#
Suasana main hall gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: EmitenNews

Makro Domestik Ciamik, Risiko Sektor Keuangan Ada di AS

Emitennews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) awal pekan berhasil menguat. Pada penutupan perdagangan hari ini terjadi kenaikan sebesar 13,654 poin (0,241 persen) ke level 5.688,870 dan indeks LQ45 naik 5,73 poin (0,61 persen) ke level 952,46.

Volume perdagangan saham hari ini sebanyak 9,070 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 246.005 kali atau senilai Rp 7,071 triliun. Saham sektor keuangan menjadi motor penggerak setelah indeks saham sektor itu naik 0,65 persen hari ini.

Kenaikan tertinggi kedua diraih indeks saham sektor Consumer Goods sebesar 0,57 persen diikuti indeks saham sektor Manufaktur sebesar 0,44 persen, dan indeks saham sektor property dan real estate naik 0,32 persen.

Investor domestic ambil peran dalam kenaikan IHSG hari ini. Sebab investor asing justru mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 739,8 miliar hari ini. Investor asing secara year to date masih membukukan beli bersih sebesar Rp 27,387 triliun.

Mayoritas bursa saham unggulan di Asia juga menguat hari ini. Indeks Composite Shanghai naik 0,22 persen, indeks Hang Seng menguat 0,86 persen, indeks Straits Times naik 0,27 persen. Sebaliknya indeks Nikkei 225 menipis 0,07 persen.

Dari dalam negeri,, Defisit neraca berhalan (CAD) kuartal I/2017 mencapai minus USD 2,4 miliar atau minus 0,99 persen dari GDP. ”Sejalan dengan prediksi kami minus 0,8 persen hingga minus 1 persen,” ungkap Ekonom Mandiri Sekuritas, Leo Rinaldy, Senin (15/05).

Angka itu, menurutnya, sangat rendah dibanding rata-rata 2012 – 2017 yaitu minus 2,1 persen dari GDP pada periode yang sama. Ditambah dengan surplus neraca keuangan sebesar USD 7,9 miliar, neraca pembayaran mencatatkan surplus USD 4,5 miliar pada kuartal pertama 2017, lebih tinggi dibandingkan minus USD 0,3 miliar pada kuartal pertama 2016.

Surplus perdagangan tercatat mencapai USD 5,7 miliar pada kuartal pertama 2017, terbesar sejak kuartal empat 2011. Begitu juga surplus neraca keuangan mencapai USD 7,9 miliar, lebih tinggi dibanding kuartal pertama dan kuartal empat 2016.

”Secara keseluruhan, kami memutuskan untuk merevisi prediksi CAD tahun ini menjadi minus 1,7 persen GDP dari sebelumnya minus 2,2 persen GDP. Di samping kinerja CAD kuartal pertama 2017 yang meyakinkan, kami meyakini ekspor dapat bertahan daripada prediksi kami sebelumnya,” yakinnya.

Tidak hanya volume ekspor komoditas yang naik pada awal tahun ini. Barang manufaktur juga mencatatkan kenaikan ekspor sehingga mengindikasikan adanya perbaikan ekonomi struktural dari mitra perdagangan Indonesia seperti AS, Eropa, dan Jepang.

”Kami meyakini risiko terbesar untuk rupiah berasal dari sektor keuangan. Ketidakpastian global termasuk kajian the Fed untuk menurunkan utang dalam neracanya dan normalisasi suku bunga dapat memicu volatilitas nilai tukar,” Leo menyebut.

Pihaknya masih tetap memerediksi nilai tukar rupiah di Rp 13.400 per USD pada akhir tahun 2017. Prediksi itu sudah memertimbangkan kemungkinan bank sentral akan tetap menjaga nilai tukarnya di bawah nilai wajar.

Check Also

BEI: Hingga November 2020, Tercatat 46 Emiten Baru dan 20 Perusahaan Dalam Pipeline

EmitenNews.com – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa jumlah pencatatan efek baru masih bertumbuh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: