#
Tekstur komoditi batu bara. Foto: Freepik

Kebijakan Jonan Pangkas Market Cap Saham Sektor Pertambangan Rp11 Triliun dalam Dua Hari
Stop Kebijakan yang Terkesan Menimbulkan Intervensi Pemerintah ke Pasar

EmitenNews – Sembilan indeks saham sektoral menghijau dan membawa Indeks harga saham gabungan (IHSG) rebound 74,754 poin (1,174 persen) ke level 6.443,021 kemarin (08/03). Hanya ada satu yang masih belum bangkit yaitu indeks saham sektor pertambangan yang “masih syok” dengan keputusan pemerintah mengatur harga batu-bara untuk keperluan domestik (Domestic Market Obligation/DMO) terutama untuk pembangkit listrik PLN.

Indeks saham sektor pertambangan ditutup melemah 0,34 persen kemarin. Sebaliknya Sembilan indeks saham sektora lainnya menguat dipimpin saham sektor keuangan yang naik 2,36 persen, sektor infrastructure utilities and transportation (1,67 persen), dan sektor Basic Industry and Chemicals (1,06 persen).

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio memaklumi respon negatif pasar terhadap saham-saham pertambangan yang didominasi sub sektor mineral dan batu bara (minerba) itu.

”Coba bayangkan seandainya dirimu di Indonesia tapi investasi di Argentina, beli saham perusahaan batu bara. Tiba-tiba pemerintah Argentina bilang ‘eh harga batu bara akan diatur untuk listrik. Apa yang akan kamu lakukan ke saham milikmu itu?” Tito menganalogikan saat ditemui di gedung BEI, tadi malam (08/03).

Maka, menurutnya, sudah pasti muncul ketidakpastian (uncertainty). Selain itu menimbulkan impresi secara implisit adanya intervensi ke pasar. ”Orang kalau jauh dari Indonesia buat investasi butuh terbang 24 jam yang paling dia nggak suka adalah adanya uincertainty. Sesuatu yang mendadak adalah adanya uncertainty pasar,” terusnya.

Pada rentang waktu dua hari tepatnya pada 6 Maret sampai 8 Maret 2018 nilai kapitalisasi pasar saham (market cap) sektor pertambangan langsung tergerus Rp11,4 triliun. Meskipun secara year to date indeks saham sektor pertambangan masih juara dengan kenaikan sebesar 17,79 persen sampai Kamis (08/03).

Per 8 Maret 2018 market cap saham-saham sektor pertambangan di BEI tercatat sebesar Rp402,017 triliun. Market cap tertinggi masih milik saham-saham sektor manufaktur sebesar Rp2.489,514 triliun.

”Saya harus mengatakan bahwa; pertama, setuju listrik priority tapi jangan mendadak lalu membuat satu pengumuman yang, semestinya mbok ya bisa diam-diam dulu. Kedua, jangan menimbulkan impresi adanya intervensi pemerintah,” Tito mengungkapkan.

Dengan cara yang lebih “halus” seperti dikatakan Tito secara diam-diam diumumkan kepada pelaku bisnis batu bara di awal waktu, setidaknya memberikan kesempatan kepada perusahaan batu bara untuk menyesuaikan diri. Perusahaan dimaksud juga bisa berbicara kepada investor. ”Bukan diam-diam lah, ya bicara pelan-pelan dulu lah. Strategic saja. Tolong buang impresi bahwa seorang menteri (Menteri ESDM Ignasius Jonan, Red.) bisa melakukan intervensi ke pasar,” pintanya.

Walau bagaimana pun, perusahaan membuat proyeksi bisnis paling pendek untuk jangka waktu setahun. Pengumuman dan pemberlakuan kebijakan secara mendadak seperti pengaturan harga itu akan berpengaruh besar terhadap proyeksi tersebut.

Check Also

KB Bukopin (BBKP) Bayar Bunga Obligasi Rp38,63 Miliar

EmitenNews.com- PT KB Bukopin Tbk (BBKP) menyampaikan pihaknya telah melakukan pembayaran bunga ke-16 Obligasi Subordinasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: