, Bank BUMN tetap top up atau memberi kredit kembali.

Kuat dugaan, kreditur mampu membayar cicilan dan bunga dengan lancar dari uang hasil korupsi yang dibawa lari ke luar negeri kemudian dicuci dalam bentuk bayar cicilan dan bunga ke Indonesia, yaitu lewat proyek gagal itu.

“Ini modus korupsi lewat bank BUMN. Maaf saya nggak bisa sebut banknya. Jadi, uang dari luar negeri masuk ke bank. Uangnya dari Indonesia yang barangkali hasil korupsi, kemudian bisa dicuci di sana dalam bentuk bayar cicilan dan bunga ke Indonesia lewat proyek gagal tersebut,” ujar Ekonom Faisal Basri dalam diskusi INDEF di ITS Tower, Jakarta, Senin (30/9/2019).

Kedua, Faisal Basri mencontohkan utang proyek A macet, lalu mengajukan proyek B untuk membiayai proyek A. Karena yang memperoleh pinjaman dari bank cenderung itu-itu saja, banyak yang dekat dengan kekuasaan atau di lingkaran kekuasaan.

Ketiga, modus utang dari bank BUMN untuk membangun gedung perkantoran milik seorang menteri. Gedung itu tidak laku, lalu BUMN lain diminta merenovasi dan menyewanya selama lima tahun.

Keempat, mencari akal supaya tidak perlu izin dari komisaris dan tidak mencapai batas maksimum pemberian kredit (BMPK), kredit dipecah-pecah dalam jumlah yang kecil-kecil dengan berbagai nama. “Kredit dipecah-pecah dalam jumlah kecil dengan berbagai nama, misalnya nama pembantu, sopir. Orangnya itu-itu saja.”

Kelima, ada satu bank swasta sedang sakit berat. Lalu bank-bank BUMN diminta menyelamatkannya. Faisal enggan menyebutkan identitas bank yang dinilainya sedang sakit itu. ***

 

Check Also

Kebutuhan Anggaran Untuk Membangun Sarana Perkeretaapian di Ibu Kota Baru Rp209 Triliun
Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono: Dana sebesar itu untuk membangun stasiun, KA subway, KRL, jalur kereta api dan pengadaan kereta listrik

EmitenNews.com – Kebutuhan anggaran untuk pembangunan sarana transportasi di ibu kota baru lumayan besar. Untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: