#
Foto: FranchiseGlobal.com

Nasib MDRN Tanpa Bisnis Sevel

EmitenNews – Salah satu strategi dijalankan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) sejak 2015 adalah mengembalikan bisnis FUJI FILM kepada prinsipal FUJI FILM agar tercipta efisiensi dan fokus penuh pembangunan bisnis 7-Eleven (Sevel). Mulai besok (30/06) jaringan bisnis Sevel yang sudah jadi tulang punggung perseroan justru resmi ditutup. Lalu apa langkah selanjutnya?

Dalam laporan tahunan MDRN 2016 disebutkan bahwa Sevel memberikan kontribusi sebesar 75,7 persen dari total pendapatan perseroan. Sekitar 7 tahun sejak dibuka perdana pada 2009, penerimaan masyarakat terhadap ritel modern waralaba-nya itu dianggap positif.

Pada 2016, total penjualan konsolidasi perseroan sebesar Rp 891,4 miliar atau turun 27,45 persen dibandingkan Rp 1,228 triliun pada 2015. MDRN mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 638,720 miliar pada tahun lalu.

Bisnis Sevel dikelola oleh anak usaha yaitu PT Modern Sevel Indonesia (MSI). Di luar itu, anak usaha lain yang juga berkontribusi adalah PT Modern Data Solusi (MDS). Perusahaan penyedia solusi dokumen manajemen berbasis IT itu berkontribusi sebesar 10,1 persen dari total pendapatan 2016.

Produk perseroan antara lain untuk kebutuhan printing dari merek Ricoh, distributor alat kesehatan dari FUJI FILM Medical Imaging (Jepang), Shimadzu Medical Imaging (Jepang), dan Dental Imaging dari Sirona Dental Company (Jerman).

Dalam visi dan misi MDRN 2016 – 2018 disebutkan salah satunya adalah mereposisi bisnis perseroan untuk fokus pada bisnis ritel dan industri imaging. Selain itu juga menata ulang alokasi sumber daya manusia (SDM) dan menata kembali sutruktur organisasi. Tujuannya agar lebih efisien dan ramping.

Tujuan perampingan dari sisi SDM mungkin tercapai dari penutupan bisnis Sevel pada akhir bulan ini. Sebab dari total 1.605 karyawan MDRN pada 2016, mayoritas yaitu sebanyak 1.413 karyawan ada di bawah MSI yang merupakan pengelola 7-Eleven. Paling banyak adalah level staf yaitu 921 orang diikuti level Kepala Seksi sebanyak 243 orang, dan level Supervisor sebanyak 174 orang.

Tapi bagaimana dari sisi profitabilitas? Sevel menyumbang sebesar 75,7 persen dari total pendapatan MDRN pada 2016.

Selain MSI dan MDS, MDRN masih memiliki dua anak usaha lainnya yaitu PT Modern Photo Industry (MPI) dan PT Fresh Food Indonesia (FFI). Tapi bisnis FFI sangat tergantung kepada MSI karena perannya adalah sebagai central kitchen yang memeroduksi makanan untuk dijajakan di Sevel.

Maka tersisa dua entitas anak yang masih berpotensi melakukan penjualan yaitu MDS dan MPI. Tidak heran jika pasar kemudian merespon sangat negatif kabar penutupan Sevel itu.

Harga saham MDRN kini bersandar di batas harga terendah yaitu Rp 50 per saham sebagai lanjutan dari tren bearish yang terjadi sejak beberapa bulan belakangan ini. Terutama ketika diawali dengan terus tersiarnya kabar penutupan sejumlah gerai Sevel yang dianggap tidak produktif sebagai bagian dari upaya efisiensi dan restrukturisasi.

Pada 2016 saja MSI telah melakukan penutupan sebanyak 25 gerai Sevel yang dinilai tidak berperforma baik untuk mengurangi kerugian akibat biaya operasi. Total, pada tahun itu, tersisa sebanyak 161 gerai Sevel yang masih aktif beroperasi.

Jumlah saham MDRN yang beredar di publik cukup banyak, mencapai 35,13 persen. Pemegang saham terbesar adalah PT Bukit Hedama Permai (26,64 persen) diikuti Asialink Electronics Pte Ltd (13,18 persen), CIMB Private Equity SDN BHD / Slurpee (9,09 persen), Morgan Stanley & Co Intl PLC – IPB Client Account (8,42 persen), dan PT Inti Putra Modern (7,54 persen).

Melihat besarnya kepemilikan saham publik dan dampak terhadap SDM yang cukup besar, keberlangsungan bisnis MDRN menjadi perhatian.

Khusus untuk SDM, manajemen MDRN memang sudah menyatakan untuk menyelesaikannya segera melalui mekanisme yang berlaku. ”Hal-hal material yang berkaitan dan yang timbul sebagai akibat dari pemberhentian operasional 7-Eleven ini akan ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku dan akan diselesaikan secepatnya,” ungkap Direktur MDRN, Chandra Wijaya, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 Juni 2017.

Namun dalam prinsip tata kelola perusahaan yang baik, MDRN belum menyebut rencana bisnis selanjutnya terutama berkaitan dengan kepentingan pemegang saham (shareholders) dan pihak terkait lainnya (stakeholders).

”Kita akan minta jawaban dari mereka (MDRN) mungkin next week. Kita minta mereka lebih terbuka kok,” ucap Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, hari ini (29/06).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat, berpendapat sama. MDRN sebaiknya memang mengungkapkan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan publik atas keputusan menutup jaringan bisnis Sevel itu. ”Coba minggu depan kita cek,” imbuhnya.

Check Also

Kuartal III 2020, Penjualan PT Saraswanti Anugerah Makmur (SAMF) Capai Rp994 Miliar

EmitenNews.com- PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF) menyatakan Kondisi pandemi Covid-19 turut mempengaruhi banyak sektor …

%d bloggers like this: