#
Ilustrasi: OJK tetap menargetkan pertumbuhan 100 Bank Wakaf Syariah hingga akhir 2019. OJK yakin bisa mencapai target. Pasalnya, Bank Himbara telah membuka pintu lebar-lebar bagi nasabah yang ingin berdonasi untuk membangun bank wakaf. (Dok. Okezone).

Ketersediaan SDM Masih jadi Tantangan Pertumbuhan Bank Wakaf Syariah
Otoritas Jasa Keuangan menargetkan pertumbuhan 100 BWS hingga akhir 2019. Sejak didirikan 2017, sampai Juni 2019, sudah ada 51 BWS

EmitenNews.com – Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) masih menjadi tantangan tersendiri bagi pertumbuhan Bank Wakaf Syariah (BWS). Pasalnya, tidak sembarang orang bisa terdaftar dalam pengurus BWS. Pengurus BWS harus akrab dengan sistem keuangan syariah dan dekat dengan lingkungan pesantren. Sekaligus komitmen saat berada dalam kelompok pengurus BWS.

“Kendalanya, pengurusnya sendiri. Pengurusnya di pesantren sangat terbatas untuk mengelola keuangan syariah yang formal,” kata Direktur Lembaga Keuangan Mikro Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Suparlan di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/7/2019).

Menurut Suparlan, pengurus BWS memang harus dari lingkungan pesantren. Karena dianggap lebih mengerti cara menjalankan dan mengoperasikan lembaga keuangan dengan prinsip-prinsip syariah. Pesantren jelas sisi aqidahnya, sehingga pembayarannya lebih bagus, berkat pemahaman agamanya bagus.

Apapun kendala yang mengadang di depan, OJK tetap menargetkan pertumbuhan 100 Bank Wakaf Syariah hingga akhir 2019. OJK tetap yakin bisa mencapai target tersebut. Pasalnya, Bank Himbara telah membuka pintu lebar-lebar bagi nasabah yang ingin berdonasi untuk membangun bank wakaf. Selain itu, Indonesia telah memiliki 28.000 pondok pesantren. Artinya, SDM calon pengurus bank wakaf akan lebih banyak.

“Optimistis nanti akan ada pendanaan, karena Bank Himbara telah membuka lebar pintu-pintu pendanaan dari nasabahnya, juga dana-dana dari luar negeri. Mudah-mudahan kita doakan yang 100 ini bisa tercapai, bisa disosialisasikan dengan cepat,” katanya.

Pembentukan BWS bergantung ada atau tidaknya dana sosial yang masuk. Dana sosial itu berupa donatur dari nasabah Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Corporate Social Responsibility (CSR), infaq, dan wakaf. Suparlan menyebutkan salah satu donatur pembentukan BWS, dari Qatar melalui perjanjian kerja sama pemerintah Indonesia-Qatar, beberapa tahun lalu. Meski begitu, belum diketahui berapa dana yang akan dikucurkan.

Data yang dikumpulkan sampai Minggu (28/7/2019), menunjukkan pertumbuhan BWS cukup bagus. Berdasarkan data OJK, pada 2017 jumlahnya 17 unit. Setahun kemudian, 2018, tumbuh menjadi 41 unit dan per Juni 2019 sudah menjadi 51 unit.

Bagusnya, akumulasi pembayaran yang disalurkan meningkat sampai Rp18,54 miliar. Penyebarannya paling banyak di Pulau Jawa. Yaitu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Serang dan lainnya.

Untuk membangun satu BWS diperlukan dana Rp4,2 miliar. Sebanyak Rp3 miliar di antaranya, untuk deposito pengembangan bank dan Rp1 miliar sisanya untuk operasional bank. Jadi, untuk target 100 unit setidaknya membutuhkan lebih dari Rp200 miliar. ***

Check Also

Selain SCBD, Tiga Emiten Ini Akan Ditendang Oleh BEI

EmitenNews.com – Penghapusan pencatatan saham di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) atau delisting kembali tersorot. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *