#
Ilustrasi gedung Bank Indonesia. Rencananya, Kamis (18/2/2021), BI mengumumkan BI 7-day Repo Rate bulan ini. Dalam pengumuman terakhir, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga. (Dok, Alamat Bank).

Mari Dorong BI Turunkan Suku Bunga Acuan, Ayo Berani Dong!
Dalam pengumuman terakhir, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga yang kini pada level 3,75 persen

EmitenNews.com – Mari kita dorong Bank Indonesia agar menurunkan suku bunga acuan. Rencananya, Kamis (18/2/2021), BI mengumumkan BI 7-day Repo Rate bulan ini. Dalam pengumuman terakhir, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga. Suku bunga acuan BI kini di level 3,75 persen, atau terendah sepanjang sejarah atau sejak diberlakukan di Indonesia, 21 April 2016. Ayo berani dong.

Terdapat sejumlah alasan untuk mendorong bank sentral menurunkan suku bunga acuannya. Dalam keterangannya kepada pers, yang dikutip Kamis (18/2/2021), Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, saat ini ataupun bulan depan, waktu yang tepat untuk menurunkan suku bunga. Menurut dia, momentum penurunan itu, lebih baik lebih cepat. “Kalau tidak bulan ini ya bulan depan.”

Josua Pardede beralasan, permintaan masih lemah yang ditandai rendahnya inflasi inti. Dengan demikian, penurunan suku bunga diharapkan bisa mendorong penurunan bunga kredit sehingga terjadi permintaan. Kemudian sisi keseimbangan eksternal yang tetap terjaga. Ini tergambarkan dari inflasi rendah dan stabilitas rupiah terjaga, sekaligus mendorong pemulihan ekonomi tahun 2021.

Meski ada ruang pelonggaran, menurut Josua Pardede, tidak akan sebanyak tahun lalu. Tetapi, kata dia, ruang di tahun ini terbatas, sekali saja untuk tahun ini. Misalnya pada bulan ini saja.

Dorongan agar suku bunga acuan segera diturunkan juga disuarakan oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira. Menurut dia, opsi penurunan sangat dimungkinkan. Ia sependapat, bila langkah penurunan yang diambil, akan mendorong bunga kredit perbankan menjadi lebih cepat disesuaikan.

Meski begitu Bhima Yudhistira mengingatkan, dampak di market yang perlu diantisipasi akan menimbulkan capital outflow, karena spread bunga SBN dan Treasury makin menipis. Jadi kurang menarik investasi pada instrumen berbasis bunga di Indonesia.

Sementara itu pelaku bursa tampaknya masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI dan The Fed yang dijadwalkan disampaikan hari ini. Analis saham dari Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, juga memperkirakan technical correction IHSG di hari sebelumnya masih berlanjut pada perdagangan Kamis ini. Ia berkesimpulan pelaku bursa menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI dan The Fed itu.

IHSG diperkirakan menguji critical area 6180-6220, sedangkan rentang support-resistance masih dipertahankan pada 6150-6300. Secara teknikal, potensi koreksi diindikasikan oleh terbentuknya death cross di overbought area pada indikator Stochastic RSI yang disertai penyempitan slope pada indikator MACD (17/2).

“Terlepas dari faktor teknikal, pergerakan IHSG dapat dipengaruhi oleh sikap antisipatif pelaku pasar terhadap pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis ini,” kata Valdy Kurniawan.

Menyoroti faktor eksternal, menurut Valdy, pelaku pasar mencermati data penjualan retail AS di Januari 2021 yang diperkirakan tumbuh 1.1 persen mom di Januari 2021, dibandingkan penurunan 0.7 persen mom di Desember 2020. Ia menyebutkan, masih dari AS, pelaku pasar juga mencermati rilis risalah pertemuan the Fed pada Kamis dini hari WIB. ***

Check Also

BI Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2021 Jadi 4,3-5,3 Persen

EmitenNews.com – Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 4,3-5,3 persen untuk keseluruhan tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: