#
Benny Tjokro alias Bentjok. (Dok. Indopolitika).

Kira-kira Ke Mana Saja Bentjok Gunakan Dana Triliunan Rupiah Hasil Korupsi Jiwasraya
Jaksa mengatakan tindakan pencucian uang oleh Benny Tjokro disamarkan dengan membeli tanah hingga jual beli saham. Itu dilakukan Benny bekerja sama dengan sejumlah pihak

EmitenNews.com – Kira-kira ke mana saja Benny Tjokrosaputro menggunakan dana triliunan rupiah hasil korupsi dari PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Dalam sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (15/10/2020), Jaksa Penuntut Umum (JPU) KMS Roni, menyebut Komisaris PT Hanson International Tbk (MYRX) itu, terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Terdakwa dituding menyamarkan asal usul harta yang dibeli dari hasil korupsi.

“Kami berpendapat unsur menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain telah terbukti,” ucap Jaksa Roni saat membacakan tuntutan terhadap Benny Tjokro, di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2020).

Dalam persidangan itu, JPU menuntut Benny Tjokrosaputro hukuman penjara seumur hidup karena keterlibatannya dalam kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Jaksa meyakini, bersama mantan pejabat Jiwasraya, Benny bersalah melakukan korupsi dan tindakan memperkaya diri. Jumlah kerugian negara karena korupsi Benny dkk ditaksir mencapai Rp16,807 triliun lebih.

Jaksa mengatakan tindakan pencucian uang oleh Benny Tjokro itu disamarkan dengan membeli tanah hingga jual beli saham. Itu dilakukan Benny bekerja sama dengan sejumlah pihak. Menurut Jaksa Roni, dengan uang korupsi itu Bentjok, membayar utang, membeli tanah, membeli properti, menukar dalam bentuk mata uang asing dan lain sebagainya.

“Menuntut supaya menjadi hakim pengadilan menyatakan terdakwa Benny Tjokrosaputro secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dan pencucian uang sebagaimana dakwaan pertama primer dan kedua. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama seumur hidup ditambah denda Rp5 miliar subsider 1 tahun kurungan,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Agung KMS Roni, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Tuntutan tersebut berdasarkan dakwaan pertama dari Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan kedua dari pasal 3 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Selain itu JPU juga menuntut agar majelis hakim menghukum terdakwa dengan pidana tambahan berupa membayar uang pengganti kepada negara sebesar Rp6,078 triliun. Jika dalam waktu 1 bulan sesudah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap, terdakwa tidak membayar uang pengganti tersebut, harta bendanya disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti.

JPU menilai Benny Tjokrosaputro terbukti menerima keuntungan Rp6,078 triliun. JPU menyatakan Benny Tjokrosaputro melakukan tindakan korupsi bersama-sama Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) 2008-2018 Hendrisman Rahim, Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018 Hary Prasetyo, Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan 2008-2014, pemilik PT Maxima Integra Investama Heru Hidayat dan “advisor” PT Maxima Integra Joko Hartomo Tirto.

Mereka melakukan pengaturan investasi dengan membeli saham dan Medium Term Note (MTN) yang dijadikan portofolio PT AJS baik secara “direct”, dalam bentuk kontrak pengelolaan dana (KPD), reksadana penyertaan terbatas (RDPT) maupun reksadana konvensional.

Perbuatan Benny Tjokro bersama-sama Heru Hidayat dan Joko Hartono Tirto melakukan kesepakatan dengan Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo dan Syahmirwan dalam pengelolaan investasi saham dan Reksadana PT AJS, tidak transparan dan tidak akuntabel.

Dengan begitu, seolah-olah dana hasil penjualan saham-saham dan MTN dari perusahaan-perusahaan yang dikendalikan Benny kepada PT AJS terlihat sah sebagai hasil investasi. Padahal, kata Jaksa, harta kekayaan terdakwa diperoleh dari tindak pidana korupsi bersama-sama Heru Hidayat, Joko Hartono Tirto, Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo dan Syahmirwan.

Sementara itu Bob Hasan, Kuasa Hukum Bentjok, menyebutkan persidangan perlu mendatangkan unsur-unsur lain yang diduga terlibat, termasuk kemungkinan Grup Bakrie yang dinilai sebagai dalang. Kepada pers, usai sidang tuntutan Kamis malam, ia mengatakan, kalau persidangan sehat, emiten panggil, Bakrie Group panggil. Jangan dosanya Bentjok saja yang dipanggil.

“Bentjok hanya punya MYRX dan itu nggak bisa dikendalikan karena punya 5 ribu pemegang saham. Termasuk Asabri dan Jiwasraya. Yang bisa dikendalikan Bentjok nominee-nominee [rekening nama alias] saja. Jadi jangan pakai atas nama MYRX kemudian semua MYRX dikendalikan Bentjok,” kata Bob Hasan.

Bob menjelaskan, bagaimana awal mula saham-saham ini bisa mencatatkan kerugian saham. Ia menolak tudingan kliennya sebagai dalang dalam kerugian dari investasi yang dilakukan Jiwasraya.

“Masak bisa dua, Heru Hidayat dan Benny Tjokro terus digandeng. Pada 2008, 2010, 2012 nggak ada Benny Tjokro. Pada 2015 baru ada. Dia repo [gadai saham] dengan Heru Hidayat. Heru Hidayat jual ke Jiwasraya. Itu sebenarnya modusnya kenapa mengapa saham Jiwasraya gemuk tapi unliquid. Kenapa? Karena transaksinya semu. Siapa yang lakukan? Yang pasti bukan klien saya. Klien saya korban,” sebut Bob seperti dikutip dari CNBCINdonesia, Jumat (16/10/2020). ***

 

Check Also

Empat Terdakwa Kasus Jiwasraya Divonis Seumur Hidup, Bagaimana Pantasnya Hukuman untuk Bentjok dan Heru
Pengamat Pasar Modal, Teguh Hidayat: hukuman pidana penjara empat terdakwa cukup maksimal. Untuk Benny Tjokro dan Heru Hidayat, dari sisi penyitaan aset harus jauh lebih besar

EmitenNews.com – Berapa hukuman yang pantas untuk dua tersangka kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya, Komisaris …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: