#
Benny Tjokrosaputro. (Dok. Media Indonesia).

Kasus Jiwasraya Disidangkan, Benny Tjokrosaputro dkk Didakwa Rugikan Negara Rp16,8 Triliun
Menurut Jaksa, Benny, Heru dan Joko bersepakat jahat dengan para petinggi Jiwasraya mengenai pengelolaan investasi saham dan reksadana milik perusahaan asuransi plat merah tersebut

EmitenNews.com – Kasus PT Asuransi Jiwasraya yang melibatkan Benny Tjokrosaputro alias Bentjok dkk mulai bergulir di pengadilan. Jaksa penuntut umum mendakwa Direktur PT Hanson Internasional itu, merugikan negara Rp16,8 triliun dalam kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya.

Perbuatan itu dilakukan bersama 5 terdakwa lainnya. Antara lain Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat; dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto. Lainnya, mantan petinggi Jiwasraya, yakni eks Direktur Utama, Hendrisman Rahim; mantan Direktur Keuangan Hary Prasetyo dan eks Kepala Divisi Investasi, Syahmirwan.

Perbuatan tersebut, kata Jaksa, telah memperkaya diri sendiri dan korporasi dengan merugikan keuangan negara senilai Rp16,8 triliun. Heru dan Benny turut didakwa dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang.

“Telah memperkaya diri atau orang lain, atau suatu korporasi yang merugikan keuangan negara sebesar Rp16,8 triliun,” kata jaksa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2020) saat membacakan dakwaan.

Menurut Jaksa, Benny, Heru dan Joko bersepakat dengan para petinggi Jiwasraya mengenai pengelolaan investasi saham dan reksadana milik perusahaan asuransi plat merah tersebut. Kerja sama pengelolaan dilakukan sejak 2008 hingga 2018.

Sayangnya, menurut jaksa kesepakatan itu tidak transparan dan akuntabel. Tiga petinggi Jiwasraya, Hendrisman Rahim, Hary dan Syahmirwan melakukan pengelolaan investasi tanpa analisis obyektif, profesional dan tidak sesuai nota interen kantor pusat. Analisisnya cenderung hanya dibuat formalitas.

Masih menurut Jaksa, Hendrisman, Hary dan Syahwirman membeli sejumlah saham perusahaan BJBR, PPRO dan SMBR dengan tidak mengikuti pedoman investasi yang berlaku. Mereka membeli saham melebihi 2,5 persen dari saham perusahaan yang beredar.

Keenam terdakwa dan pihak terafiliasi, kata jaksa, telah bekerja sama untuk melakukan transaksi jual-beli saham sejumlah perusahaan dengen tujuan mengintervensi harga. Tindakan goreng saham itu dilakukan pada perusahaan BJBR, PPRO, SMBR dan SMRU. Bukannya memberikan untung, aksi itu malah tidak dapat memenuhi likuiditas keuangan Jiwasraya.

Para terdakwa mengatur dan mengendalikan 13 manajer investasi untuk membentuk produk reksadana khusus untuk PT Jiwasraya yang dikendalikan Joko Hartono. Produk reksadana tersebut berakhir pada kerugian bagi keuangan Jiwasraya.

Jaksa menyebut Heru, Benny dan Joko turut memberikan uang, saham dan fasilitas lain kepada tiga petinggi Jiwasraya. Pemberian dilakukan terkait pengelolaan investasi saham dan reksadana di perusahaan tersebut selama kurun waktu 2008-2018.

Dalam dakwaannya jaksa menyebutkan, para terdakwa melanggar Pasal 11 Ayat 2 UU Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, Pasal 11 Ayat 1 UU Nomor 40 Tahun 2014 tentang Asuransi. Pasal 8 Ayat huruf b dan c, Pasal 11, Pasal 13 Ayat 1, Pasal 14 Ayat 1, Pasal 15 Ayat 1, dan Pasal 20 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 73 1992 tentang Usaha Asuransi. Mereka juga didakwa telah melanggar sejumlah aturan Menteri Keuangan dan aturan internal PT Asuransi Jiwasraya. ***

 

Check Also

Pemerintah Diminta Tunjukkan Tetap Kuat dan Bertanggung Jawab Selesaikan Kasus Jiwasraya
Jika tak ditangani dengan baik, kasus gagal bayar Jiwasraya bisa menurunkan kepercayaan investor kepada pemerintah, dan mengganggu iklim investasi di Tanah Air

EmitenNews.com – Pemerintah diminta harus menunjukkan posisinya tetap kuat dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan kasus …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: