#
Masyarakat menjajal MRT Jakarta, yang diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Jokowi, Minggu (24/3/2019). (Dok. Tagar News).

MRT Jakarta Resmi Beroperasi, Bang Yos Berterima Kasih pada Penerusnya
Proyek Infrastruktur berbiaya Rp16 triliun itu digagas sejak 1985, tetapi baru dituntaskan di era Gubernur Anies Baswedan

EmitenNews.com – Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso berterima kasih pada penerusnya –Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnomo, Djarot Saiful dan Anies Baswedan. Mereka dinilai bisa mewujudkan angan-angan Bang Yos, agar ibu kota memiliki transportasi massal nan keren, seperti MRT Jakarta. Minggu (24/3/2019) pagi, Presiden meresmikan MRT berbiaya Rp16 triliun itu.

“Terima kasih kepada beliau-beliau, karena sudah merealisasikan mimpi saya,” kata Bang Yos, begitu Sutiyoso disapa, kepada pers saat menghadiri peresmian pengoperasian moda raya terpadu (MRT).

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo meresmikan pengoperasian Moda Raya Terpadu (MRT) fase I Lebak Bulus-Bundaran HI, Minggu (24/3/2019). Lokasi peresmian MRT pertama di Tanah Air itu, di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, bertepatan dengan event car free day (CFD), hari bebas berkendara di kawasan padat lalu lintas di ibu kota itu.

Sutiyoso tak bisa menyembunyikan kegembiraannya atas pengoperasian mass rapid transit (MRT) itu. Ia terlihat lega, seperti ada beban yang udah terangkat. Kepada wartawan, Gubernur DKI 1997-2007 itu, menceritakan kisahnya 15 tahun lalu saat mencetuskan proyek MRT.

Pada 2003, Bang Yos mengaku sudah berpikir bagaimana mengatasi kemacetan di ibu kota. Dari survei pakar transportasi, saat itu hanya 20 persen kendaraan umum di Jakarta. Sisanya, 80 persen kendaraan pribadi yang memenuhi jalan-jalan, dan memacetkan arus lalu lintas di Jakarta. Itu belum termasuk kendaraan pribadi yang masuk dari kota-kota satelit Jakarta.

Setiap hari dari Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi sebanyak 600 ribu kendaraan masuk Jakarta. Itu asumsi 15 tahun lalu. Kalau sekarang mungkin sudah jutaan kendaraan dari kota-kota sekitar yang meramaikan ibu kota, setiap hari kerja. Rata-rata beralasan, kendaraan umum tidak layak, sehingga mereka lebih memilih naik kendaraan pribadi.

Saat itu untuk mengatasi kemacetan di wilayahnya, Sutiyoso studi banding ke beberapa kota di luar negeri. Salah satunya Bogota. Ibu Kota Kolombia itu dipilih karena awalnya kondisinya yang semrawut, persis seperti Jakarta. Bagusnya, mereka bisa menyelesaikan masalah itu dengan merealisasikan kendaraan umum yang representatif.

“Saya belajar dari sana, dan bahkan datangkan pakar asal Bugota untuk bekerja bersama pakar transportasi kita,” kata pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 6 Desember 1944 itu.

Kendaraan umum yang representatif itu, kendaraan pengangkut massal yang aman, nyaman, tepat waktu dan terjangkau. Sutiyoso lalu membuat empat perencanaan kendaraan umum representatif. Yaitu, bawah tanah MRT, di atasnya busway, di atas busway, monorel. Terakhir, sebagai alternative, water way, memanfaatkan kali di Jakarta untuk alternatif transportasi air.

Kalau ada yang bertanya, mengapa proses pembangunan MRT begitu lama, menurut Bang Yos, memang tidak bisa cepat, karena risetnya saja lama. Harus mencari tahu apakah tipe tanah di Jakarta cocok untuk dibangun MRT, lalu mencari investor, sebab ini proyek dengan nilai investasi besar.

Sejak 1985

Menghitung mundur dari peresmian pengoperasian MRT Jakarta, Minggu (24/3/2019) oleh Presiden Jokowi, sesungguhnya angkutan massal cepat di Indonesia ini memiliki sejarah panjang. Mengutip laman jakartamrt.co.id, Selasa (26/3/2019), proyek infrastruktur ini sudah digagas sejak 1985, di era Pemerintahan Orde Baru.

Data yang ada menunjukkan, lebih dari 25 studi subjek umum dan khusus yang dilakukan terkait dengan kemungkinan sistem MRT di Jakarta, yang ketika itu belum disebut sebagai proyek nasional. Termasuk dari Bang Yos yang studi banding sampai ke Bogota itu.

Desain proyek MRT baru dibuat medio 1995. Ada keterlibatan Prof. BJ. Habibie, ketika itu Menteri Riset dan Teknologi. Presiden ketiga RI itu, yang merancang dan menyusun sendiri dasar proyek MRT untuk rute Blok M. Sayangnya, proyek padat modal ini tak kunjung dibangun.

