EmitenNews.com - Perekonomian Indonesia mengawali Triwulan IV 2026 dengan catatan positif melalui penguatan tiga indikator utama, yakni inflasi yang terkendali, neraca perdagangan yang konsisten surplus, serta kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan pada Rabu (7/10), Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia periode September 2026 melesat ke level 52,4 dari posisi 49,8 pada Agustus. Lonjakan ini didorong pertumbuhan pesanan baru tercepat sejak Februari 2026 dan pesanan ekspor tertinggi sejak Mei 2022, seiring membaiknya daya beli serta masuknya proyek baru.

"Ke depan, kebijakan Pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat," kata Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto.

Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus kumulatif sebesar USD7,25 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Penopang utama ekspor ditorehkan oleh komoditas besi dan baja sebesar USD19,18 miliar atau tumbuh 4,88 persen, CPO dan turunannya senilai USD17,75 miliar atau naik 6,57 persen, serta batu bara sebesar USD16,58 miliar yang tumbuh 4,31 persen. Ekspor industri pengolahan juga mencatatkan kenaikan 6,62 persen sebagai dampak positif hilirisasi.

Sementara itu, total impor didominasi oleh bahan baku atau penolong senilai USD133,38 miliar dan barang modal sebesar USD36,74 miliar, yang secara gabungan menyumbang 91,3 persen dari keseluruhan impor. Kenaikan impor mesin atau peralatan mekanis sebesar 15,26 persen dan peralatan elektrik sebesar 22,94 persen menandakan peningkatan kebutuhan input produksi serta investasi domestik.

Pada indikator harga, inflasi September 2026 terjaga di angka 3,28 persen (yoy), masih berada dalam rentang target nasional 2,5 plus minus 1 persen. Inflasi inti melandai ke tingkat 2,84 persen (yoy), sedangkan komponen Administered Prices turun menjadi 3,25 persen (yoy). Namun, inflasi Volatile Food masih menembus 5,03 persen (yoy) akibat dinamika permintaan serta penurunan produksi hortikultura terdampak cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.

"Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03 persen (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam," ujar Haryo.

Guna menekan gejolak harga pangan dan menjaga daya beli, pemerintah mempercepat penyaluran PKH Tahap III, Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan untuk periode Oktober hingga Desember 2026, serta optimalisasi SPHP beras medium melalui Perum Bulog dan Gerakan Pangan Murah.(*)