20-30 Persen Energi Masih Impor, Mayoritas untuk Transportasi
Saat ini sekitar 20–30% energi di Indonesia masih impor, mayoritas berupa minyak untuk sektor transportasi.
EmitenNews.com - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mempercepat adopsi energi bersih. Saat ini pemerintah melaksanakan berbagai program biofuel seperti biodiesel, bioetanol, bioavtur/SAF, dan green diesel atau hydrotreated vegetable oil (HVO).
Eniya mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan penerapan E10 di tahun 2028. “Keberhasilan implementasinya perlu dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, terutama dalam peningkatan infrastruktur pendukung,” ujarnya.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rachmat Kaimuddin turut menekankan pentingnya keseimbangan antara ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.
“Kami ingin mengeliminasi impor energi. Saat ini sekitar 20–30% energi di Indonesia masih impor, mayoritas berupa minyak untuk sektor transportasi. Dengan target pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2030, kami berupaya menjaga keberlanjutan fiskal nasional,” tuturnya.
Director General of Manufacturing Industries Bureau METI, Tanaka Kazushige menyampaikan bahwa Indonesia memegang peranan penting sebagai basis industri dan ekspor otomotif di kawasan Asia.
“Kami percaya bahwa kombinasi antara kekayaan sumber daya bioenergi Indonesia dan keunggulan teknologi Jepang akan membawa masa depan otomotif yang lebih cerah. Kerja sama ini bukan hanya antar pemerintah, tetapi juga melibatkan sektor swasta,” ungkapnya.
Forum ini juga membahas inisiatif kerja sama teknis dalam Biofuel Co-Creation Task Force antara METI, JAMA, dan Kementerian ESDM, yang menitikberatkan pada pengujian dan standardisasi bahan bakar E10 dan B50 serta rencana produksi etanol dan hydrotreated vegetable oil (HVO) pada 2027.
Keisuke Hosonuma dari METI menjelaskan bahwa Jepang menargetkan penerapan E10 pada 2030 dan E20 pada 2040, sementara Hitoshi Hayashi dan Yosuke Nomura dari JAMA menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah Indonesia, Pertamina, GAIKINDO, dan JAMA untuk memperkuat kebijakan biofuel nasional serta mendorong transisi energi bersih melalui pendekatan multiple pathways.
Edi Wibowo dari Kementerian ESDM dan Lies Aisyah dari LEMIGAS memaparkan kemajuan program biofuel nasional, termasuk implementasi B40 dan persiapan uji B50 yang didukung proyek Cilacap dan Plaju Green Refinery.
Partisipasi industri juga terlihat dari PT Kilang Pertamina Internasional yang menampilkan keunggulan produk Pertamina Renewable Diesel (HVO), serta Asosiasi Produsen Spiritus dan Ethanol Indonesia (APSENDO) yang menyoroti potensi molases sebagai bahan baku bioetanol nasional.(*)
Related News
Wamenkeu: Tarif Layanan Seharusnya Bukan Fokus Cari Untung
Aset Perbankan Syariah Capai Angka Tertinggi Sepanjang Masa
Sektor Halal Value Chain Tumbuh 6,2 Persen Pada 2025
PTBA Targetkan Kapasitas Produksi 100 Juta Ton
Berlaku 2027, AHY: Kebijakan ODOL Tak Boleh Hanya Sasar Pengemudi
Periksa! Ini 10 Saham Top Losers dalam Sepekan