Krisis ekonomi dan politik dalam rentang tahun 1997-1999 ditengarai sebagai salah satu sebab proyek ini jalan di tempat. Barulah 26 April 2012, di zaman Gubernur Fauzi Bowo (7 Oktober 2007-7 Oktober 2012), titik terang pembangunan MRT mengemuka. Bang Foke meresmikan pencanangan persiapan pembangunan MRT, di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.

Bang Foke berharap MRT Jakarta menjadi ikon pembangunan, sekaligus sebagai alat transportasi nyaman, efisien dan ramah lingkungan. Ia memastikan, proyek tersebut bukan lagi mimpi karena sudah dimulai pencanangan pekerjaan persiapan pembangunan MRT Jakarta.

“Insya Allah tidak ada kendala berarti, karena persiapannya betul-betul sudah matang. Segala sesuatunya betul-betul siap. Barulah setelah itu, Pemprov yakin me-launching-nya secara resmi ke masyarakat,” kata Foke, yang kini ditunjuk menjadi Dubes RI di Jerman.

Tetapi, tak ada progres perkembangan signifikan, sampai Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2009 dan 2009-2014) pada 2005 di era Gubernur Sutiyoso menetapkan MRT sebagai proyek nasional. Sejak itu, pemerintah pusat dan daerah bergerak menindaklanjuti arahan presiden.

Saat DKI dipimpin Gubernur Fauzi Bowo, pemerintah provinsi DKI Jakarta meneken naskah perjanjian penerusan hibah proyek MRT dari pemerintah pusat. Langkah tersebut, kembali ditindaklanjuti pada kepemimpinan Jokowi  sebagai gubernur Jakarta.

Saat itu, lelang fisik MRT fase I Bundaran HI-Lebak Bulu dilakukan, komposisi pinjaman pun berubah. Jokowi yang terpilih sebagai Presiden RI (2014-2019), menyerahkan kekuasaannya kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Mulai ada progres menggembirakan. Pembebasan lahan berjalan, dengan pemberian insentif kepada pemilik lahan di sepanjang Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Ahok yang tersangkut kasus penistaan agama, dan harus menjalani hukuman penjaran terpaksa menyerahkan kursi gubernur ke Djarot Saiful Hidayat. Pada  2017, Djarot menandatangani aturan mengenai PT MRT Jakarta sebagai operator utama pengelola kawasan TOD koridor Utara-Selatan Fase 1 MRT.

Selanjutnya, Gubernur Anies Baswedan (2017-2022) menuntaskan perjalanan panjang proyek MRT Jakarta. Sebuah transportasi masal yang diharapkan menjadi jawaban, dan jalan keluar atas tingginya mobilitas pekerja di ibu kota. Dalam peresmiannya, Presiden Jokowi mencanangkan MRT Jakarta fase II.

Kereta Ratangga

Gubernur DKI Anies Baswedan dan jajaran PT MRT Jakarta memberi nama MRT rute Bundaran Hotel Indonesia-Lebak Bulus, Ratangga. Kepada pers, di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (10/12/2018), Dirut MRT William Sabandar mengatakan, Ratangga diambil dari puisi kitab Arjunawijaya dan kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular.

“Dalam bahasa Jawa kuno, arti ratangga, kereta perang yang identik dengan kekuatan dan pejuang. Nama Ratangga diharapkan bisa menjadi doa dari kereta MRT. Semoga Ratangga akan selalu teguh dan kuat mengangkut para pejuang Jakarta,” kata William Sabandar.

Menurut Gubernur Anies, nama Ratangga akan digunakan di seluruh rangkaian pada rute Bundaran HI-Lebak Bulus. Mantan Mendikbud itu ingin semangat penamaan menggunakan bahasa Indonesia ditiru instansi pemerintah lainnya. “Ratangga akan dipakai di semua rangkaian. Semua nanti yang akan naik ini adalah untuk Indonesia yang lebih baik.”

Rute Bundaran HI-Lebak Bulus akan menggunakan 16 rangkaian kereta. Hanya 14 yang akan beroperasi dan 2 sisanya menjadi cadangan. Kereta MRT Fase I akan melewati 13 stasiun dari Bundaran HI menuju Lebak Bulus.

Satu kereta bisa memuat 200 sampai 300 penumpang dengan jumlah maksimal sekitar 1.800 penumpang untuk satu rangkaian kereta, atau 6 gerbong kereta. Kecepatan rangkaian kereta MRT bisa mencapai 80 km/jam di bawah tanah dan meningkat hingga 100 km/jam di permukaan tanah. ***

 

Check Also

BPJS Ketenagakerjaan Bersalin Rupa dan Proklamirkan Nama Baru BP Jamsostek
Transformasi BPJS Ketenagakerjaan menjadi BP Jamsostek diharapkan bisa terus meningkatkan pelayanan cepat, akurat, dengan memanfaatkan teknologi

EmitenNews.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan bersalin rupa, dan memproklamirkan nama baru, BP …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: