#

Jababeka (KIJA) Jadi Rugi Rp759 Miliar di Kuartal I-2020

EmitenNews.com-  Pengembang kawasan industri terpadu di Cikarang yang mengembangkan kota industri Jababeka dengan luas kawasan 5.600 hektar yang dihuni oleh lebih dari 1.650 perusahaan multinasional dari 30 negara,PT Jababeka Tbk (KIJA) mencatat rugi bersih sebesar Rp 759,8 miliar di kuartal I-2020 2020 dibandingkan laba bersih sebesar Rp 74,3milyar pada kuartal I-2019.

Berdasarkan laporan keungan KIJA yang disampainkan kepada BEI Rabu (1/7/2020) disebutkan Alasan utama perbedaan laba kuartal I-2019 dan rugi kuartal I-2020 adalah karena dampak pergerakan selisih kurs yang tercatat di kuartal I-2020 sehingga dibukukannya rugi selisih kurs sebesar Rp 699,1 milyar, dibandingkan laba selisih kurs sebesar Rp 56,9 milyar yang tercatat pada kuartal I-2019.

KIJA membukukan total penjualan dan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 473,7
milyar selama kuartal pertama tahun 2020 (Q1 2020), menurun 19% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019,Pendapatan dari pilar bisnis Land Development & Property menjadi Rp119,6 milyar di Q1 2020 menurun 29% dibandingkan Rp 169,4 milyar pada Q1 2019, yang terutama disebabkan oleh penurunan penjualan kavling tanah dari Rp 110 milyar pada Q1 2019 menjadi Rp 35,1 milyar pada Q1 2020, sementara penjualan segmen produk properti lainnya meningkat di Q1 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagai catatan, Perseroan menyajikan laporan keuangan berdasarkan PSAK 72, dimana Perseroan mengakui penjualan/ pendapatan ketika (atau sebagai) entitas mentransfer kontrol barang atau jasa kepada pelanggan sebesar jumlah yang diharapkan entitas berhak. Dengan demikian, Perseroan tidak lagi mengakui pendapatan dari properti berdasarkan persentasi penyelesaian.

Pendapatan dari jasa infrastruktur menurun 16% menjadi Rp 333,5 milyar di Q1 2020 dibandingkan Rp 395,1 milyar Q1 2019. Penurunan ini terutama disebabkan penurunan pendapatan dari Bekasi Power sebesar Rp 52,5 milyar akibat dari pembangkit listriknya beroperasi lebih sedikit sehubungan dengan jangka waktu reserve shutdown oleh PLN yang berlangsung lebih lama selama Q1 2020 dibandingkan periode yang sama di 2019.

Pendapatan berulang (recurring revenue) dari pilar infrastruktur memberikan kontribusi 70% dari total pendapatan selama Q1 2020, dibandingkan dengan 68% tahun 2018. Pilar Leisure & Hospitality membukukan kenaikan 2% atas pendapatannya menjadi Rp20,6 miliar pada Q1 2020.

Laba kotor Perseroan menurun sebesar 27% menjadi Rp 162,6 miliar pada Q1 2020, dibandingkan Rp 222 milyar pada tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, marjin laba kotor konsolidasi Perseroan di 2019 tercatat sebesar 34%, menurun dibandingkan dengan 38% pada Q1 2019. Penurunan marjin laba kotor ini terutama disebabkan perubahan bauran produk (product mix) pada pilar Land Development & Property, yaitu berkurangnya hasil kontribusi penjualan dari tanah matang yang bermarjin lebih tinggi di Q1 2020 dibanding produk yang terjual di Q1 2019. Marjin laba kotor Pilar Infrastruktur mengalami peningkatan dari 21% di Q1 2019 menjadi 23% di Q1 2020, sementara Leisure & Hospitality mengalami penurunan dari 28% di Q1 2019 menjadi 26% di Q1 2020.

Selama kuartal pertama 2020, mata uang Rupiah terdepresiasi secara signifikan dari Rp 13.901 per Dolar AS pada awal tahun 2020 menjadi Rp 16.367 pada penutupan 31 Maret 2020. Perseroan telah melakukan lindung nilai sebesar Dolar AS 200 juta atas sejumlah total Senior Notes sebesar Dolar AS 300 juta dengan batas lindung atas (upper strike) hingga Rp 15.997. Oleh karena adanya sebagian pinjaman Senior Notes sebesar Dolar AS 100 juta yang tidak terlindungi (unhedged portion) dan pelemahan nilai tukar Rupiah
hingga melebihi batas lindung atas (upper strike), maka Perseroan mengalami kerugian selisih kurs (unrealized forex loss) yang besar.

Terlebih, nilai mark-to-market pada kontrak lindung nilai (hedging
contracts) dalam mata uang Dolar AS dan dengan pelemahan mata uang Rupiah, maka nilai pasar wajar tersebut menjadi berkurang, terutama dikarenakan Dolar AS-IDR forward pada saat jatuh tempo dari kontrak yang digunakan sebagai basis.

Namun dengan membaiknya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada level Rp 14.200 – Rp 14.400 saat ini, maka kerugian selisih kurs yang dialami Perseroan akan semakin berkurang.

Perolehan EBITDA selama Q1 2020 tercatat sebesar Rp 119 miliar, menurun dibandingkan dengan Rp 187,6 miliar pada Q1 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: